Para Ulama Menolak Tata Cara Shalat Tarawih 4 Rakaat Satu Salam

Banyak orang mengerjakan shalat Tarawih dengan cara 4 rakaat sekali salam dengan dalil hadis Siti Aisyah sebagai berikut:

  مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَة يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي. 

Artinya: Rasulullah tidak pernah melakukan shalat malam (sepanjang tahun) pada bulan Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari 11 rakaat. Beliau shalat 4 rakaat jangan engkau bertanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat 4 rakaat jangan engkau bertanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat 3 rakaat. Kemudian aku bertanya ”Ya Rasulullah apakah kamu tidur sebelum shalat Witir”? Kemudian beliau menjawab: ”Aisyah, meskipun kedua mataku tidur, hatiku tidaklah tidur”.

Banyak orang terkecoh dan terjebak dalam memahami penjelasan Imam Muhammad al-Shan’âniy dalam kitab Subul al-Salâm Syarh Bulûgh al-Marâm, sehingga mereka mengatakan tata cara shalat Tarawih dengan 4 rakaat sekali salam disebutkan dalam kitab itu. Untuk menjawab tuduhan itu, mari kita lihat secara langsung redaksi Imam Muhammad al-Shan’âniy, sebagai berikut:

 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ثُمَّ فَصَّلَتْهَا بِقَوْلِهَا ( يُصَلِّي أَرْبَعًا ) يُحْتَمَلُ أَنَّهَا مُتَّصِلَاتٌ وَهُوَ الظَّاهِرُ وَيُحْتَمَلُ أَنَّهَا مُنْفَصِلَاتٌ وَهُوَ بَعِيدٌ إلَّا أَنَّهُ يُوَافِقُ حَدِيثَ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى .

Artinya; Rasulullah tidak pernah melakukan shalat malam (sepanjang tahun) pada bulan Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari 11 rakaat. Kemudian Siti A’isyah merincikan  shalat Rasulullah dengan perkataannya:”Beliau shalat 4 rakaat”. Redaksi ini memiliki kemungkinan 4 rakaat dilakukan sekaligus dengan 1 salam, ini adalah yang zhahir, dan juga bisa dipahami 4 rakaat itu dilakukan secara terpisah (2 rakaat- 2 rakaat), tetapi pemahaman ini jauh hanya saja ia sesuai dengan hadis Shalat malam itu dilakukan dengan 2 rakaat- 2 rakaat.[1]

Maksud perkataan Imam Muhammad al-Shan’âniy:” 4 rakaat dilakukan dengan sekali salam, dipahami menurut zhahir/tekstual hadis. Sedangkan pelaksanaan 4 rakaat dengan 2 salam menjadi jauh bila tidak ada keterangan dari hadis lain. Tetapi 4 rakaat dengan cara 2 salam memiliki kekuatan dengan adanya keterangan hadis Shalat malam itu dilakukan dengan 2 rakaat- 2 rakaat.Dalam hal ini Imam Syafii mengatakan dalam kitab al-Risâlah sebagai berikut:

 فَكُلُّ كَلَامٍ كَانَ عَامًا ظَاهِرًا فِي سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ فَهُوَ عَلَى ظُهُوْرِهِ وَعُمُوْمِهِ حَتَّى يُعْلَمَ حَدِيْثٌ ثَابِتٌ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ .

Artinya: “Setiap perkataan Rasulullah dalam hadis yang bersifat umum/zhahir diberlakukan kepada arti zhahir dan umumnya sehingga diketahui ada hadis lain yang tetap dari Rasulullah”.[2]

Maksud dari  perkataan Imam Syafii adalah redaksi hadis yang masih bersifat umum/zhahir, boleh-boleh saja dipahami demikian adanya, dengan catatan selama tidak ada keterangan lain dari hadis Rasulullah. Tetapi bila ditemukan hadis Rasulullah yang menjelaskan redaksi zhahir dan umum satu hadis, maka hadis tersebut tidak boleh lagi dipahami secara zhahir dan umum.Jika hendak dipertentangkan, hadis tentang shalat yang dikerjakan 2-2 lebih kuat dan lebih banyak diamalkan oleh umat sebab ia merupakan hadis Qauliy (perkataan Nabi) dalam riwayat lain dikatakan juga sebagai hadis Fi’liy (perbuatan Nabi), sedangkan hadis Siti Aisyah 4-4 hanya merupakan hadis Fi’liy (perbuatan Nabi).

Ketika terjadi perbedaan antara perkataan Nabi dengan perbuatannya maka yang harus dilakukan umatnya adalah mengamalkan apa yang diperintahkannya (perkataannya), sebabnya adalah lantaran perbuatan Nabi bisa jadi merupakan kekhususan bagi beliau yang tidak berlaku bagi umatnya. Contohnya adalah tentang kandungan surat annisa ayat 3 sebagai perintah Nabi kepada para sahabat dan umatnya agar tidak memiliki istri lebih dari 4 orang. Padahal beliau sendiri di akhir hayatnya meninggalkan 9 orang istri. Dalam hal ini yang berlaku adalah kita tetap tidak boleh memiliki istri lebih dari 4. Sementara beristri lebih dari 4 merupakan kekhususan yang hanya boleh bagi Nabi. Dengan kaidah ini, maka mengerjakan shalat malam dengan 2-2 rakaat lebih tepat ketimbang mengerjakannya dengan 4-4 rakat sekali salam, sebab bisa jadi shalat 4-4 rakaat merupakan sesuatu yang khusus bagi Nabi.

Masih ada cara lain yang paling mudah untuk memahami hadis Siti Aisyah yakni dengan mencari ucapan Aisyah sendiri pada lain kesempatan. Kita tentu berhak mempertanyakan kembali apakah yang dimaksud Siti Aisyah 4 rakaat benar-benar sekali salam??? Ternyata Siti Aisyah sendiri sebagai periwayat hadis 4-4 menjelaskan dalam hadis lain bahwa yang dimaksud dengan 4 rakaat pelaksanaannya adalah dengan 2-2. Perhatikanlah penjelasan Siti Aisyah pada hadis berikut ini:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِيمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلَاةِ الْعِشَاءِ وَهِيَ الَّتِي يَدْعُو النَّاسُ الْعَتَمَةَ إِلَى الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُسَلِّمُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَيُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ فَإِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ مِنْ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَتَبَيَّنَ لَهُ الْفَجْرُ وَجَاءَهُ الْمُؤَذِّنُ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ثُمَّ اضْطَجَعَ عَلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ حَتَّى يَأْتِيَهُ الْمُؤَذِّنُ لِلْإِقَامَةِ.

Artinya: Dari Aisyah berkata: ”Seringkali Rasulullah melakukan shalat antara selesai shalat Isya yang disebut orang dengan shalat ’Atamah sampai Fajar beliau mengerjakan shalat 11 rakaat, beliau melakukan salam pada tiap 2 rakaat dan melakukan 1 rakaat Witir. Apabila seorang Muadzzin selesai dari azan shalat Shubuh yang menandakan fajar telah datang, Muadzzin tersebut mendatangi beliau beliau pun melakukan shalat 2 rakaat ringan setelah itu beliau berbaring (rebah-rabahan) atas lambungnya yang kanan sampai Muadzzin itu mendatangi beliau untuk Iqamah.Hadis tersebut disebutkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya hadis no: 1216, Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak hadis no: 1671, Imam al-Darimiy dalam sunannya hadis no: 1447, Imam al-Bayhaqiy dalam al-Sunan al-Shughra hadis no: 600, al-sunan al-Kubra hadis no: 4865 dan Ma’rifah Sunan Wa al-Atsar hadis no: 1435.>>

Dalam risalah الجـواب الصحيح لمن صلى أربعا بتسليمة من التراويــح, penulis telah sebutkan lebih dari 80 kitab Mu’tabar dari berbagai cabang ilmu, baik dari keterangan kitab Syarh hadis, fiqh, Ushul Fiqh dan Taswwuf, yang menyatakan bahwa shalat Tarawih yang dikerjakan dengan 4 rakaat sekali salam itu tidak sah. Di antaranya:

1.  Imam Nawawiy al-Dimasyqiy:

يَدْخُلُ وَقْتُ التَّرَاوِيْحِ بِالْفَرَاغِ مِنْ صَلاَةِ الْعِشَاءِ ذَكَرَهُ الْبَغَوِيُّ وَغَيْرُهُ وَيَبْقَى إِلَى طُلُوْعِ اْلفَجْرِ وَلْيُصَلِّهَا رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ كَمَا هُوَ اْلعَادَةُ فَلَوَْصَلَّي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ بِتَسْلِيْمةٍ لَمْ يَصِحَّ ذَكَرَهُ الْقَاضِى حُسَيْنٌ فيِ فَتَاوِيْهِ ِلاَنَّهُ خِلاَفُ الْمَشْرُوْعِ قَالَ وَلاَ تَصِحُّ بِنِيَّةٍ مُطْلَقَةٍ بَلْ يَنْوِى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ أَوْ صَلاَةَ التَّرَاوِيحِ أَوْ قِيَامَ رَمَضَانَ فَيَنْوِيْ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ مِنْ صَلاَةِ التَّرَاوِيحِ . )المجموع شرح المهذب: ج 4 ص : 38 (دار الفكر 2000)

Artinya:”Masuk waktu shalat Tarawih itu setelah melaksanakan shalat Isya. Imam al-Baghawi dan lainnya menyebutkan: “waktu tarawih masih ada sampai terbit fajar”. Hendaklah seseorang mengerjakan shalat Tarawih dengan dua rakaat- dua rakaat, sebagaimana kebiasaan shalat sunah lainnya. Seandainya ia shalat dengan 4 rakaat dengan satu salam, maka shalatnya tidak sah. Hal ini telah dikatakan oleh al-Qâdhi Husain dalam fatwanya, dengan alasan hal demikian menyalahi aturan yang telah disyariatkan. Al-Qâdhi juga berpendapat seorang dalam shalat Tarawih ia tidak boleh berniat mutlak, tetapi ia berniat dengan niat shalat sunah Tarawih, shalat Tarawih atau shalat Qiyam Ramadhan. Maka ia berniat pada setiap 2 rakaat dari shalat Tarawih.

2.  Imam Ahmad Ibn Hajar al-Haytamiy:

اَلتَّرَاوِيْحُ  عِشْرُوْنَ رَكْعَةً , وَيَجِبُ  فِيْهَا أَنْ تَكُوْنَ  مَثْنَى  بِأَنْ  يُسَلِّمَ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ , فَلَوْ صَلَّى أَرْبَعًا بِتَسْلِيْمَةٍ لَمْ يَصِحَّ لِشِبْهِهَا بِاْلفَرْضِ فِي طَلَبِ الْجَمَاعَةِ فَلاَ تُغَيَّرُ عَمَّا وَرَدَ بِخِلاَفِ  نَحْوِ سُنَّةِ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ . )فتح الجواد شرح الارشاد:ج  1 ص : 163 (مكتبة اقبال حاج ابراهيم سيراغ ببنتن 1971)

Artinya: Shalat Tarawih itu 20 rakaat, wajib dalam pelaksanaanya dua-dua, dikerjakan dua rakaat-dua rakaat. Bila seseorang mengerjakan 4 rakaat dengan satu salam, maka shalatnya tidak sah karena hal tersebut menyerupai shalat fardhu dalam menuntut berjamaah, maka jangan dirubah keterangan sesuatu yang telah warid (datang). Lain halnya dengan shalat sunah Zuhur dan Ashar (boleh dikerjakan empat rakaat satu salam) atas Qaul Mu’tamad.

3.  Imam Muhammad Ibn Ahmad al-Ramliy:                

وَلَا تَصِحُّ بِنِيَّةٍ مُطْلَقَةٍ كَمَا فِي الرَّوْضَةِ بَلْ يَنْوِي رَكْعَتَيْنِ مِنْ التَّرَاوِيحِ أَوْ مِنْ قِيَامِ رَمَضَانَ .وَلَوْ صَلَّى أَرْبَعًا بِتَسْلِيمَةٍ لَمْ يَصِحَّ إنْ كَانَ عَامِدًا عَالِمًا ، وَإِلَّا صَارَتْ نَفْلًا مُطْلَقًا ؛ لِأَنَّهُ خِلَافُ الْمَشْرُوعِ.) نهاية المحتاج شرح المنهاج : ج  1  ص :127  (دار الفكر 2004)

Artinya: Tidak sah shalat Tarawih dengan niat shalat Mutlak, seharusnya seseorang berniat Tarawih atau Qiyam Ramadhan dengan mengerjakan salam pada setiap 2 rakaat. Seandainya seseorang shalat Tarawih dengan 4 rakaat satu salam, jika ia sengaja-ngaja dan mengetahui maka shalatnya tidak sah. Kalau tidak demikian maka shalat itu menjadi shalat sunah Mutlak, Karena menyalahi aturan yang disyariatkan”.

4.  Imam Muhammad al-Zarkasyiy:

صَلاَةُ التَّرَاوِيْحِ وَهِيَ عِشْرُونَ رَكْعَةً بِعَشْرِ تَسْلِيْمَاتٍ وَحَكَى الرُّوْيَانِيُّ عَنِ اْلقَدِيْمِ أَنَّهُ لاَحَصْرَ لِلتَّراوِيْحِ وَهُوَ غَرِيْبٌ . وَيُسَلِّمُ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَلَوْ صَلَّى أَرْبَعًا بِتَسْلِيْمَةٍ لَمْ يَصِحَّ ذَكَرَهُ فِي التَّحْقِيْقِ وِثَاقًا لِلْقَاضِي حُسَيْنٍ فِي فَتَاوِيْهِ وَلِأَهْلِ الْمَدِيْنَةِ فَعْلُهَا سِتًّا وَثَلاَثِيْنَ قَالَ الشَّافِعِيُّ وَاْلأَصْحَابُ : مِنْ خَصَائِصِهِمْ . (الديباج في توضيح المنهاج : ج 1 ص : 198 (دار الحديث 2005)

Artinya: Shalat Tarawih dikerjakan 20 rakaat dengan 10 salam. Imam al-Rûyâniy menghikayatkan pendapat dari Qaul Qadim ”Sesungguhnya pernyataan shalat Tarawih tidak ada batasan adalah pendapat yang Gharib (aneh)”. Seseorang yang mengerjakan shalat Tarawih hendaknya memberi salam pada tiap 2 rakaatnya. Seandainya seseorang shalat 4 rakaat dengan satu salam, maka shalatnya tidak sah. Imam Nawawiy al-Dimasyqiy telah menyebutkan hal itu dalam kitabnya al-Tahqîq, yang bersandar kepada al-Qâdhi Husain dalam fatâwanya. Adapun penduduk kota Madinah mereka mengerjakan shalat Tarawih 36 rakaat. Imam Syafii dan para pengikutnya berkata:” Khusus bagi penduduk Madinah saja”.

5.  Imam Ahmad Ibn Muhammad al-Qasthallaniy:

وَ فُهِمَ مِمَّا سَبَقَ مِنْ أَنَّها بِعَشْرِ تَسْلِيْمَاتٍ أَنَّهُ لَوْ صَلَّاهَا أَرْبَعًا أَرْبَعًا بِتَسْلِيمَةٍ لَمْ يَصِحَّ ، وَبِهِ صَرَّحَ فِي الرَّوْضَةِ لِشَبَهِهَا بِالْفَرْضِ فِي طَلَبِ الْجَمَاعَةِ فَلَا تُغَيَّرُ عَمَّا وَرَدَ .)ارشاد الساري شرح صحيح البخاري  :  ج 3 ص : 426 (دار الفكر 1984)

Artinya: “Dipahami dari ungkapan yang lalu sesungguhnya shalat Tarawih itu pelaksanaannya dengan 10 kali salam, Seandainya seseorang shalat Tarawih dengan 4 rakaat sekali salam, maka shalat Tarawihnya tidak sah. Seperti inilah keterangan yang telah dijelaskan oleh Imam Nawawiy dalam kitab al-Rawdhah, Karena shalat Tarawih menyerupai shalat fardhu dalam menuntut berjamaah (tiap 2 rakaat melakukan Tasyahhud), maka jangan dirubah keterangan sesuatu yang telah warid (datang).”

6.  Imam Zakariya al-Anshariy:

وَسُمِّيَتْ كُلُّ أَرْبَعٍ مِنْهَا تَرْوِيحَةً لِأَنَّهُمْ كَانُوا يَتَرَوَّحُونَ عَقِبَهَا أَيْ : يَسْتَرِيحُونَ ، وَلَوْ صَلَّى أَرْبَعًا بِتَسْلِيمَةٍ لَمْ يَصِحَّ لِأَنَّهَا بِمَشْرُوعِيَّةِ الْجَمَاعَةِ فِيهَا أَشْبَهَتْ الْفَرِيضَةَ فَلَا تُغَيَّرُ عَمَّا وَرَدَ . )فتح الوهاب شرح منهج الطلاب:  ج1 ص : 58 ( منارا قدس د ت)

Artinya: Pada setiap 4 rakaat dinamai satu Tarwihah karena para sahabat bersantai-santai setelahnya artinya beristirahat. Jika seseorang shalat Tarawih 4 rakaat dengan satu salam maka tidak sah, karena anjuran berjamaah pada shalat Tarawih menyerupai shalat fardhu, maka jangan diubah aturan yang telah ada keterangannya.”

7.  Imam Jalaluddin Muhammad al-Mahalliy:

( وَمَعْنَى الشَّرْعِيِّ ) الَّذِي هُوَ مُسَمَّى مَا صَدَقَ الْحَقِيقَةُ الشَّرْعِيَّةُ ( مَا ) ، أَيْ : شَيْءٌ ( لَمْ يُسْتَفَدْ اسْمُهُ إلَّا مِنَ الشَّرْعِ ) كَالْهَيْئَةِ الْمُسَمَّاةِ بِالصَّلَاةِ ( وَقَدْ يُطْلَقُ ) ، أَيْ : الشَّرْعِيُّ ( عَلَى الْمَنْدُوبِ ، وَالْمُبَاحِ ) ، وَمِنْ الْأَوَّلِ قَوْلُهُمْ مِنْ النَّوَافِلِ مَا تُشْرَعُ فِيهِ الْجَمَاعَةُ ، أَيْ : تُنْدَبُ كَالْعِيدَيْنِ . وَمِنْ الثَّانِي قَوْلُ الْقَاضِي الْحُسَيْنِ لَوْ صَلَّى التَّرَاوِيحَ أَرْبَعًا بِتَسْلِيمِة لَمْ تَصِحَّ ؛ لِأَنَّهُ خِلَافُ الْمَشْرُوعِ .)  شرح جمع الجوامع : ج 1 ص : 304 (مطبعة مصطفى البابي الحلبي 1973)

Artinya: Makna Syar’i itu dinamakan sesuatu yang berbetulan dengan hakikat syara’ adalah sesuatu yang tidak dipahami namanya melainkan dari syara’ seperti bentuk shalat. Digunakan juga makna syar’i  itu atas perbuatan yang mandub dan mubah, dari definisi pertama para ulama berpendapat shalat sunah yang disyari’atkan berjamaah artinya disunahkan berjamaah seperti shalat dua hari raya idul fitri dan idul Adha. Dari definisi kedua ini perkataan al-Qadhi Husein yang mengatakan “Seandainya ia mengerjakan shalat Tarawih dengan 4 rakaat dengan satu salam, maka shalat Tarawihnya tidak sah”.

8.  Imam Jalaluddin Abdurrahman al-Suyuthiy:

(وَيَقُوْمُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ بِعِشْرِيْنَ رَكْعَةً) بِعَشْرِ تَسْلِيْمَاتٍ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ بَيْنَ صَلاَةِ اْلعِشَاءِ وَ طُلُوْعِ اْلفَجْرِ، فَلَوْ صَلَّى أَرْبَعًا بِتَسْلِيْمَةٍ لَمْ يَصِحَّ، كَمَا نَقَلَهُ فِي الرَّوْضَةِ عَنِ الْقَاضِي حُسَيْنٍ وَأَقَرَّهُ ِلأَنَّهُ خِلاَفُ اْلمَشْـرُوْعِ .) شرح التنبيه في فروع الفقه الشافعي:ج 1 ص : 134 (دار الفكر 1996)

Artinya: “Seseorang mengerjakan shalat Tarawih pada tiap malam bulan Ramadhan dengan 10 kali salam pada tiap malam antara shalat Isya sampai terbit fajar. Jika seseorang shalat Tarawih 4 rakaat dengan satu salam maka hukumnya tidak sah. Sebagaimana Imam Nawawi menukilkannya dalam kitab Rawdhah dari al-Qadhi Husain dan beliau menetapkan hal itu karena menyalahi aturan yang disyariatkan”.

9.  Imam Abdur Rauf al-Munawiy

(يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ) اَيْ اِنَّهُنَّ مِنْ كَمَالِ الطُّوْلِ وَالْحُسْنِ عَلَى غَايَةٍ ظَاهِرَةٍ مُغْنِيَةٍ عَنِ السُّؤَالِ اَيْ اِنَّهُنَّ فِي غَايَةِ الْحُسْنِ وَ الطُّوْلِ بِحَيْثُ يُعْجِزُ الِّلسَانُ عَنْ بَيَانِهَا , فَمَنْعُ السُّؤَالِ كنِاَيَةٌ عَنِ الْعَجْزِ عَنِ الْجَوَابِ . وَالْمُرَادُ أَنَّهُ صَلَّى أَرْبَعًا بِتَسْلِيْمَتَيْنِ لِيُوَافِقَ خَبَرَ زَيْدِ السَّابِقِ وَاِنَّمَا جُمِعَ اْلأَرْبَعُ لِتَقَارِبِهَا طُوْلاً وَحُسْنًا لاَ لِكَوْنِهِمَا بِسَلاَمٍ وَاحِدٍ .شرح الشمائل المحمدية ج 2 ص : 91 (دار الأقصى 1988)

Artinya: Beliau shalat 4 rakaat, jangan anda tanya bagaimana bagus dan lamanya beliau shalat. Artinya 4 rakaat yang beliau lakukan tergolong dari saking sempurna lama dan eloknya atas puncak yang zhahir yang tidak butuh pertanyaan, artinya 4 rakaat tersebut menggambarkan puncak keelokan dan lamanya waktu dari segi lidah akan payah dari menjelaskannya. Penolakan Aisyah dari pertanyaan orang yang bertanya merupakan kiasan dari tidak mampunya Aisyah untuk memberikan jawaban. Yang dimaksud Rasulullah shalat 4 rakaat itu dikerjakan dengan 2 salam agar menjadi sesuai dengan keterangan hadis dari Zaid yang telah lalu. Hanya sanya digabungkan penyebutan 4 rakaat karena berdekatan antara keduanya dalam hal lama dan eloknya, bukan berarti 4 rakaat itu dipahami dengan satu salam.

10.  Imam Zaynuddin al-Malibariy:

(وَ) صَلاَةُ (التَّرَاوِيْحِ) وَهِيَ عِشْرُوْنَ رَكْعَةً بِعَشْرِ تَسْلِيْمَاتٍ، فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، لِخَبَرِ: مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاْحتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. وَيَجِبُ التَّسْلِيْمُ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ، فَلَوْ صَلَّى أَرْبَعًا مِنْهَا بِتَسْلِيْمَةٍ لَمْ تَصِحَّ ، بِخِلاَفِ سُنَّةِ الظُّهْرِ وَاْلعَصْرِ وَالضُّحَى وَاْلوِتْرِ. وَيَنْوِي بِهَا التَّرَاوِيْحَ أَوْ قِيَامَ رَمضَانَ) . فتح المعين شرح قرة العين بمهمات الدين:  ص : 33( منارا قدس د ت)

Artinya: Shalat Tarawih 20 rakaat dengan 10 kali salam pada setiap malam di bulan Ramadhan. Karena ada hadis: Siapa saja melaksanakan Qiyam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka dosanya yang terdahulu di ampuni. Wajib setiap 2 rakaat mengucapkan salam. Jika seseorang shalat Tarawih 4 rakaat dengan satu salam maka hukum shalat Tarawihnya tidak sah. Berbeda  dengan shalat sunah Zuhur,  Ashar, Dhuha dan witir. Seharusnya bagi yang mengerjakan shalat Tarawih, ia berniat dengan niat Tarawih atau Qiyam Ramadhan.

11.  Imam Muhammad Ibn Qasim

اَلتَّرَاوِيحُ وَهِيَ عِشْرُوْنَ رَكْعَةً بِعَشْرِ تَسْلِيْمَاتٍ فيِ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ وَجُمْلَتُهَا خَمْسُ تَرْوِيْحَاتٍ, وَيَنْوِيْ الشَّخْصُ بِكُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّرَاوِيْحَ أَوْ قِيَامَ رَمَضَانَ, فَلَوْ صَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ بِتَسْلِيْمَةٍ وَاحِدَةٍ لَمْ تَصِحَّ . )فتح القريب المجيب شرح متن غاية والتقريب  ص : 13 ( منارا قدس د ت)

Artinya: Shalat Tarawih dikerjakan 20 rakaat, terdiri dari 10 salam pada tiap malam bulan Ramadhan. Jumlahnya 5 tarwihah (istirahat). Seseorang yang mengerjakannya ia berniat tiap 2 rakaat akan shalat Tarawih atau Qiyam Ramadhan. Jika ia shalat Tarawih dengan 4 rakaat satu salam maka shalat Tarawihnya tidak sah .

12.  Imam Murtadha Muhammad  al-Zabidiy:

اَلتَّرَاوِيْحُ وَهِيَ عِشْرُوْنَ رَكْعَةً بِعَشْرِ تَسْلِيْمَاتٍ وَكَيْفِيَّتُهَا مَشْهُوْرَةٌ قَالَ النَّوَوِيُّ فَلَوْ صَلَّى  أَرْبَعًا بِتَسْلِيمِة لَمْ يَصِحَّ. (اتحاف السادة المتقين شرح احياء علوم الدين:   ج 3 ص : 415 (دار الفكر د ت)

Artinya: Shalat Tarawih itu 20 rakaat dengan 10 kali salam. Tata caranya telah diketahui banyak orang. Imam Nawawi berkata “Seandainya seseorang shalat Tarawih 4 rakaat dengan sekali salam, maka shalat Tarawihnya tidak sah.”

13.  Imam Muhammad Amin Kurdiy:

اَلتَّرَاوِيْحُ وَهِيَ عِشْرُوْنَ رَكْعَةً بِعَشْرِ تَسْلِيْمَاتٍ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ, فَلَوْ صَلَّى أَرْبَعًا بِتَسْلِيْمَةٍ لَمْ يَصِحَّ , وَيُسَنُّ كَوْنُهَا جَمَاعَةً .) تنويرالقلوب في معاملة علام الغيوب : ص : 199 (دار الفكر 1994)

Artinya; Shalat Tarawih itu dikerjakan 20 rakaat dengan 10 salam. Bila seseorang shalat setiap 4 rakaat dengan satu salam maka shalatnya tidak sah. Disunahkan pelaksanaannya berjamaah.”

14.  Syaikh Mahmud Muhammad Khatthab al-Subkiy

وَيُطْلَبُ السَّلاَمُ عَلَى رَأْسِ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ , فَلَوْ صَلَّى أَرْبَعًا أَوْ أَكْثَرَ بِتَسْلِيْمَةٍ وَاحِدَةٍ وَقَعَدَ عَلَى رَأْسِ كُلِّ رِكْعَتَيْنِ صَحَّتْ صَلاَتُهُ مَعَ الْكَرَاهَةِ عِنْدَ غَيْرِ الشَّافِعِي , وَلاَ تَصِحُّ عِنْدَ هُمْ , لِأَنَّ السَّلاَمَ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ فَرْضٌ عِنْدَهُمْ . وَكَذَا اِذَا لَمْ يَقْعُدْ عَلَى رَأْسِ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ فَلاَ تَصِحَّ عِنْدَهُمْ بِالْأَوْلَى . وَبِهِ قَالَ محمدٌ وَ زُفَرُ لِأَنَّ الْقُعُوْدَ عَلَى رَأْسِ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ فَرْضٌ فِي التَّطَوُّعِ . (الدين الخالص أو ارشاد الخلق الى دين الحق  ج 4 ص : 170 (مطبعة السعادة 1964)

Artinya: Dituntut melakukan salam pada tiap 2 rakaat,. Seandainya seseorang shalat Tarawih dengan 4 rakaat atau lebih dengan satu salam dan ia duduk tasyahhud, maka shalatnya sah tetapi makruh menurut ulama selain Mazhab Syafii, dan tidak sah menurut Mazhab Syafii. Alasannya karena memberi salam pada tiap 2 rakaat itu wajib dalam Mazhab Syafii, begitu juga bila seseorang tidak melakukan duduk tasyahhaud pada tiap 2 rakaat maka lebih teristimewa tidak sah. Dalam hal ini Syaikh Muhammad dan Zufar mengatakan: ”Duduk tasyahhud pada tiap 2 rakaat dalam shalat sunah hukumnya wajib.

15.  Syaikh Shiddiq Hasan Ali al-Qanujiy al-Bukhariy

قَالَ الْحَلِيمِيُّ وَالسِّرُّ فِي كَوْنِهَا عِشْرِينَ أَنَّ الرَّوَاتِبَ فِي غَيْرِ رَمَضَانَ عَشْرُ رَكَعَاتٍ فَضُوعِفَتْ لِأَنَّهُ وَقْتُ جِدٍّ وَتَشْمِيرٍ ،وَفُهِمَ مِمَّا سَبَقَ مِنْ أَنَّها بِعَشْرِ تَسْلِيْمَاتٍ أَنَّهُ لَوْ صَلَّاهَا أَرْبَعًا بِتَسْلِيمَةٍ لَمْ يَصِحَّ . وَبِهِ صَـرَّحَ اْلاِمَـامُ النَّوَوِيُّ فِي الرَّوْضَةِ لِشَبَهِهَا بِالْفَرْضِ فِي طَلَبِ الْجَمَاعَةِ فَلَا تَغَيُّرَ عَمَّا وَرَدَ .( عون الباري لِحَلِّ أدلة البخاري  ج 2  ص : 862 دار الرشيد : حلب سوريا 1992)

Artinya; Imam al-Halimi berkata ”Hikmah dan rahasia 20 rakaat shalat Tarawih adalah shalat Rawatib yang Muakkad itu 10 rakaat, di bulan Ramadhan digandakan karena bulan Ramadhan itu bulan yang penuh semangat dan gairah untuk mengerjakan ibadah. Dipahami dari ungkapan yang telah lalu sesungguhnya shalat Tarawih itu pelaksanaannya dengan 10 kali salam, Seandainya seseorang shalat Tarawih dengan 4 rakaat satu salam, maka shalatnya tidak sah. Seperti inilah keterangan yang telah dijelaskan oleh Imam Nawawiy dalam kitab al-Rawdhah, Karena shalat Tarawih menyerupai shalat fardhu dalam menuntut berjamaah, maka jangan dirubah keterangan sesuatu yang telah warid (datang). 

Pengantar buku oleh:

Abuya K.H Saifuddin Amsir

Dalam risalah ini menjelaskan pemaparan tentang perkara-perkara terpenting dalam shalat Tarawih secara sederhana. Dengan demikian risalah ini menjadi tulisan yang dapat dihayati dan sangat layak dibaca oleh siapa saja yang ingin memahami secara benar dan mau menyelamatkan perkara ibadahnya.

Semoga Allah melimpahkan pahala yang besar kepada penyusun risalah ini atas usahanya, mudah-mudahan Allah memperbanyak orang-orang yang mau mengikuti langkah-langkah mulia ini dalam berpegang teguh kepada kebenaran. Amin.

K.H Maulana Kamal Yusuf

Saya sangat menyambut baik dan gembira atas terbitnya risalah ini yang disusun oleh orang yang memiliki ilmu dan menimba ilmu dengan bertemu langsung kepada para Masyaikh (guru) serta mempunyai kerajinan yang luar biasa dalam mengumpulkan literatur pembahasan yang ia tekuni. Kajian di dalamnya sangat dibutuhkan umat yang selalu ingin berjalan di jalan yang benar dalam memahami shalat Tarawih. Semoga penulis diberikan balasan yang berlanjut atas jerih payahnya mengukir karya berharga ini, dan mudah-mudahan banyak manfaat fiddunya Wal akhirah. Amin.

Bagi yang ingin memiliki buku yang berjudul ‘ Kritik Terhadap Pelaksanaan 4 Rakaat Sekali Salam Dalam Shalat Tarawih

dapat menghubungi Yayasan Al-Mu’afah di No:

0838-70500-223 atau 021-7143-4821

sebagian keuntungan penjualan buku ini akan diberikan untuk maslahat dan pengembangan Madrasah Diniyah Al-Mu’afah

22 pemikiran pada “Para Ulama Menolak Tata Cara Shalat Tarawih 4 Rakaat Satu Salam

  1. Setiap kali memasuki bulan Ramadhan, tak terkecuali Ramadhan tahun ini, banyak pertanyaan yang disampaikan kepada kami baik dari jamaah online (OL) atau Facebooker maupun offline (di masjid dan majelis taklim). Pertanyaan itu pada umumnya dipacu oleh munculnya fatwa dari sebagian mubalig atau asatidz, baik “di darat” maupun “di udara” bahwa shalat tarawih 4+4 itu dilakukan dengan salam pada setiap 2 rakaat. Sehubungan dengan itu, makalah yang disajikan pada forum ini semoga dapat dijadikan bahan perbandingan:

    Redaksi & Takhrij Hadis Aisyah

    Ummul Mukminin Aisyah pernah ditanya oleh Abu Salamah bin Abdurahman:
    كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى رَمَضَانَ، قَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثاً، قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَارَسُولَ اللهِ، أَ تَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ؟ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامُ وَلَمْ يَنَمْ قَلْبِي
    “Bagaimana salat Rasulullah saw. pada malam bulan Ramadhan ? Ia (Aisyah) menjawab, ’Tidaklah Rasulullah saw. menambah pada bulan Ramadhan, (juga) pada bulan yang lainnya, dari sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat, dan engkau jangan bertanya tentang baik dan panjangnya, beliau salat (lagi) empat rakaat, dan jangan (pula) engkau bertanya tentang baik dan panjangnya, kemudian beliau salat tiga rakaat. Aisyah berkata, ‘Aku bertanya wahai Rasulullah ! Apakah engkau tidur sebelum witir ? Beliau menjawab, ’Hai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, tapi hatiku tidak tidur’.”

    Keterangan Abu Salamah bin Abdurahman di atas kita peroleh melalui jalur yang sama, yaitu Malik bin Anas. Ia menerima dari Sa’id bin Abu Sa’id al-Maqburi. Ia menerima dari Abu Salamah bin Abdurahman.

    Dari Malik, hadis itu diriwayatkan oleh 15 orang rawi:
    1. Abdurrahman bin Mahdi (HR. An-Nasai, As-Sunan al-Kubra, I:165, No. 412; I:174, No. 453; Ahmad, Musnad Ahmad, VI:36, No. 24.119)
    2. Ishaq bin Isa (HR. Ahmad, Musnad Ahmad, VI:73, No. 24.490)
    3. Abu Salamah Manshur bin Salamah al-Khuza’I (HR. Ahmad, Musnad Ahmad, VI:104, No. 24.776)
    4. Abdullah bin Yusuf (HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, I:248, No. 1147)
    5. Ismail bin Abu Uwais (HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, I:417, No. 2013; Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra, II:495, No. 4798 bersama rawi lain, yaitu Yahya bin Yahya)
    6. Abdullah bin Maslamah al-Qa’nabi (HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, II:310, No. 3569; Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, II:40, No. 1341; Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra, VII:62, No. 13.164 bersama rawi lain, yaitu Yahya bin Yahya; Ibnu al-Mundzir, Al-Awsath, VIII:77, No. 2535)
    7. Yahya bin Yahya (HR. Malik, al-Muwatha’, I:121, No. 263; Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra, VII:62, No. 13.164 bersama rawi lain, yaitu Abdullah bin Maslamah al-Qa’nabi)
    8. Ma’an bin Isa (HR. At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, II:302, No. 439)
    9. Abdurrahman bin al-Qasim (HR. An-Nasai, As-Sunan al-Kubra, I:160, No. 393, Sunan an-Nasai, III:234, No. 1697)
    10. Qutaibah bin Sa’id (HR. An-Nasai, As-Sunan al-Kubra, I:160, No. 395, I:446, No. 1421)
    11. Abdullah bin Wahab (HR. Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, I:30, No. 49, II:192, No. 1166; Ath-Thahawi, Syarh Musykil al-Atsar, I:282; Abu ‘Awanah, Musnad Abu ‘Awanah, II:59, No. 2304, No. 3052)
    12. Ahmad bin Abu Bakar (HR. Ibnu Hiban, Shahih Ibnu Hiban, VI:186, No. 2430)
    13. Bisyr bin Umar az-Zahrani (HR. Ishaq bin Rahawaih, Musnad Ishaq bin Rahawaih, II:556, No. 1130)
    14. Abdurrazaq (HR. Abdurrazaq, al-Mushannaf, III:38, No. 4711)
    15. Abu Mus’ab (HR. Al-Baghawi, Syarh as-Sunnah, IV:4-5, No. 899)

    Keterangan Abu Salamah di atas diriwayatkan pula melalui jalur lain sebagai berikut:

    Pertama, riwayat Muslim dengan sanad Amr an-Naqid, Sufyan bin Sufyan, dari Abdullah bin Abu Labid, dari Abu Salamah.
    عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى لَبِيدٍ سَمِعَ أَبَا سَلَمَةَ قَالَ أَتَيْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ أَىْ أُمَّهْ أَخْبِرِينِى عَنْ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. فَقَالَتْ كَانَتْ صَلاَتُهُ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ وَغَيْرِهِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً بِاللَّيْلِ مِنْهَا رَكْعَتَا الْفَجْرِ.
    Dari Abdullah bin Abu Labid, ia mendengar Abu Salamah berkata, “Saya mendatangi Aisyah, lalu saya berkata kepada Aisyah, ‘Ibu, kabarkanlah kepadaku mengenai salat Rasulullah saw.’ Aisyah berkata, ‘Salat beliau di waktu malam pada bulan Ramadhan dan selainnya sama tiga belas rakaat, termasuk di dalamnya dua rakaat fajar’.” HR. Muslim, Shahih Muslim, I:510, No. 738

    Kedua, riwayat Ahmad dengan sanad Sufyan, dari Ibnu Abu Labid, dari Abu Salamah
    عَنْ أَبِي سَلَمَةَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ أَيْ أُمَّتْ أَخْبِرِينِي عَنْ صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ كَانَتْ صَلَاتُهُ فِي رَمَضَانَ وَغَيْرِهِ سَوَاءً ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِيهَا رَكْعَتَا الْفَجْرِ قُلْتُ فَأَخْبِرِينِي عَنْ صِيَامِهِ قَالَتْ كَانَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ قَدْ صَامَ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ قَدْ أَفْطَرَ وَمَا رَأَيْتُهُ صَامَ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ صِيَامِهِ فِي شَعْبَانَ كَانَ يَصُومُهُ إِلَّا قَلِيلًا
    Dari Abu Salamah, saya pernah berkata kepada Aisyah, “Ibu, kabarkanlah kepadaku mengenai salat Rasulullah saw.” Aisyah berkata, “Salat beliau di bulan Ramadhan dan selainnya sama tiga belas rakaat, termasuk di dalamnya dua rakaat fajar.” Lalu saya berkata, “Kabarkanlah kepadaku mengenai shaum beliau!” (Aisyah) berkata, “Beliau rajin bershaum hingga kami mengatakan seolah-olah beliau tidak pernah berbuka dan beliau juga rajin berbuka hingga kami katakan seolah-olah beliau tak pernah shaum. Saya tidak pernah melihat beliau shaum lebih sering pada suatu bulan dari pada shaumnya di bulan Syaban, beliau terus melakukan shaum di bulan itu kecuali sedikit hari saja yang tidak.” HR. Ahmad, Musnad Ahmad, VI:39, No. 24.162

    Ketiga, riwayat Ibnu Khuzaimah dengan dua sanad (1) Abu Hasyim Ziyad bin Ayub, (2) Abdul Jabar bin al-‘Ala. Keduanya dari Sufyan, dari Ibnu Abu Labid, dari Abu Salamah.
    عَنِ ابْنِ أَبِي لَبِيدٍ سَمِعَ أَبَا سَلَمَةَ يَقُولُ : سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ : أَيْ أُمَّهْ أَخْبِرِينِي عَنْ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِاللَّيْلِ فَقَالَتْ : كَانَتْ صَلاَتُهُ بِاللَّيْلِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ وَفِيمَا سِوَى ذَلِكَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً
    Dari Ibnu Abu Labid, ia mendengar Abu Salamah berkata, “Saya pernah berkata kepada Aisyah, ‘Ibu, kabarkanlah kepadaku mengenai salat Rasulullah saw. Di waktu malam.’ Aisyah berkata, ‘Salat beliau di waktu malam, pada bulan Ramadhan dan selainnya tiga belas rakaat’.” HR. Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, III:341, No. 2213

    Keempat, riwayat Abu Ya’la dengan sanad al-Abbas bin al-Walid an-Narsi, dari Sufyan bin Uyainah, dari Ibnu Abu Labid, dari Abu Salamah.
    عَنِ ابْنِ أَبِي لَبِيدٍ سَمِعَ أَبَا سَلَمَةَ يَقُولُ : أَتَيْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ : أَيْ أُمَّهْ أَخْبِرِينِي عَنْ صَلاَةِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، فَقَالَتْ : كَانَتْ صَلاَتُهُ بِاللَّيْلِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ وَفِيمَا سِوَى ذَلِكَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنْهَا رَكْعَتَا الْفَجْرِ قُلْتُ : أَخْبِرِينِي عَنْ صِيَامِهِ قَالَتْ : كَانَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ : قَدْ صَامَ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ : قَدْ أَفْطَرَ وَلَمْ أَرَهُ صَامَ مِنْ شَهْرٍ قَطُّ أَكْثَرَ مِنْ صِيَامِهِ مِنْ شَعْبَانَ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً.
    Dari Ibnu Abu Labid, ia mendengar Abu Salamah berkata, “Saya mendatangi Aisyah, lalu saya berkata, ‘Ibu, kabarkanlah kepadaku mengenai salat Rasulullah saw.’ Aisyah berkata, “Salat beliau di waktu malam, pada bulan Ramadhan dan selainnya tiga belas rakaat, termasuk di dalamnya dua rakaat fajar.” Lalu saya berkata, “Kabarkanlah kepadaku mengenai shaum beliau!” (Aisyah) berkata, “Beliau rajin bershaum hingga kami mengatakan seolah-olah beliau tidak pernah berbuka dan beliau juga rajin berbuka hingga kami katakan seolah-olah beliau tak pernah shaum. Saya tidak pernah melihat beliau shaum lebih sering pada suatu bulan dari pada shaumnya di bulan Syaban, beliau terus melakukan shaum di bulan itu kecuali sedikit hari saja yang tidak.” HR. Abu Ya’la,Musnad Abu Ya’la, VIII:273, No. 4860

    Keempat, riwayat Al-Humaidi dengan sanad Sufyan bin Uyainah, dari Ibnu Abu Labid, dari Abu Salamah.
    ثنا عبد الله بن أبي لبيد وكان من عباد أهل المدينة قال سمعت أبا سلمة بن عبد الرحمن يقول دخلت على عائشة فقلت أي أمه أخبريني عن صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم بالليل وعن صيامه فقالت كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصوم حتى نقول قد صام ويفطر حتى نقول قد أفطر وما رأيته صائما في شهر قط أكثر من صيامه في شعبان كان يصومه كله بل كان يصومه إلا قليلا وكانت صلاته بالليل في رمضان وغيره ثلاث عشر ركعة منها ركعتي الفجر
    Dari Abdullah bin Abu Labid, dan ia termasuk ahli ibadah di antara penduduk Madinah, ia berkata, ‘Saya mendengar Abu Salamah bin Abdurrahman berkata, ‘Saya mendatangi Aisyah, lalu saya berkata kepada Aisyah, ‘Ibu, kabarkanlah kepadaku mengenai salat Rasulullah saw. Di waktu malam dan mengenai shaum beliau’ Aisyah berkata, ‘”Rasulullah saw. rajin bershaum hingga kami mengatakan seolah-olah beliau tidak pernah berbuka dan beliau juga rajin berbuka hingga kami katakan seolah-olah beliau tak pernah shaum. Saya tidak pernah melihat beliau shaum lebih sering pada suatu bulan dari pada shaumnya di bulan Syaban, beliau terus melakukan shaum di bulan itu kecuali sedikit hari saja yang tidak. Dan salat beliau di waktu malam pada bulan Ramadhan dan selainnya tiga belas rakaat, termasuk di dalamnya dua rakaat fajar’.” HR. Al-Humaidi, Musnad Al-Humaidi, I:92, No. 173

    Dengan demikian, keterangan Abu Salamah di atas diriwayatka pula melalui jalur lain, yaitu Sufyan bin Uyainah, dari Abdullah bin Abu Labid, dari Abu Salamah

    Penjelasan Hadis:

    A. Rawi Abu Salamah bin Abdurahman bin Awf

    Para ulama berbeda pendapat tentang nama asli Abu Salamah. Sebagian berpendapat namanya Abdullah. Sedangkan menurut yang lain, namanya Ismail.

    Oleh para ulama Abu Salamah dikategorikan sebagai thabaqat tabi’in (generasi) wushtha, yaitu generasi para rawi setelah sahabat yang wafat pada tahun 90-an hingga 198 H. Ia dilahirkan pada tahun 20 H lebih dan wafat tahun 94 H. di Madinah pada masa kekhalifahan al-Walid, pada usia 92 tahun. Namun menurut al-Waqidi, ia wafat tahun 104 H, dalam usia 72 tahun. (Lihat, Siyar A’lam an-Nubala, IV:287-290)

    Abu Salamah termasuk salah seorang di antara tujuh ahli fiqih (al-fuqaha as-Sab’ah) di Madinah, bendaharawan hadis di kalangan tabiin. Ia banyak menerima hadis dari sejumlah tokoh sahabat, antara lain Aisyah.

    B. Matan Hadis

    Di dalam matan hadis itu disebutkan bahwa Abu Salamah bertanya kepada Aisyah. Kata tanya yang digunakannya adalah kaifa (bagaimana), sementara masalah yang ditanyakan adalah:
    كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى رَمَضَانَ
    “Salat Rasulullah saw. pada malam bulan Ramadhan”

    Dalam menjelaskan bentuk pertanyaan ini, Imam al-Baji berkata:
    قَوْلُهُ كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي رَمَضَانَ يَحْتَمِلُ السُّؤَالُ عَنْ صِفَةِ صَلَاتِهِ وَهُوَ الْأَظْهَرُ مِنْ جِهَةِ اللَّفْظِ وَيَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ سُؤَالًا عَنْ عِدَّةِ مَا يُصَلِّي مِنْ الرَّكَعَاتِ يَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ جَوَابُ عَائِشَةَ مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً فَأَجَابَتْهُ بِالْعَدَدِ ثُمَّ أَتْبَعَتْ ذَلِكَ الصِّفَةَ عَلَى مَا يَأْتِي فِي الْحَدِيث وَقَدْ تَأْتِي كَيْفَ بِمَعْنَى كَمْ
    “Perkataannya (Abu Salamah): ‘bagaimana salat Rasulullah di bulan Ramadhan’ pertanyaan itu mengandung makna tentang sifat atau kaifiyat salat beliau, dan makna ini yang lebih jelas dilihat dari aspek lafal. Dan dapat pula mengandung makna tentang jumlah rakaat salat. Pemaknaan itu diperoleh dari jawaban Aisyah, ‘’Tidaklah Rasulullah saw. menambah pada bulan Ramadhan, (juga) pada bulan yang lainnya, dari sebelas rakaat.’ Makai a menjawabnya dengan jumlah. Selanjutnya ia menyertakan sifatnya sebagaimana diterangkan dalam hadis itu. Dan terkadang kata kaifa bermakna pula kam (berapa).” (Lihat, Al-Muntaqa Syarh al-Muwatha, I:227)

    Adapun dalam menjelaskan maksud pertanyaan itu, Imam al-Baji berkata:
    وَإِنَّمَا قَصَرَ السُّؤَالَ عَلَى رَمَضَانَ لِمَا رَأَى مِنْ الْحَضِّ عَلَى صَلَاةِ رَمَضَانَ فَظُنَّ لِذَلِكَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَخُصُّهُ بِصَلَاةٍ فَأَخْبَرَتْهُ عَائِشَةُ أَنَّ فِعْلَهُ كَانَ فِي رَمَضَانَ وَغَيْرِهِ سَوَاءٌ وَفِي ذَلِكَ بَيَانُ أَنَّ حُصُولَنَا عَلَى صَلَاةِ رَمَضَانَ لِمَا عُلِمَ مِنْ ضَعْفِنَا عَنْ إقَامَةِ ذَلِكَ فِي جَمِيعِ الْعَامِ فَحَضَّنَا عَلَى أَفْضَلِ أَوْقَاتِ الْعَامِ
    “Dan ia (Abu Salamah) membatasi pertanyaan (salat malam) di bulan Ramadhan tiada lain sebab ia melihat terdapat anjuran salat malam di Ramadhan, karena itu ia menduga bahwa Nabi saw. mengkhususkannya dengan suatu salat. Maka Aisyah mengabarkan kepadanya bahwa amal Nabi di Ramadhan dan di luar Ramadhan itu sama. Dan dalam hal itu terdapat penjelasan bahwa kita hanya dapat mencapai salat di bulan Ramadhan, karena telah diketahui kelemahan kita untuk melaksanakan salat itu di semua tahun. Maka Nabi saw. mendorong kita kepada waktu yang paling utama dalam satu tahun.” (Lihat, Al-Muntaqa Syarh al-Muwatha, I:227)
    Di dalam matan hadis itu disebutkan oleh Abu Salamah jawaban Aisyah terhadap pertanyaan yang diajukannya, sebagai berikut:

    Pertama:
    مَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً
    “Tidaklah Rasulullah saw. menambah pada bulan Ramadhan, (juga) pada bulan yang lainnya, dari sebelas rakaat.”

    Dalam jalur periwayatan lain dengan redaksi:
    كَانَتْ صَلاَتُهُ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ وَغَيْرِهِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً بِاللَّيْلِ مِنْهَا رَكْعَتَا الْفَجْرِ.
    “Salat beliau di waktu malam pada bulan Ramadhan dan selainnya sama tiga belas rakaat, termasuk di dalamnya dua rakaat fajar.”

    Di dalam jawaban Aisyah ini terdapat keterangan tambahan, selebih dari masalah yang ditanyakan, yaitu Abu Salamah bertanya tentang salat malam Nabi saw. di bulan Ramadhan, sementara jawaban Aisyah: “Pada bulan Ramadhan dan bulan yang lainnya.”

    Imam al-‘Aini berkata:
    وفيه تعميم الجواب عند السؤال عن شيء لأن أبا سلمة إنما سأل عائشة رضي الله تعالى عنها عن صلاة رسول الله في رمضان خاصة فأجابت عائشة بأعم من ذلك وذلك لئلا يتوهم السائل أن الجواب مختص بمحل السؤال دون غيره فهو كقوله هو الطهور ماؤه والحل ميتته لما سأله السائل عن حالة ركوب البحر ومع راكبه ماء قليل يخاف العطش إن توضأ فأجاب بطهورية ماء البحر حتى لا يختص الحكم بمن هذه حاله
    “Dan padanya terdapat dalil memperumum jawaban bagi pertanyaan sesuatu (yang khusus), karena sungguh Abu Salamah bertanya kepada Aisyah khusus tentang salat Rasulullah di bulan Ramadhan, maka Aisyah menjawab dengan jawaban yang lebih umum (di Ramadhan dan luar Ramadhan) daripada yang ditanyakan (di Ramadhan). Demikian itu (mesti dilakukan) agar tidak menimbulkan sangkaan pada benak penanya bahwa jawaban itu dikhususkan bagi kasus sesuai konteks pertanyaan (bulan Ramadhan), tidak berlaku di luar. Jawaban demikian itu seperti sabda Nabi saw. ’Dia (laut) itu suci akirnya dan halal bangkainya.’ Sebagai jawaban atas pertanyaan tentang orang yang berlayar di lautan dengan membawa air tawar sedikit. Jika digunakan untuk wudhu, khawatir ia kehausan. Maka Nabi menjawab kesucian air laut (secara umum) agar hukum kesucian air itu tidak dikhususkan bagi orang yang mengalami kasus itu (membawa air sedikit).” (Lihat, Umdah al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari, VII:204)

    Kedua, jumlah Rakaat 11 & 13

    Aisyah mengatakan:
    مَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً
    “Tidaklah Rasulullah saw. menambah pada bulan Ramadhan, (juga) pada bulan yang lainnya, dari sebelas rakaat.”

    Pada kalimat di atas, Aisyah menggunakan huruf maa yang berfungsi menegasikan atau kata sangkalan. Hingga fragmen (petikan) ini (11 rakaat) dapat dipahami bahwa Aisyah hendak menyatakan bahwa tidak ada tambahan dari sebelas rakaat dalam salat sunat malam, baik di Ramadhan, Sya’ban, dan tidak pula Syawal. Fragmen ini merupakan nash, yaitu perkataan atau kalimat yang dipakai sebagai alasan atau dasar untuk ketetapan kammiyyah (jumlah rakaat).

    Jika kita bandingan periwayatan Abu Salamah versi rawi Sa’id bin Abu Sa’id al-Maqburi dan Abdullah bin Abu Labid, kita mendapatkan gambaran bahwa semua periwayatan Abu Salamah melalui jalur rawi Sa’id bin Abu Sa’id al-Maqburi menegaskan jumlahnya tidak lebih dari 11 rakaat:

    مَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً
    “Tidaklah Rasulullah saw. menambah pada bulan Ramadhan, (juga) pada bulan yang lainnya, dari sebelas rakaat.”

    Sedangkan semua periwayatan Abu Salamah melalui jalur rawi Abdullah bin Abu Labid menegaskan jumlahnya 13 rakaat (11+2 qabla subuh):

    كَانَتْ صَلاَتُهُ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ وَغَيْرِهِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً بِاللَّيْلِ مِنْهَا رَكْعَتَا الْفَجْرِ.
    “Salat beliau di waktu malam pada bulan Ramadhan dan selainnya sama tiga belas rakaat, termasuk di dalamnya dua rakaat fajar.”

    Dengan demikian kedua jumlah itu (11 & 13) tidak bertentangan, karena kalimat
    عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً
    Tidak menghitung dua rakaat sebelum shubuh. Sehubungan dengan itu, al-Qasthalani dan Muhammad Syamsul Haq Abadi menyatakan bahwa kalimat:
    عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً : أَيْ غَيْر رَكْعَتَيْ الْفَجْر
    “dari sebelas rakaat. Yaitu selain dua rakaat sebelum shubuh.” (Lihat, Irsyad as-Sari Syarh Shahih al-Bukhari, II:235; ‘Awn al-Ma’bud Syarh Sunan Abu Dawud, IV:218)

    Dalam mensikapi perbedaan keterangan Aisyah tentang jumlah salat malam Nabi, Imam al-Qurthubi berkata:
    وهذا – أي الاضطراب – إنما يتم لو كان الراوي عنها واحد أو أخبرت عن وقت الصواب أن كل شيء ذكرته من ذلك محمول على أوقات متعددة وأحوال مختلفة بحسب النشاط وبيان الجواز
    “Dan ini—yaitu kekacauan—tercapai secara sempurna jika rawi yang meriwayatkan dari Aisyah itu seorang atau Aisyah mengabarkan tentang satu waktu. Yang benar semua keterangan yang disampaikannya menunjukkan waktu yang berbilang dan berbagai keadaan yang berbeda sesuai dengan aktivitas dan penjelasan tentang hokum kebolehan.” (Lihat, Ta’sis al-Ahkam bi Syarh Umdah al-Ahkam, II:235)

    Bantahan yang lebih “keras” disampaikan oleh Imam al-Baji:
    ذكرت عائشة في هذا الحديث أنه كان يصلي ثلاث عشرة ركعة غير ركعتي الفجر وذكرت في الحديث السابق أنه كان لا يزيد على أحدى عشرة ركعة وقد ذكر بعض من لم يتأمل أن رواية عائشة اضطربت في الحج والرضاع وصلاة النبي صلى الله عليه وسلم بالليل وقصر الصلاة في السفر قال وهذا غلط ممن قاله فقد أجمع العلماء على أنها أحفظ الصحابة فكيف بغيرهم وإنما حمله على هذا قلة معرفته بمعاني الكلام ووجوه التأويل فان الحديث الاول إخبار عن صلاته المعتادة الغالبة والثاني إخبار عن زيادة وقعت في بعض الاوقات أو ضمت فيه ما كان يفتتح به صلاته من ركعتين خفيفتين قبل الاحدى عشرة
    “Aisyah menyebutkan dalam hadis ini bahwa, ‘beliau salat tiga belas rakaat selain dua rakaat sebelum shubuh.’ Dan ia menyebutkan pada hadis sebelumnya bahwa, ‘beliau tidak menambah dari sebelas rakaat.’ Dan sungguh sebagian orang yang tidak berfikir secara mendalam telah menyebutkan bahwa riwayat Aisyah itu kacau pada bab haji, penyusuan, salat Nabi saw. di waktu malam, dan salat qashar di perjalanan. Dan ini adalah kekeliruan dari orang yang mengatakannya, maka sungguh para ulama telah sepakat bahwa Aisyah adalah sahabat yang paling hafal (tentang salat malam Nabi saw.), maka bagaimana dengan selain mereka? Yang memacu munculnya pendapat demikian itu tiada lain karena minimnya pengetahuan tentang makna pembicaraan dan berbagai aspek takwil. Karena hadis pertama mengabarkan tentang salat yang biasanya dilakukan Nabi. Hadis kedua mengabarkan tentang tambahan rakaat yang terjadi pada sebagian waktu lain atau menggabungkan dua rakaat yang beliau lakukan sebagai pembuka salat malam, sebelum melakukan 11 rakaat.” (Lihat, Tanwir al-Hawalik Syarh Muwatha Malik, I:145)

    Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa Aisyah mengabarkan kepada Abu Salamah berdasarkan pengetahuan Aisyah tentang salat malam semata yang dilakukan Nabi di rumah Aisyah. Selanjutnya, Aisyah menggabungkan keterangan dua rakaat sebelum salat subuh pada jumlah 11 rakaat salat malam itu.

    Ketiga, Sifat 11 Rakaat

    Setelah Aisyah mengukuhkan kammiyyah (jumlah) 11 rakaat dengan menegasikan tambahan dari jumlah itu, selanjutnya Aisyah menjelaskan kaifiyyah (tata cara) pelaksanaan 11 rakaat itu, sebagai berikut:

    يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثاً،
    “Beliau salat empat rakaat, maka engkau jangan bertanya tentang baik dan panjangnya, beliau salat (lagi) empat rakaat, dan jangan (pula) engkau bertanya tentang baik dan panjangnya, kemudian beliau salat tiga rakaat.

    Penjelasan Aisyah di atas menunjukkan bahwa:

    أنه إذا صلى إحدى عشرة، صلاها أربعاً أربعاً ثم صلى ثلاثاً
    “Nabi saw. apabila salat malam 11 rakaat, beliau melaksanakannya 4 rakaat, 4 rakaat, kemudian beliau salat 3 rakaat.” (Lihat, Minhah al-‘Alam Syarh Bulugh al-Maram, I:249)

    Setiap selesai menyebut rincian kaifiyat, Aisyah menyatakan:
    فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ
    “maka engkau jangan bertanya tentang baik dan panjangnya”

    Aisyah melarang Abu Salamah menanyakan tentang hal itu karena berbagai kemungkinan:
    § karena Abu Salamah dipandang tidak mampu melakukan hal yang serupa dengan Nabi dalam hal kualitas salat dan kuantitas lamanya, sehingga tidak perlu ditanyakan,
    § karena Abu Salamah dipandang sudah mengetahui hal itu karena kualitas salat Nabi dan kuantitas waktunya sudah popular, sehingga tidak perlu ditanyakan lagi,
    § Karena Aisyah tidak mampu menjelaskan sifat kualitas amal Nabi itu
    secara hakiki. (Lihat,Syarh Bulugh al-Maram, I:258)
    Penjelasan Kalimat: Yushalli Arba’an

    Dalam menjelaskan kaifiyyah (tata cara) pelaksanaan 11 rakaat itu, Aisyah menggunakan kalimat:
    يُصَلِّى أَرْبَعًا ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثاً
    “Beliau salat empat rakaat, kemudian beliau salat (lagi) empat rakaat, kemudian beliau salat tiga rakaat.”

    Para ulama dari berbagai generasi dan beragama madzhab fikih telah menjelaskan maksud perkataan Aisyah: 4 rakaat, 4 rakaat, dan 3 rakaat, di atas. Dalam menjelaskan maksud perkataan itu—hemat kami—mereka telah berupaya secara objektif, tanpa “terpengaruh” madzhab yang dianutnya.

    Sikap ini berbeda dengan sebagian kalangan yang membaca atau mempelajari penjelasan para ulama yang bersangkutan. Di mana penjelasan dari mereka sering kali dipahami secara tidak utuh atau tidak objektif, sehingga melahirkan suatu kesimpulan yang belum tentu selaras dengan maksud ulama tersebut.

    Demi memelihara objektifitas tersebut, di sini akan kami sajikan penjelasan dari para ulama itu secara lengkap beserta teks aslinya, antara lain:

    Ibnu Abd al-Barr (w. 463 H) berkata:
    وأما قوله يصلي أربعا ثم يصلي أربعا ثم يصلي ثلاثا فذهب قوم إلى أن الأربع لم يكن بينها سلام وقال بعضهم ولا جلوس إلا في آخرها وذهب فقهاء الحجاز وجماعة من أهل العراق إلى أن الجلوس كان منها في كل مثنى والتسليم أيضا ومن ذهب هذا المذهب كان معنى قوله في هذا الحديث عنده أربعا يعني في الطول والحسن وترتيب القراءة ونحو ذلك ودليلهم على ذلك قوله صلى الله عليه وسلم ” صلاة الليل مثنى مثنى” لأنه محال أن يأمر بشيء ويفعل خلافه صلى الله عليه وسلم
    “Dan adapun perkataannya yushalli ‘arba’an (beliau salat 4 rakaat), tsumma yushalli ‘arba’an,tsumma yushalli tsalaatsan, maka suatu kaum berpendapat bahwa 4 rakaat itu tanpa salam di antaranya, dan sebagian mereka berpendapat, ‘Tidak duduk (tahiyat) kecuali di akhir rakaat keempat.’ Sementara ahli fiqh Hijaz dan sekelompok ulama Irak berpendapat bahwa duduk (tahiyat) di antara 4 rakaat itu pada setiap 2 rakaat, demikian pula salam. Dan orang yang berpendapat demikian memaknai kata empat pada hadis itu dalam hal panjang (lama rakaat), keelokan (tata cara), tertib bacaan, dan lain-lain. Dan dalil mereka atas pendapat itu sabda Nabi saw. ‘Salat malam itu dua rakaat, dua rakaat’, karena mustahil beliau memerintah terhadap sesuatu dan beliau berbuat sebaliknya.” (Lihat, At-Tamhid limaa fii al-Muwatha min al-Ma’ani wa al-Asaanid, XXI:70)

    Al-Qadhi Iyadh (w.544 H) berkata:
    قولها : (يصلى أربعأ أربعا) الحديث : فذهب قوم إلى أنه لم يكن بين الأربع سلام ، وكذلك الأربع الأخر ، وقال اخرون : لم يجلس إلا فى اخر كل أربع ، وذهب معظم الفقهاء الحجازيين وبعض العراقين إلى التسليم بين كل اثنتين من الأربع ، وهو مذهب مالك ، وتأويل معنى ذكر أربع هنا عند بعضهم أنها كانت فى التلاوة والتحسن على هيئة واحدة لم يختلف الركعتان الأوليان من الاخرتين ، ثم الأربع بعدها أيضا مشتبهة فى الصفة من الترتيل والتحسين وإن لم تبلغ فى طولها قدر الأول كما قال فى الحديث الاَخر : (يصلى ركعتين طويلتن ثم يصلى ركعتين هما دون اللتن قبلهما)
    “perkataannya yushalli ‘arba’an ‘arba’an (beliau salat 4 rakaat, 4 rakaat), maka suatu kaum berpendapat bahwa tanpa salam di antara 4 rakaat itu, dan demikian pula 4 rakaat kedua, dan sebagian mereka berpendapat, ‘Tidak duduk (tahiyat) kecuali di akhir tiap rakaat keempat.’ Sementara sebagian besar ahli fiqh Hijaz dan sebagian ulama Irak berpendapat bahwa terdapat salam pada setiap 2 rakaat di antara 4 rakaat itu, dan ini pendapat Malik. Dan orang yang berpendapat demikian mentakwil kata empat pada hadis itu dalam hal tilawah dan pengelokan atas satu cara yang tidak berbeda antara dua rakaat pertama dengan dua rakaat akhir, demikian pula 4 rakaat setelahnya serupa dalam sifat tartil dan tahsin meskipun ukuran panjangnya tidak sama antara satu rakaat dengan rakaat sebelumnya, sebagaimana disebutkan dalam hadis lain semisalnya, ‘Beliau salat dua rakaat yang panjang, lalu salat dua rakaat yang kurang dari ukuran sebelumnya’.” (Lihat, Ikmal al-Mu’lim Syarh Shahih Muslim, III:49)

    Imam al-‘Aini (w. 855 H) berkata:
    وفي قولها يصلي أربعا حجة لأبي حنيفة رضي الله تعالى عنه في أن الأفضل في التنفل بالليل أربع ركعات بتسليمة واحدة وفيه حجة عن منع ذلك كمالك رحمه الله وفي قولها ثم يصلي ثلاثا حجة لاصحابنا في أن الوتر ثلاث ركعات بتسليمة واحدة لأن ظاهر الكلام يقتضي ذلك فلا يعدل عن الظاهر إلا بدليل فإن قلت قد ثبت إيتار النبي بركعة واحدة وثبت أيضا قوله ومن شاء أوتر بواحدة قلت سلمنا ذلك ولكنه إن تلك الركعة الواحدة توتر الشفع المتقدم لها والدليل على ذلك ما رواه البخاري حدثنا عبد الله بن يوسف قال أخبرنا مالك عن نافع وعبد الله بن دينار عن ابن عمر أن رجلا سأل النبي عن صلاة الليل فقال رسول الله صلاة الليل مثنى مثنى فإذا خشي أحدكم الصبح صلى ركعة واحدة توتر له ما قد صلى
    Pada perkataan Aisyah: yushalli ‘arba’an (beliau salat 4 rakaat) terdapat hujjah bagi Abu Hanifah bahwa yang paling utama pada salat sunat waktu malam itu 4 rakaat dengan satu salam, dan pada perkataan itu pula terdapat hujjah (bantahan) terhadap orang yang melarang hal itu (4 rakaat dengan satu salam) seperti Malik—semoga Allah merahamatinya—dan pada perkataan Aisyah:yushalli tsalaatsan (beliau salat 3 rakaat) terdapat hujjah bagi para sahabat kami bahwa witir itu 3 rakaat dengan satu salam, karena zhahir pembicaraan menghendaki demikian. Maka tidak boleh meninggalkan makna zhahir kecuali berdasarkan dalil. Jika anda mengatakan, ‘Sungguh terbukti Nabi witir dengan satu rakaat dan terbukti pula sabda beliau: ‘Siapa yang mau berwitirlah dengan satu rakaat.’ Saya katakan, ‘Kami menerima itu, namun sungguh satu rakaat itu mewitirkan rakaat genap yang mendahuluinya, dan dalil atas hal itu riwayat al-Bukhari, (ia berkata) ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami.’ Ia berkata, ‘Malik telah mengabarkan kepada kami.’ Dari Nafi dan Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi tentang salat malam. Maka Rasulullah bersabda, ‘Salat malam itu dua rakaat, dua rakaat. Maka jika seseorang di antara kamu khawatir tiba waktu subuh, ia salat satu rakaat yang mengganjilkan rakaat yang telah ia laksanakan.” (Lihat, Umdah al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari, VII:204)

    Al-Mula Ali al-Qari (w. 1014 H) berkata:
    ( ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا لَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ) ظَاهِرُ الْحَدِيثِ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ كُلًّا مِنَ الْأَرْبَعِ بِسَلَامٍ وَاحِدٍ ، وَهُوَ أَفْضَلُ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ فِي الْمَلَوَيْنِ ، وَعِنْدَ صَاحِبَيْهِ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى ، فَيَنْبَغِي أَنْ يُصَلِّيَ السَّالِكُ أَرْبَعًا بِسَلَامٍ مَرَّةً وَسَلَامَيْنِ أُخْرَى جَمْعًا بَيْنَ الرِّوَايَتَيْنِ ، وَرِعَايَةً لِلْمَذْهَبَيْنِ ( ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا ) ، وَهَذَا أَيْضًا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ صَلَّاهَا بِسَلَامٍ وَاحِدٍ ، وَيُؤَيِّدُهُ قَوْلُ مُسْلِمٍ بَعْدَ إِيرَادِ صَلَاةِ اللَّيْلِ ثُمَّ أَوْتَرَ بِثَلَاثٍ
    “Kalimat ‘Kemudian Beliau salat empat rakaat, maka engkau jangan bertanya tentang baik dan panjangnya.’ Zhahir hadis menunjukkan bahwa setiap 4 rakaat dengan satu salam, dan cara ini lebih utama menurut Abu Hanifah dalam al-Malawain, sementara menurut kedua sahabatnya salat malam itu dua rakaat, dua rakaat. Maka layak bagi salik (murid, pengikut) untuk salat 4 rakaat dengan satu salam pada satu waktu dan dengan dua salam pada waktu lain sebagai upaya kompromi di antara dua riwayat dan memelihara kedua madzhab. Kalimat ‘Kemudian Beliau salat tiga rakaat,’ dan ini pun menunjukkan bahwa beliau melaksanakan 3 rakaat dengan satu salam, dan hal itu diperkuat oleh pendapat Muslim setelah menyebutkan salat malam kemudian beliau witir dengan 3 rakaat.” (Lihat, Jam’ al-Wasa’il fii Syarh as-Syama’il tanpa jilid dan halaman)

    Imam Ash-Shan’âniy (w. 1182 H) berkata:
    ( يُصَلِّي أَرْبَعًا ) يُحْتَمَلُ أَنَّهَا مُتَّصِلَاتٌ وَهُوَ الظَّاهِرُ وَيُحْتَمَلُ أَنَّهَا مُنْفَصِلَاتٌ وَهُوَ بَعِيدٌ إلَّا أَنَّهُ يُوَافِقُ حَدِيثَ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى
    “Kalimat Yushalli arba’an (Beliau salat empat rakaat). Kata arba’an (empat rakaat) mengandung dua kemungkinan makna: Pertama, makna zhahir, yaitu menunjukkan bersambung (empat rakaat sekaligus). Kedua, makna jauh, yaitu menunjukkan dipisah (empat rakaat tidak sekaligus). Namun makna jauh ini sejalan dengan hadis:
    صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى
    “Shalat malam itu dua rakaat, dua rakaat.” (Lihat, Subul as-Salam Syarh Bulugh al-Maram, II:275)

    Muhammad Syamsul Haq Abadi (w. 1329 H) berkata:
    وَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيث عَائِشَة فِي بَيَان صَلَاة اللَّيْل : يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَل عَنْ حُسْنهنَّ وَطُولهنَّ ثُمَّ أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَل عَنْ حُسْنهنَّ وَطُولهنَّ الْحَدِيث . فَهَذَا الْفَصْل يُفِيد الْمُرَاد ، وَإِلَّا لَقَالَتْ ثَمَانِيًا فَلَا تَسْأَل . كَذَا ذَكَرَهُ اِبْن الْهُمَام فِي فَتْح الْقَدِير شَرْح الْهِدَايَة .
    “Dan keterangan dalam as-Shahihain (al-Bukhari-Muslim) dari hadis Aisyah dalam menjelaskan salat malam: ‘Beliau salat empat rakaat, maka engkau jangan bertanya tentang baik dan panjangnya, kemudian beliau salat (lagi) empat rakaat, dan jangan (pula) engkau bertanya tentang baik dan panjangnya, kemudian beliau salat tiga rakaat.’ Maka pemisahan ini (4+4) menghasilkan yang dimaksud (4 rakaat satu salam), dan jika tidak demikian (maknanya) niscaya Aisyah mengatakan, ‘‘Beliau salat delapan rakaat, maka engkau jangan bertanya.’ Demikian yang diterangkan oleh Ibnu al-Humam dalam kitab Fath al-Qadier Syarh al-Hidayah.” (Lihat, ‘Awn al-Ma’bud Syarh Sunan Abu Dawud, IV:146-147)

    Pemahaman Kami Terhadap Maksud Imam Ash-Shan’âniy

    Perkataan Imam Ash-Shan’âniy oleh sebagian kalangan dijadikan rujukan bahwa salat tarawih 4 rakaat, 4 rakaat, dan 3 rakaat, masing-masing dengan satu salam memiliki landasan ilmiah. Namun kalangan lainnya, mengganggap bahwa tidak demikian maksud dari Imam Ash-Shan’âniy, bahkan mereka mengatakan “banyak orang terkecoh dan terjebak dalam memahami penjelasan Imam Muhammad as-Shan’âniy dalam kitab Subul al-Salâm Syarh Bulûgh Al-Marâm, sehingga mereka mengatakan tata cara shalat Tarawih dengan 4 rakaat sekali salam disebutkan dalam kitab itu.”

    Untuk menghindari klaim yang tidak proporsional, mari kita pelajari bersama redaksi perkataan Imam Ash-Shan’âniy yang sesungguhnya. Sehubungan dengan itu, kita cantumkan kembali perkataan beliau sebagai berikut:

    ( يُصَلِّي أَرْبَعًا ) يُحْتَمَلُ أَنَّهَا مُتَّصِلَاتٌ وَهُوَ الظَّاهِرُ وَيُحْتَمَلُ أَنَّهَا مُنْفَصِلَاتٌ وَهُوَ بَعِيدٌ إلَّا أَنَّهُ يُوَافِقُ حَدِيثَ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى
    “Kalimat Yushalli arba’an (Beliau shalat empat rakaat). Kata arba’an (empat rakaat) mengandung dua kemungkinan makna: Pertama, makna zhahir, yaitu menunjukkan bersambung (empat rakaat sekaligus). Kedua, makna jauh, yaitu menunjukkan dipisah (empat rakaat tidak sekaligus). Namun makna jauh ini sejalan dengan hadis:
    صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى
    ‘Shalat malam itu dua rakaat, dua rakaat.’ (Lihat, Subul as-Salam Syarh Bulugh al-Maram, II:275)

    Bila redaksi perkataan di atas kita cermati secara jernih, tentu kita dapat memahami bahwa “Isu sentral” yang dibicarakan oleh Imam Ash-Shan’âniy bukanlah praktik 4 rakaat itu apakah dengan 1 kali salam atau 2 kali salam, melainkan pemaknaan kalimat Yushalli arba’an(Beliau shalat empat rakaat) antara washal (bersambung) ataukah fashal (dipisah), karena kata arba’an (empat) dipandang bermakna ganda.

    Maka untuk mencari kejelasan makna yang dimaksud, beliau mengajukan dua perspektif: Pertama,zhahir. Kedua, ba’iid (makna jauh). Menurut beliau, kata empat yang dimaksud menunjukkan bersambung (empat rakaat sekaligus). Pemaknaan demikian disebut zhahir. Mengapa pemaknaan ini disebut zhahir? Di sini perlu sedikit dijelaskan tentang kaidah zhahir, agar kita dapat memahami maksud Imam As-Shan’âniy dengan sebenarnya.
    Yang dimaksud dengan lafal zhahir adalah:
    الظَّاهِرُ هُوَ اللَّفْظُ الَّذِي يَدُلُّ عَلَى مَعْنَاهُ دِلاَلَةً وَاضِحَةً بِحَيْثُ لاَ يَتَوَقَّفُ فَهْمُ المُرَادِ مِنْهُ عَلَى قَرِيْنَةٍ خَارِجِيَّةٍ.
    Zhâhir ialah suatu lafaz yang menunjukkan kepada pengertian yang jelas tanpa memerlukan penjelasan dari luar. (Ushûl al- Fiqh al-Islâmî, Zakî ad-Dîn Sya‘bân, hlm. 341)

    Lafaz nash zhahir ini wajib diamalkan sesuai dengan kejelasannya. Sungguhpun demikian, lafalzhahir dapat di-ta`wîl-kan bila terdapat qarinah (indikasi). Sebagai contoh dapat dilihat dalam ayat:
    وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا … البقرة [2]: 275.
    Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba… (QS. Al-Baqarah, 2:275)

    Ayat ini begitu jelas artinya, bahwa jual beli itu hukumnya halal dan riba` itu haram. Pengertian inilah yang segera dapat ditangkap oleh akal pikiran kita tanpa memerlukan qarînah untuk menjelaskannya. Namun demikian, ayat ini bukan hanya sekedar menyatakan bahwa jual beli itu halal dan riba` itu haram hukumnya, tetapi ayat ini untuk menyatakan dan membantah anggapan orang-orang munafik Mekah waktu itu di mana jual-beli itu sama dengan riba`. Padahal jual-beli itu tidak sama dengan riba`.

    Sekarang kita kembali kepada kata ‘arba’an (empat). Ketika Aisyah menyatakan:
    (يُصَلِّي أَرْبَعًا )
    “Beliau shalat empat rakaat.”

    Maka pengertian yang segera dapat ditangkap oleh akal pikiran kita tanpa memerlukan qarînahuntuk menjelaskannya adalah berjumlah 4 rakaat, bukan 2 rakaat, 2 rakaat. Apabila kata “empat” dimaknai 2+2 maka pemaknaan demikian itu memerlukan qarînah eksternal untuk menjelaskannya. Karena itulah beliau menyebutnya dengan kata ba’iid (makna jauh).

    Jadi, apabila kata itu dimaknai washal maka kata itu dikategorikan zhahir. Artinya, kata ‘arba’anmenunjukkan kepada pengertian empat rakaat sekaligus tanpa memerlukan penjelasan dari luar. Sedangkan bila dimaknai fashal maka kata itu dikategorikan ba’iid (jauh). Artinya, kata ‘arba’andimaknai empat rakaat tidak sekaligus atau dipisah menunjukkan pengertian jauh. Dengan perkataan lain dimaknai secara ta`wîl, yaitu memalingkan atau mengubah arti zhahir lafal ‘arba’an(empat rakaat sekaligus) kepada arti lain (empat rakaat dipisah).

    Hemat kami, menurut beliau, pemaknaan demikian merupakan ta`wîl yang jauh dari arti zhahirnya. Untuk itu diperlukan dalil yang dapat mendukung pen-ta`wîl-an tersebut. Maka dalam hal ini beliau mengajukan dalil, yaitu sabda Nabi Saw.:
    صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى
    “Shalat malam itu dua rakaat, dua rakaat.”

    Sampai kalimat ini, kami tidak menangkap “sinyal” adanya pemahaman dari beliau, bahwa “shalatTarawih 4 Rakaat itu dilakukan dengan dua kali Salam” Apalagi “pemaksaan fiqih” bahwa “Shalat Tarawih 4 Rakaat Satu Salam itu merupakan kesalahkaprahan.”

    Penutup

    Berbagai penjelasan di atas menunjukkan bahwa para ulama telah berupaya memberikan petunjuk ilmiah untuk memahami suatu teks dalil, khususnya penjelasan Aisyah terhadap pertanyaan tentang salat malam Nabi di bulan Ramadhan.

    Dari petunjuk itu, kita diharapkan dapat meneladani mereka sehingga kita tidak tergesa-gesa dalam menyikapi penjelasan ilmiah mereka.

    Dalam memahami hadis: “4 rakaat, 4 rakaat, dan 3 rakaat” kami cenderung mengikuti perspektif pemaknaan secara zhahir, yaitu kata empat yang dimaksud menunjukkan bersambung (empat rakaat sekaligus). Karena pengertian yang segera dapat ditangkap oleh akal pikiran kita tanpa memerlukan qarînah (indikasi) untuk menjelaskannya adalah berjumlah 4 rakaat, bukan 2 rakaat, 2 rakaat.

    Dengan demikian, pelaksanaan salat tarawih 4 rakaat, 4 rakaat, dan 3 rakaat, dengan masing-masing satu kali salam, memiliki pijakan ilmiah.

    • tetap saja yang terbaik, nyari jalan aman megamalkan Qaidah:
      الخروج من الخلاف مستحب
      keluar dari khilaf merupakan sesuatu yg dianjurkan.
      Imam Syafii mengatakan dalam kitab al-Risâlah sebagai berikut:

      فَكُلُّ كَلَامٍ كَانَ عَامًا ظَاهِرًا فِي سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ فَهُوَ عَلَى ظُهُوْرِهِ وَعُمُوْمِهِ حَتَّى يُعْلَمَ حَدِيْثٌ ثَابِتٌ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ .

      Artinya: “Setiap perkataan Rasulullah dalam hadis yang bersifat umum/zhahir diberlakukan kepada arti zhahir dan umumnya sehingga diketahui ada hadis lain yang tetap dari Rasulullah”
      hadis :
      صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى
      “Shalat malam itu dua rakaat, dua rakaat.”
      jelas-jelas mengangkat keumuman makna arba’an arbaan.
      lagian sendainya pun memang ihtimal 4 rakaat satu salam. belum pernah kedengeran ada ulama besar yang mengerjakan shalat tarawih 4 rakaat satu salam.
      lantaran hadis riwayat siti Aisyah Radhiyallahu anhu berbicara tentang shalat witir bukan shalat tarawih.
      kalo shalat witir boleh dilakukan 4 rakaat satu salam.

      بشركم الله بكل الخير يا استاذ

    • Yang dimaksud dengan keluar dari perbedaan pendapat dalam konteks ini adalah mengerjakan shalat Tarawih dengan cara 2 rakaat- 2 rakaat. Sebab, bila kita kerjakan shalat Tarawih dengan cara 4 rakaat satu salam akan bertabrakan dengan 2 Qaul ulama. Pertama, Qaul dalam Mazhab Imam Malik dan Mazhab Imam Ahmad Ibn Hambal yang berpendapat:”Shalat Tarawih yang dikerjakan 4 rakaat sekali salam itu hukumnya Makruh. Karena telah meninggalkan kesunahan bertasyahhud dan memberi salam pada setiap 2 rakaat. Kedua, Qaul dalam Mazhab Imam Syafii mengatakan:”Shalat Tarawih yang dikerjakan 4 rakaat 1 salam, tidak sah”. Dengan alasan telah menyalahi istilah dan prosedur shalat Tarawih yang sudah jelas definisinya. Tidak enak rasanya, bila di satu sisi kita mengerjakan ibadah bertujuan mencari Ridho Allah, mengharapkan pahala dan kekhusu’an di dalamnya, sedangkan di sisi lain para ulama mengatakan ibadah yang kita kerjakan hukumnya Makruh atau tidak sah.
      Perlu diketahui, sekalipun dalam mazhab Imam Abu hanifah memiliki pendapat yang mengatakan boleh shalat sunah malam hari dikerjakan 2-2, 4-4, 6-6, 8-8 dengan sekali salam, tapi pendapat ini tidak dijadikan hujjah (argumen) dan juga tidak diamalkan dalam Mazhab Imam Abi Hanifah, sebagaimana dituturkan oleh Syaikh Muhammad Anwâr Syâh al-Kasymîriy al-Hindiy dalam kitabnya, al-A’rf al-Syadziy Syarh Sunan al-Tirmidziy sebagai berikut:

      وَلَمْ يَثْبُتْ حَدِيْثٌ يُنَصُّ عَلَى أَرْبَعٍ بِالَّليْلِ بِتَسْلِيْمَةٍ . وَتَمَسَّكَ اْلأَحْنَافُ فِي مَذْهَبِ أَبِي حَنِيْفَةَ بِحَدِيْثِ عَائِشَةَ حَدِيْثِ الصَّحِيْحَيْنِ : كَانَ يُصَلِّي أَرْبَعاً فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُوْلِهِنَّ . إلخ ، وَأَقُوْلُ : إِنَّهُ لَيْسَ بِحُجَّةٍ لَنَا، فَإِنَّ الْحَدِيْثَ مُبْهَمٌ وَلاَ يَدُلُّ عَلَى أَنَّهَا بِتَسْلِيْمَةٍ وَاحِدَةٍ بَلْ هِيَ مَحْمُوْلَةٌ عِنْدِي عَلىَ هَيْأَةِ التَّرَاوِيْحِ فِي زَمَانِنَا أَيْ التَّسْلِيْمَةُ عَلىَ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ وَالتَّرْوِيْحَةُ عَلَى أَرْبَعَةٍ ، وَمَرَّ عَلَيْهِ أَبُوْ عُمَرَ فيِ التَّمْهِيْدِ ، وَقَالَ فِي شَرْحِ الْحَدِيْثِ مِثْلُ مَا قُلْتُ . وَإِنَّمَا جُمِعَتْ بَيْنَ أَرْبَعٍ لِعَدَمِ الْوَقْفَةِ وَالتَّرْوِيْحَةُ عَلَى رَكْعَتَيْنِ ، ثُمَّ وَجَدْتُ فِي السُّنَنِ الْكُبْرَى مَرْفُوْعاً : يُصَلِّي أَرْبَعاً فَيَتَرَوَّحُ إلخ ، وَيَدُلُّ عَلَى التَّسْلِيْمِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ عَنْ عَائِشَةَ مَا فِي مُسْلِمٍ يُسَلِّمُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ ، وَفِي النَّسَائِيِّ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ : يُسَلِّمُ عَلَى كُلِّ رَكْعَتَيْنِ ، فَلاَ يَكُوْنُ حُجَّةً لَنَا نَاهِضَةً فَإِنَّ الرُّوَاةَ بَعْضُهُمْ يُعَبِّرُوْنَ الْمُرَادَ مُجْمَلاً ، وَبْعضُهُمْ يُفْصِحُوْنَ بِالْمُرَادِ وَيَذْكُرُوْنَ التَّسْلِيْمَ عَلَى كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَاْلأَوَّلُوْنَ لاَ يَذْكُرُوْنَ التَّسْلِيْمَ فَلاَ يُمْكِنُ اْلاِسْتِدْلاَلُ بِاْلإِجْمَالِ .

      Artinya: Tidak ada keterangan Nash hadis shalat malam dikerjakan 4 rakaat dengan satu salam, para ulama yang berafiliasi dalam Mazhab Abi Hanifah berpegang pada hadis Siti A’isyah riwayat Imam Bukhariy dan Muslim:”Beliau shalat 4 rakaat maka jangan engkau tanyakan betapa elok dan lamanya”. Menurutku:”hadis ini bukan sebagai dalil dalam Mazhab Kami, karena hadis ini tidak jelas dan juga hadis ini bukan sebagai dalil 4 rakaat dikerjakan dengan satu salam, akan tetapi menurutku 4 rakaat tersebut dikandungkan atas bentuk shalat Tarawih yang dikerjakan pada zaman ini dengan memberi salam pada tiap 2 rakaat- 2 rakaat, 1 Tarwihah (istirahat) itu terdiri dari 4 rakaat. Inilah yang dijelaskan oleh Syaikh Abu Umar dalam kitab al-Tamhîd, beliau mengatakan komentar hadis seperti yang aku sebutkan. Penyebutan 4 rakaat adalah gabungan (2 rakaat- 2 rakaat) karena tidak ada perhentian dan istirahat atas 2 rakaat pertama. Aku temukan dalam kitab al-Sunan al-Kubrâ dengan sanad yang Marfû’ bahwa: Rasulullah shalat 4 rakaat kemudian beliau beristirahat, menjadi dalil memberi salam pada tiap 2 rakaat, dari Siti A’isyah riwayat Imam Muslim: beliau shalat memberi salam pada tiap 2 rakaat. Riwayat Imam Nasâiy dari Ummi Salamah: beliau salam pada tiap 2 rakaat. Maka hal itu tidak bisa menjadi dalil yang tegak lantaran setiap perawi hadis telah mengungkapkan maksud yang masih Mujmal (global), sebagian mereka menjelaskan yang dimaksud dan menyebutkan bahwa beliau memberi salam pada tiap 2 rakaat. Sedangkan kelompok pertama tidak menyebutkan salam pada tiap 2 rakaat, maka tidak mungkin bisa dijadikan dalil sesuatu yang masih bersifat global (umum).

      Untuk mengetahui penjelasan yang lebih luas, marilah kita perhatikan komentar para ulama dalam memahami tatacara pelaksanaan shalat Tarawih agar kita senantiasa berada dalam bimbingan mereka (اللهم احشرنا فىزمرتهم وارزقنا محبتهم) sebagai berikut:

      1) تبيين الحقائق شرح كنز الدقائق : للشيخ الامام فخر الدين أبو محمد عثمان بن علي الزيلعي الحنفي ج 2 ص: 349 .
      قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ ( وَسُنَّ فِي رَمَضَانَ عِشْرُونَ رَكْعَةً بِعَشْرِ تَسْلِيمَاتٍ بَعْدَ الْعِشَاءِ قَبْلَ الْوِتْرِ وَبَعْدَهُ بِجَمَاعَةٍ وَالْخَتْمُ مَرَّةً وَبِجِلْسَةٍ بَعْدَ كُلِّ أَرْبَعٍ بِقَدْرِهَا ) أَيْ بَعْدَ كُلِّ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ بِقَدْرِ الْأَرْبَعَةِ الْكَلَامُ فِي التَّرَاوِيحِ فِي مَوَاضِعَ الْأَوَّلُ فِي صِفَتِهَا وَهِيَ سُنَّةٌ عِنْدَنَا رَوَاهُ الْحَسَنُ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ نَصًّا وَقِيلَ مُسْتَحَبٌّ وَالْأَوَّلُ أَصَحُّ لِأَنَّهَا وَاظَبَ عَلَيْهَاالْخُلَفَاءُ الرَّاشِدُونَ.

      Artinya: ”Imam Abdullah Ibn Ahmad al-Nasafiy berkata:”Disunahkan shalat Tarawih 20 rakaat dengan 10 salam (tiap 2 rakaat salam). Dilaksanakan setelah shalat Isya, sebelum shalat Witir dan boleh setelah Witir, dilakukan dengan berjamaah dan mengkhatamkan al-Qur’an 1 kali dengan duduk istirahat tiap 4 rakaat dengan seukurannya. Yakni tiap selesai 4 rakaat beristirahat seukuran 4 rakaat. Pembicaraan pada shalat Tarawih pada beberapa tempat. Pertama pada sifatnya yaitu hukumnya sunah menurut mazhab kami (Hanafiy). Al-Hasan telah meriwayatkannya dari Imam Abi Hanifah akan satu Nash. Ada Qaul yang mengatakannya Mustahab. Tetapi pendapat pertama, yang mengatakannya sunah adalah pendapat yang paling shahih. Karena shalat tersebut telah dilakukan secara konsisten oleh para Khulafaurrasyidin.

      2) الفواكه الدواني على رسالة ابن أبي زيد القيرواني : للشيخ أَحْمَد بْن غُنَيْمِ بْنِ سَالِمٍ النَّفْرَاوِيّ المالكي ج 3 ص :474
      ( وَكُلُّ ذَلِكَ ) أَيْ الْعَدَدِ مِنْ الْعِشْرِينَ أَوْ السِّتَّةِ وَالثَّلَاثِينَ ( وَاسِعٌ ) أَيْ جَائِزٌ وَهَذَا غَيْرُ ضَرُورِيِّ الذِّكْرِ .( وَ ) يُسْتَحَبُّ أَنْ ( يُسَلِّمَ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ ) وَيُكْرَهُ تَأْخِيرُ السَّلَامِ بَعْدَ كُلِّ أَرْبَعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ بِتَسْلِيمَةٍ وَاحِدَةٍ الْأَفْضَلُ لَهُ السَّلَامُ بَعْدَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ .

      Artinya: “Semua jumlah rakaat shalat Tarawih yang 20 ataupun 36 itu merupakan suatu keluasan maksudnya boleh dikerjakan. Hal ini tidak mudah disebutkan. Dianjurkan seseorang yang mengerjakan shalat Tarawih dengan mengucapkan salam pada tiap 2 rakaat. Makruh hukumnya menunda salam sampai 4 rakaat. Sehingga bila ia mengerjakan 4 rakaat satu salam yang lebih utama bagi dirinya adalah salam pada tiap 2 rakaat”.

      3) المغني شرح المختصر الخرقي : للشيخ الامام موفق الدين ابي محمد عبد الله بن احمد ابن قدامة الحنبلي ج 1 ص : 796 مسألة ك 1035 (دار الفكر 1997)
      ( وَصَلَاةُ التَّطَوُّعِ مَثْنَى مَثْنَى ) يَعْنِي يُسَلِّمُ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ ، وَالتَّطَوُّعُ قِسْمَانِ ؛ تَطَوُّعُ لَيْلٍ ، وَتَطَوُّعُ نَهَارٍ ، فَأَمَّا تَطَوُّعُ اللَّيْلِ فَلَا يَجُوزُ إلَّا مَثْنَى مَثْنَى .هَذَا قَوْلُ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ ، وَبِهِ قَالَ أَبُو يُوسُفَ ، وَمُحَمَّدٌ . وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ : إنْ شِئْت رَكْعَتَيْنِ ، وَإِنْ شِئْت أَرْبَعًا ، وَإِنْ شِئْت سِتًّا ، وَإِنْ شِئْت ثَمَانِيًا .وَلَنَا ، قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ .وَعَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ ، وَبَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ تَسْلِيمَةٌ } .رَوَاهُ الْأَثْرَمُ .

      Artinya; Shalat malam itu 2 rakaat- 2 rakaat yakni seseorang yang mengerjakannya salam pada tiapa 2 rakaat. Shalat sunah itu ada 2 macam: pertama shalat sunah malam. Kedua shalat sunah siang. Adapun shalat sunah malam maka tidak boleh melainkan dikerjakan 2 rakaat- 2 rakaat. Ini pendapat mayoritas ulama, dan juga pendapat Abu Yusuf dan Muhammad. Imam Abu Hanifah berpendapat ”jika engkau ingin shalat malam kerjakan dengan 2 rakaat, 4 rakaat, 6 rakaat dan 8 rakaat 1 salam. Sedangkan pendapat kami (Mazhab Hambali) landasan sebuah hadis shalat malam 2 rakaat- 2 rakaat. Hadis Imam Bukhariy dan Imam Muslim. Dan hadis lainnya dari Siti A’isyah berkata: Rasulullah bersabda” Kunci shalat itu dengan melakukan bersuci. Dan tiap 2 rakaat itu salam. Hadis riwayat al-Atsram.

      4) الغُنْيَة لطالبي طريق الحق في الأخلاق و التصوف والأدب الاسلامية : للامام سلطان الأولياء الشيخ عبد القادر الجيلاني ج 2 ص : 16 .
      وَهِيَ عِشْرُوْنَ رَكْعَةً يَجْلِسُ عَقِبَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَ يُسَلِّمُ . فَهِيَ خَمْسُ تَرْوِيْحَاتٍ كُلَّ اَرْبَعَةٍ مِنْهَا تَرْوِيْحَةٍ . وَيَنْوِي فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ اُصَلِّي رَكْعَتَيِ التَّرَاوِيْحِ الْمَسْنُوْنَةِ اِذَا كَانَ فَرْدًا اَوْ اِذَا كَانَ اِمَامًا اَوْ مَأْمُوْمًا .

      Artinya: Shalat Tarawih dikerjakan 20 rakaat seseorang yang mengerjakannya duduk setelah salam pada tiap 2 rakaat. Shalat Tarawih terdiri dari 5 tarwihah, setiap empat rakaat itu dinamakan 1 tarwihah. Hendaknya ia berniat saya niat shalat sunah Tarawih. Jika ia sendirian, menjadi imam, ataupun ma’mum.

      5) الأذكار (حلية الأبرار وشعار الأخيار في تلخيص الدعوات والأذكار) : للامام أبي زكريا محي الدين بن شرف النووي الدمشقي ص : 156 (دار الفكر د ت )
      إِعْلَمْ أَنَّ صَلاَةَ التَّرَاوِيْحِ سُنَّةٌ بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاءِ، وَهِيَ عِشْرُوْنَ رَكْعَةً، يُسَلِّمُ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ .

      Artinya: Ketahuilah sesungguhnya shalat Tarawih itu hukumnya sunah dengan kesepakatan ulama, dikerjakan 20 rakaat setiap dua rakaat mengucapkan salam.

      6) شرح الشمائل المحمدية : للشيخ العلامة عبد الرؤوف المناوي ج 2 ص : 91 (دار الأقصى 1988)
      (يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ) اَيْ اِنَّهُنَّ مِنْ كَمَالِ الطُّوْلِ وَالْحُسْنِ عَلَى غَايَةٍ ظَاهِرَةٍ مُغْنِيَةٍ عَنِ السُّؤَالِ اَيْ اِنَّهُنَّ فِي غَايَةِ الْحُسْنِ وَ الطُّوْلِ بِحَيْثُ يُعْجِزُ الِّلسَانُ عَنْ بَيَانِهَا , فَمَنْعُ السُّؤَالِ كنِاَيَةٌ عَنِ الْعَجْزِ عَنِ الْجَوَابِ . وَالْمُرَادُ أَنَّهُ صَلَّى أَرْبَعًا بِتَسْلِيْمَتَيْنِ لِيُوَافِقَ خَبَرَ زَيْدِ السَّابِقِ وَاِنَّمَا جُمِعَ اْلأَرْبَعُ لِتَقَارِبِهَا طُوْلاً وَحُسْنًا لاَ لِكَوْنِهِمَا بِسَلاَمٍ وَاحِدٍ .

      Artinya: Beliau shalat 4 rakaat, jangan anda tanya bagaimana bagus dan lamanya beliau shalat. Artinya 4 rakaat yang beliau lakukan tergolong dari saking sempurna lama dan eloknya atas puncak yang zhahir yang tidak butuh pertanyaan, artinya 4 rakaat tersebut menggambarkan puncak keelokan dan lamanya waktu dari segi lidah akan payah dari menjelaskannya. Penolakan Aisyah dari pertanyaan orang yang bertanya merupakan kiasan dari tidak mampunya Aisyah untuk memberikan jawaban. Yang dimaksud Rasulullah shalat 4 rakaat itu dikerjakan dengan 2 salam agar menjadi sesuai dengan keterangan hadis dari Zaid yang telah lalu. Hanya sanya digabungkan penyebutan 4 rakaat karena berdekatan antara keduanya dalam hal lama dan eloknya, bukan berarti 4 rakaat itu dipahami dengan satu salam.

      7) المنتقى شرح المؤطا : للشيخ أبي الوالد سليمان بن خلف الباجي ج 2 ص : 151 (دار الكتب 1999)
      كَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ فِي زَمَانِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي رَمَضَانَ بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً .
      ( ش ) : قَوْلُهُ كَانُوا يَقُومُونَ فِي رَمَضَانَ بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً يُرِيدُ عِشْرِينَ رَكْعَةً غَيْرَ الْوِتْرِ وَالرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ تُفْعَلَانِ مَعَهُ فِي سَائِرِ الْعَامِ وَالْعِشْرُونَ رَكْعَةً خَمْسُ تَرَاوِيحَ كُلُّ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ تَرْوِيحَةٌ وَيُسَلِّمُ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ . وَقَدْ جَرَتْ عَادَةُ الْأَئِمَّةِ أَنْ يَفْصِلُوا بَيْنَ كُلِّ تَرْوِيحَتَيْنِ مِنْ هَذِهِ الصَّلَاةِ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ يُصَلُّونَهُمَا أَفْذَاذًا .

      Artinya: “Para sahabat mengerjakan shalat Qiyam Ramadhan pada zaman Sayidina Umar Ibn Khatthab dengan 23 rakaat.
      Komentar pengarang (al-Bâjiy). Perkataan para sahabat melakukan Qiyam Ramadhan 23 rakaat, dimaksudkan 20 rakaat selain shalat Witir, dan mereka mengerjakan 2 rakaat yang dilakukan bersamaan dengan shalat itu pada sepanjang tahun. 20 rakaat dikerjakan dengan 5 kali istirahat, tiap 4 rakaat melakukan 1 istirahat, seseorang mengucapkan salam tiap 2 rakaat. Sesungguhnya berlaku kebiasaan para Imam memisahkan antara tiap 2 kali istirahat dari shalat Tarawih dengan 2 rakaat yang ringan mereka mengerjakan shalat tersebut sendiri-sendiri.”

      8) توضيح الأحكام شرح بلوغ المرام من ادلة الأحكام : للشيخ عبد الله بن عبد الرحمن البسام ج 2 ص : 200 (دار الحديث 2003)
      فَقَالَتْ عائشة مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي . متفق عليه .
      يَحْتَمِلُ اَنَّ اْلأَرْبَعَ مُنْفَصِلاَتٌ وَاَنَّهُ يُصَلِّيْهَا رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ وَيُوَافِقُهُ حَدِيْثُ: صَلاَةُ الَّليْلِ مَثْنَى مَثْنَى. وَيُؤَيِّدُهُ اَيْضًا الأَحَادِيْثُ الَّتِي تَشْتَمِلُ عَلَى تَفْصِيْلِ صَلاَتِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالَّليْلِ بِأَنَّهَا كَانَتْ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ , فَلَعَلَّهَا ذَكَرَتْ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مَجْمُوْعَةً, ثُمَّ اْلأَخَرُ مَجْمُوْعَةً لِأَنَّهُ كَانَ لاَيَمْكُثُ بَعْدَ التَّسْلِيْمِ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ اْلأُوْلَيَيْنِ بَلْ كَانَ لِلرَّكْعَتَيْنِ اْلأُخْرَيَيْنِ . فَأِذَا أَتَمَّ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مَكَثَ طَوِيْلاً وَفَصَّلَ بَيْنَهُمَا وَ بَيْنَ اْلأَرْبَعِ اْلأَتِيَةِ فَصْلاً طَوِيْلاًَ.

      Artinya; Rasulullah tidak pernah melakukan shalat malam (sepanjang tahun) pada bulan Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari 11 rakaat. Beliau shalat 4 rakaat jangan engkau bertanya tentang kebagusan dan panjangnya. Kemudian beliau shalat 4 rakaat jangan engkau bertanya tentang kebagusan dan panjangnya. Kemudian beliau shalat 3 rakaat. Kemudian aku bertanya ”Ya Rasulullah apakah kamu tidur sebelum shalat Witir”? Kemudian beliau menjawab: ”Aisyah, meskipun kedua mataku tidur, hatiku tidaklah tidur”
      Hadis ini diihtimalkan (memiliki kemungkinan) bahwa 4 rakaat yang dilakukan oleh Rasulullah adalah dengan cara terpisah (tidak sekaligus) yakni beliau mengerjakan 4 rakaat tersebut dengan 2 rakaat- 2 rakaat. Hal ini sesuai dengan keterangan hadis Shahih yang mengatakan Shalat malam dikerjakan dengan 2 rakaat- 2 rakaat. Dan dikuatkan juga dalam banyak hadis yang meliputi perincian shalat Rasulullah yang beliau kerjakan pada malam hari yang menyatakan shalat malam itu dikerjakan 2 rakaat- 2 rakat. Mungkin Siti A’isyah menyebut 4 rakaat itu sebagai gabungan, kemudian 4 rakaat lain juga sebagai gabungan. Karena Rasulullah tidak berdiam lama setelah salam tiap 2 rakaat yang pertama tetapi adalah hal itu untuk 2 rakaat terakhir. Maka apabila beliau telah sempurna mengerjakan 4 rakaat (dengan 2 salam) beliau berdiam lama dan memisahkan antara keduanya dengan 4 rakaat ( dengan 2 salam) selanjutnya dengan pemisahan yang lama.

      9) فتاوى هموم المسلم اليومية : للشيخ عبد الحميد كشك ج 3 ص : 76
      تُؤَدَّى صَلاَةُ التَّرَاوِيْحِ بَعْدَ صَلاَةِ اْلعِشَاءِ وَقَبْلَ اْلوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ وَيَجُوْزُ اَنْ تُؤَدَّى بَعْدَهُ وَلَكِنَّهُ خِلاَفُ اْلأَفْضَلِ .

      Artinya: Dilaksanakan shalat Tarawih dengan cara dua rakaat-dua rakaat setelah shalat Isya sebelum shalat Witir. Boleh shalat Tarawih dikerjakan setelah witir tetapi hal itu menyalahi yang afdhal.

      10) من توجيهات الأسلام : للشيخ محمد شلتوت ص : 360 (دار القلم 1966)
      وَبِذَلِكَ كَانَتْ صَلاَةُ التَّرَاوِيْحُ شِعَارًا تَعَبُّدِيًّا خَاصًّا بِشَهْرِ رَمَضَانَ يَهْرَعُ اِلَيْهِ الْمُسْلِمُوْنَ فِي مَسَاجِدِهِمْ بِهِ تَسْتَنِيْرُ الْقُلُوْبُ وَبِهِ تُضَاءُ الْمَسَاجِدُ وَهِيَ تُؤَدَّى عَقِبَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ وَقَبْلَ صَلاَةِ الْوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ مَعَ اسْتِرَاحَةٍ بَيْنَ كُلِّ أَرْبَعٍ وَأَرْبَعٍ .

      Artinya: ”Karena itu shalat Tarawih menjadi syiar ibadah khusus pada bulan Ramadhan di mana muslimin bergegas menuju masjid-masjid. Dengan adanya bulan Ramadhan hati mereka mendapat cahaya dan masjid-masjid pun disinari dengan lampu-lampu. Shalat Tarawih dilaksanakan setelah pelaksanaan shalat Isya sebelum shalat Witir dengan cara 2 rakat- 2 rakaat yang disertai istirahat di antara tiap 4 rakaat- 4 rakaat.”

      11) فقه السنة : للسيد سابق ج 1 ص : 174 (دار الفكر 1983)
      مَشْرُوْعِيَّةُ قِيَامِ رَمَضَانَ: قِيَامِ رَمَضَانَ أَوْ صَلاَةَ التَّرَاوِيْحِ سُنَّةٌ لِلرَّجُلِ وَالنِّسَاءِ تُؤَدَّى بَعْدَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ وَقَبْلَ الْوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ ، وَيَجُوْزُ أَنْ تُؤَدَّى بَعْدَهُ وَلَكِنَّهُ خِلاَفُ الْاَفْضَلِ، وَيَسْتَمِرُّ وَقْتُهَا إِلَى آخِرِ اللَّيْلِ.

      Artinya: Disyariatkan Qiyam Ramadhan. Qiyam Ramadhan atau shalat Tarawih hukumnya sunah bagi laki-laki dan perempuan. Dikerjakan setelah shalat Isya, sebelum shalat Witir dengan cara 2 rakaat- 2 rakaat. Shalat Tarawih boleh dikerjakan setelah shalat Witir, tetapi hal itu menyalahi sesuatu yang utama. Waktu pelaksanaannya sampai akhir malam.

      12) خلاصة الكلام في أركان الاسلام : للسيد علي فكري ص : 114 (دار الفكر 1979)
      صَلاَةُ التَّرَاوِيْحِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ عِنْدَ الْأَئِمَّةِ فِي لَيَالِي رَمَضَانَ وَوَقْتُهَا بَعْدَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ اِلَى طُلُوْعِ الْفَجْرِ . وِيُسَنُّ أَنْ يُوْتِرَ بَعْدَهَا وَهِيَ عِشْرُوْنَ رَكْعَةً كُلَّ رَكْعَتَيْنِ بِتَسْلِيْمَةٍ . وَتُسَنُّ الْاِسْتِرَاحَةُ بَعْدَ كُلِّ أَرْبَعٍ مِنْهَا بِقَدْرِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ وَتُسَنُّ الْجَمَاعَةُ فِيْهَا وَهِيَ سُنَّةٌ لِلرِّجَالِ وَ النِّسَاءِ . وَكَيْفِيَّةُ صَلاَتِهَا كَصَلاَةِ الصُّبْحِ كُلُّ رَكْعَتَيْنِ بِتَسْلِيْمَةٍ .

      Artinya: Shalat Tarawih merupakan sunah Muakkadah menurut para Imam yang dikerjakan pada malam-malam bulan Ramadhan. Waktu pelaksanaannya setelah shalat Isya sampai terbit fajar, disunahkan mengerjakan shalat Witir setelahnya. Shalat Tarawih itu 20 rakaat pada tiap 2 rakaat dengan 1 salam, disunahkan beristirahat seukuran 4 rakaat setelah melakukan tiap 4 rakaat darinya, disunahkan berjamaah padanya, shalat Tarawih sunah bagi laki-laki dan wanita. Cara mengerjakannya seperti shalat Subuh, setiap 2 rakaat mengucapkan salam.

      13) هداية الطالبين في بيان مهمات الدين : للحبيب العلامة زين بن ابراهيم بن سميط الحسيني ص : 95 (دار العلوم الاسلامية 2005)
      صَلاَةُ التَّرَاوِيْحِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَهِيَ الْمُرَادُ بِقِيَامِ رَمَضَانَ فِي قَوْلِهِ صلى الله عليه وسلم مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ رواه الشيخان . وَهِيَ عِشْرُوْنَ رَكْعَةً , يُسَلِّمُ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَيَنْوِيَ بِهَا سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ اَوْ قِيَامَ رَمَضَانَ .

      Artinya: Shalat Tarawih hukumnya sunah Muakkadah, shalat ini yang dimaksud Qiyam Ramadhan dalam hadis Rasulullah:”Siapa saja yang melakukan ibadah pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dari segala dosanya”. Hadis riwayat Bukhariy dan Muslim. Shalat Tarawih terdiri dari 20 rakaat, seseorang yang mengerjakannya melakukan salam pada tiap 2 rakaat. Ia berniat shalat sunah Tarawih atau Qiyam Ramadhan.

      14) دائرة المعارف الاسلامية : للشيخ أحمد الشنتناوي و ابراهيم زكي خورشيد و عبد الحميد يونس . ج 5 ص : 19 (دار الفكر 1990)
      وَيُوْصِي الشَّرْعُ بِالْقِيَامِ بِالتَّرَاوِيْحِ بَعْدَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ وَهِيَ عَشْرُ تَسْلِيْمَاتٍ فِي كُلٍّ مِنْهَا رَكْعَتَانِ , وَبَعْدَ كُلِّ أََرْبَعِ رَكَعَاتٍ تَرْوِيْحَةٌ وَمِنْ ثَمَّ سُمِّيَتْ هَذِهِ الصَّلَوَاتُ بِالتَّرَاوِيْحِ .وَرَكْعَاتُهَا عِنْدَ الْمَالِكِيَّةُ سِتٌّ وَ ثَلاَثُوْنَ , وَهُمْ يَعْتَبِرُوْنَهَا مِنْ صَلَواتِ السُّنَّةِ وَلَهَا أَهَمِّيَّةُ جَمِيْعِ الشَّعَائِرِ الَّتِي تُؤَدَّى فِي رَمَضَانَ . وَيَفْضُلُ الشِّيْعَةُ أَدَاءَ اَلْفِ رَكْعَةٍ خِلاَلَ شَهْرِ رَمَضَانََ .

      Artinya:” Syariat mewasiatkan mengerjakan shalat Tarawih itu setelah shalat Isya (20 rakaat) dengan 10 salam pada tiap salam itu terdiri dari 2 rakaat, setelah selesai 4 rakaat disebut 1 Tarwihah (istirahat) dari sinilah penamaan shalat Tarawih. Jumlah rakaatnya menurut Mazhab Imam Malik 36 rakaat. Mereka menganggap shalat itu shalat Sunah yang memiliki peran penting dalam seluruh syiar ibadah yang dikerjakan pada bulan Ramadhan. Orang Syiah mengerjakan shalat Tarawih 1000 rakaat selama bulan Ramadhan.”

      15) شرح صحيح البخاري : للشيخ العالم العلامة ابن بطال ج 5 ص : 170
      كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْه وَسَلَّمَ يُصَلِّى بِالَّليْلِ أَرْبَعًا، فَلاَ تَسْأَلُ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُوْلِهِنَّ، ثُمَّ أَرْبَعًا، ثُمَّ ثَلاَثًا.
      فَقَالَ لَهُمْ أَهْلُ الْمَقَالَةِ اْلأُوْلَى: لَيْسَ فِى حَدِيْثِ عَائِشَةَ يُصَلِّى أَرْبَعًا، أَنَّ اْلأَرْبَعَ بِسَلاَمٍ وَاحِدٍ، وإِنَّمَا أَرَادَتِ الْعَدَدَ فِى قَوْلِهَا أَرْبَعًا، ثُمَّ أَرْبَعًا ، ثُمَّ ثَلاثًا بِدَلِيْلِ قوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى . وَهَذَا يَقْتَضِى رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ بِسَلاَمٍ بَيْنَهُمَا عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ فِى بَابِ كَيْفَ كَانتْ صَلاَةِ الَّليْلِ. وَقَدْ رَدَّ الطَّحَاوِىُّ عَلَى أَبِى حَنِيْفَةَ ، وَقَالَ : قَدْ رَوَى الزُّهْرِىُّ، عَنْ عُرْوَةَ ، عَنْ عَائِشَةَ ، أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُسَلِّمُ بَيْنَ كُلِّ اثْنَتَيْنِ مِنهْنُ،َّ قَالَ: وَهَذَا اْلبَابُ إِنَّمَا يُؤْخَذُ مِنْ جِهَةِ التَّوْقِيْفِ وَاْلاِتِّبَاعِ لِمَا فَعَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَرَ بِهِ ، وَفَعَلَهُ أَصْحَابُهُ مِنْ بَعْدِهِ، فَلَمْ نَجِدْ عَنْهُ مِنْ قَوْلِهِ ، وَلاَ مِنْ فِعْلِهِ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبَاحَ أَنْ يُصَلِّى بِاللَّيْلِ بِتَكْبِيْرَةٍ أَكْثَرَ مِنْ رَكْعَتَيْنِ ، وَهَذَا أَصَحُّ الْقَوْلَيْنِ عِنْدَنَا .

      Artinya; Rasulullah shalat malam 4 rakaat, jangan engkau bertanya tentang kebagusan dan panjangnya. Kemudian beliau shalat 4 rakaat. Kemudian beliau shalat 3 rakaat. Pendapat pertama mengatakan:” Dalam keterangan hadis Aisyah, tidak menyebutkan 4 rakaat dikerjakan dengan 1 salam. Aisyah hanya menyebutkan jumlah rakaat dengan perkataannya Rasulullah shalat 4 rakaat, kemudian 4 rakaat, kemudian 3 rakaat. Dengan adanya dalil hadis Rasulullah yang mengatakan shalat malam itu dikerjakan dengan 2 rakaat- 2 rakaat, menjadi tuntutan 4 rakaat dalam hadis Aisyah dikerjakan dengan 2 rakaat salam, 2 rakaat salam. Telah kami sebutkan penjelasan ini pada bab bagaimana shalat malam Rasulullah. Imam al-Thahawiy menolak pandangan Imam Abu Hanifah, ia berkata:” Zuhriy telah meriwayatkan dari Urwah, dari Aisyah yang mengatakan Rasulullah sering kali mengucapkan salam pada setiap 2 rakaat. Al-Thahawiy juga berkata:” Pembahasan ini diketahui dengan jalan ketentuan syariat dan ittiba’ (mengikuti) perbuatan dan perintah Rasulullah, perbuatan para sahabat beliau setelahnya. Tidak kami temukan keterangan dari Rasulullah baik perbuatan dan perkataan beliau, yang membolehkan shalat malam dilakukan dengan satu takbiratul ihram lebih dari 2 rakaat. Inilah yang paling shahih dari 2 pendapat dalam Mazhab kami.

      16) اسعاد الرفيق وبغية الصديق شرح سُلَّمِ التَّوْفِيق الى محبة الله على التحقيق : للشيخ العالم العلامة محمد بن سالم بن سعيد بَابْصِيْل الشافعي ج 1 ص : 96 (الحرمين 2008)
      وَالتَّرَاوِيْحُ عِشْرُوْنَ رَكْعَةً وَهِيَ قِيَامُ رَمَضَانَ .وَوَقْتُهَا كَالْوِتْرِ بَيْنَ فَعْلِ اْلعِشَاءِ وَطُلُوْعِ اْلفَجْرِ. وَيُسَلِّمُ وُجُوْبًا مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ .

      Artinya: “Shalat Tarawih 20 rakaat. Shalat ini adalah shalat Qiyam Ramadhan. Waktu pelaksanaannya seperti shalat Witir yaitu antara shalat Isya sampai terbit fajar, seseorang yang mengerjakannya wajib melakukan slam setiap 2 rakaat.”

      17) مُؤَلَّفات الشيخ محمد بن عبد الوهاب : للشيخ عبد العزيز بن زيد الرومي ج : 2 ص : 18
      وَالتَّرَاوِيْحُ سُنَّةٌ سَنَّهَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, وَفَعْلُهَا جَمَاعَةً أَفْضَلُ وَيَجْهَرُ الْاِمَامُ بِالْقِرَاءَةِ لِنَقْلِ الْخَلَفِ عَنِ السَّلَفِ , وِيُسَلِّمُ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ لِحَدِيْثِ صَلاَةِ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى .

      Artinya: “Shalat Tarawih adalah prbuatan sunah yang dianjurkan oleh Rasulullah. Mengerjakan shalat Tarawih berjamaah itu lebih afdhal. Imam shalat Tarawih mengeraskan bacaannya karena merupakan tradisi orang belakangan dari generasi yang lebih awal. Seseoarang pada tiap 2 rakaat mengucapkan salam.”

      18) فتاوى السعدية : للشيخ عبد الرحمن بن ناصر السعدي ص : 175 (دار الحديث 1992)
      س) قَوْلُهُمْ وَمَنْ جَاوَزَ اثْنَيْنِ لَيْلاً عَلِمَ اْلعَدَدَ اَوْ نَسِيَهُ كُرِهَ وَصَحَّ هَلْ هُوَ وَجِيْهٌ اَمْ لاَ ؟ اِذَا جَاوَزَ الْمُصَلِّي لَيْلاً رَكْعَتَيْنِ فَهَلْ يُكْرَهُ كَرَاهَةً اَوْ يُمْنَعُ وَلاَ يَجُوْزُ لَهُ الزِّيَادَةُ عَلىَ ذَلِكَ ؟
      ج) عَلَى قَوْلَيْنِ فِي الْمَذْهَبِ جَرَوْا فِي مَوْضِعٍ مِنْ كَلاَمِهِمْ عَلىَ الْكَرَاهَةِ فَقَطْ .وَفِي مَوْضِعٍ أَخَرَ قَالُوا وَاِنْ قَامَ اِلَى ثَالِثَةٍ لَيْلاً فَكَمَا لَوْ قَامَ اِلَى ثَالِثَةٍ فِي اْلفَجْرِ فَجَرَوْا عَلىَ الْمَنْعِ .وَالْحَدِيْثُ الصَّحِيْحُ صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى يَدُلُّ عَلَى هَذَا الْقَوْلِ .

      Artinya: (Pertanyaan): Pendapat mereka mengatakan siapa saja yang melebihi dari 2 rakaat setiap salam pada shalat malam, ia tahu bilangan rakaat atau ia lupa maka hukumnya makruh tetapi sah. Apakah pendapat ini bisa diterima? Apabila seseorang shalat malam melebihi 2 rakaat pada tiap salam apakah hukumnya makruh atau dilarang sehingga tidak boleh bagi orang itu melebihi 2 rakaat pada tiap salam?
      (Jawaban): Ada 2 pendapat dalam Mazhab, para ulama memberlakukan pada satu tempat dari perkataan mereka hukumnya makruh saja. Pada tempat lain mereka berpendapat seandainya seseorang bangun pada rakaat yang ke-3 (tidak duduk Tahiyat rakaat ke-2) pada shalat malam hukumnya sama seperti orang yang bangun pada shalat Shubuh untuk rakaat ke-3. Dalam hal ini para ulama melarang. Hadis shahih shalat malam dilakukan dengan cara 2 rakaat- 2 rakaat menjadi argumen ini.”

      19) شرح صحيح البخاري : للشيخ محمد بن صالح العُثَيْمِن ج 4 ص : 238(دار الوفا 2008)
      قوله: يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا, فَهِمَ بَعْضُ النَّاسِ مِنْ هَذَا أَنَّهُ يَقْرِنُ اْلأَرْبَعَ اْلاُوْلَى وَالثَّانِيَةَ ,وَلَكِنْ هَذَا لَيْسَ بِصَوابٍ بَلْ كَانَ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَيُسَلِّمُ مِنْ رَكْعَتَيْنِ كَمَا بَيَّنَتْ هِيَ نَفْسُهَا ذَلِكَ فِي لَفْظٍ أَخَرَ أَنَّهُ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ … اِلَى أَخِرِهِ .

      Artinya; Perkataan:”Beliau shalat 4 rakaat jangan engkau bertanya tentang kebagusan dan panjangnya. Kemudian beliau shalat 4 rakaat”. Sebagian orang memahami hadis ini bahwa Rasulullah mengiringi 4 rakaat yang pertama dan yang kedua, akan tetapi pendapat ini tidak benar bahkan Rasulullah shalat 4 rakaat dengan mengucap salam pada tiap 2 rakaat, sebagaimana Siti A’isyah sendiri yang menjelaskan pada hadis lain bahwasanya Rasulullah shalat 2 rakaat, 2 rakaat, 2 rakaat, 2 rakaat.

      19) شرح رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين : للشيخ محمد بن صالح العثيمن ج 3 ص :265 (دار الهيثم 2002)
      فَقَالَتْ عائشة مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي . متفق عليه .
      (ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ) قَدْ ظَنَّ بَعْضُ النَّاسِ أَنَّهَا أَرْبَعٌ مَجْمُوْعَةٌ بِسَلاَمٍ وَاحِدٍ ,وَهَذَا خَطَأٌ , ِلأَنَّهُ قَدْ جَاءَ مُفَصَّلاً مُبَيَّنًا أَنَّهَا أَرْبَعُ رَكَعَاتٍ يُسَلِّمُ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ , وَأَرْبَعُ رَكَعَاتٍ يُسَلِّمُ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ , وَثَلاَثُ رَكَعَاتٍ .فَيَكُوْنُ قَوْلُهَا (أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي) يَكُونُ فيِْهِ دَلِيْلٌ عَلى أَنَّهُ اِذَا صَلَّى اْلأَرْبَعَ بِسَلاَمٍ اِسْتَرَاحَ قَلِيْلاً لِقَوْلِهَا (ثُمَّ يُصَلِّي) وَثُمَّ لِلتَّرْتِيْبِ فِي الْمَهْلَةِ ثُمَّ يُصَلِّي اْلأَرْبَعَ عَلىَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يُسَلِّمُ . وَأَنَا اُشِيْرُ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ أَنَّهُ يَنْبَغِي لِلْاِنْسَانِ اَنْ لاَ يَتَعَجَّلَ فِي فَهْمِ النُّصُوْصِ , بَلْ يَجْمَعُ شَوَارِدَهَا حَتَّى يَضُمَّ بَعْضَهَا اِلَى بَعْضٍ لِيَتَبَيَّنَ لَهُ اْلأَمْرُ , فَبَعْضُ اْلاِخْوَانِ الَّذِيْنَ بَدَأُوْ يَتَعَلَّمُوْنَ وَلاَ سِيَّمَا عِلْمَ الْحَدِيْثِ صَارُوا يُصَلُّوْنَ بِالنَّاسِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ جَمِيْعًا , وَهَذَا غَلَطٌ , غَلَطٌ عَلَى الُّسَّنةِ , وَفَهْمٌ خَاطِئٌى , ِلأَنَّ النَّبِيَّ صَلى اللهُ عليْهِ وَسَلمَ سُئِلَ عَنْ صَلاَةِ اللَّيْلِ فَقَالَ : “مَثْنَى مَثْنَى” لاَ يُمْكِنُ اَنْ يُصَلِّيَ أَرْبَعًا .

      Artinya: (Beliau shalat 4 rakaat jangan engkau bertanya tentang bagus dan panjangnya). Sebagian orang menyangka 4 rakaat dalam hadis ini dikerjakan dengan cara 1 salam, ini adalah pendapat yang keliru, karena ada keterangan yang datang sebagai perincian dan penjelas bahwa 4 rakaat itu dikerjakan dengan salam pada tiap 2 rakaat, 4 rakaat dikerjakan dengan salam pada tiap 2 rakaat, kemudian 3 rakaat. Maka perkataan Siti A’isyah: ”Kemudian beliau shalat 4 rakaat jangan engkau bertanya tentang bagus dan panjangnya”, menjadi dalil apabila seseorang shalat 4 rakaat dengan 1 salam ia beristirahat sebentar, karena perkataan Siti A’isyah dengan lafaz tsumma yang memiliki arti urutan dalam waktu yang agak lama. Kemudian ia shalat 4 rakaat dengan salam tiap 2 rakaat. Pada masalah ini saya memberikan nasehat kepada siapa saja untuk tidak tergesa-gesa dalam memahami redaksi-redaksi hadis, bahkan dirinya harus mengumpulkan redaksi-redaksi hadis yang terpencar agar terkombinasi sebagian hadis dengan yang lainnya sehingga perkara menjadi jelas. Sebagian kawan-kawan yang baru belajar terutama belajar ilmu hadis mereka mengerjakan dan mengimami shalat Tarawih dengan cara 4 rakaat 1 salam, ini merupakan kesalahan dalam mengerjakan sunah Rasulullah dan paham yang keliru. Karena Rasulullah ketika ditanya tentang shalat malam, beliau menjawab: ”Shalat malam itu dikerjakan 2 rakaat- 2 rakaat. Tidak ada kemungkinan beliau shalat 4 rakaat sekali salam.”

      20) فتاوى للجنة الدائمة للبحوث العلمية و الافتاء : للشيخ أحمد بن عبد الرزاق الدويش ج 7 ص: 200 دار الكتب (2004)
      السؤال الخامس : من الفتوى رقم (2896)
      (س) هَلْ يَجُوْزُ لِمَنْ يُصَلِّى صَلاَةَ التَّرَاوِيْحِ اَنْ يُصَلِّي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ بِتَسْلِيْمَةٍ وَاحِدَةٍ ؟
      (ج) يُصَلِّي التَّرَاوِيْحَ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ لِمَا ثَبَتَ عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لِمَنْ سَأَلَهُ عَنْ صَلاَةِ اللَّيْلِ صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ . وَلَيْسَ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ حَدٌّ مَحْدُوْدٌ , لأن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يُوَقِّتْ َِلاُمَّتِهِ فِي ذَاِلكَ شَيْأً وَاِنَّمَا حَثَّهُمْ عَلَى قِيَامِ رَمَضَانَ وَلَمْ يُحَدِّدْ ذَالِكَ بِرَكَعَاتٍ مَحْدُوْدَةٍ وَاِنَّمَا سُئِلَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ قِيَامِ اللَّيْلِ قَالَ صَلاَةُُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ .
      عضو نائب الرئيس الرئيس
      عبد الله بن قعود عبد الرزاق عفيفي عبد العزيز بن عبد الله بن باز

      Artinya: Pertanyaan ke-5 dari fatwa no; 2896.
      Apakah boleh seseorang melakukan shalat Tarawih dengan cara 4 rakaat 1 salam?
      Jawaban: Seseorang yang ingin melaksanakan shalat Tarawih, hendaknya ia kerjakan dengan cara 2 rakaat- 2 rakaat. Karena ada hadis riwayat Imam al-Bukhariy dan Imam Muslim yang mengatakan Rasulullah ditanya tentang shalat malam beliau menjawab shalat malam itu dikerjakan dengan 2 rakaat- 2 rakaat. Dalam pelaksanaan Tarawih tidak ada batasan rakaatnya, karena Rasulullah sendiri tidak menetapkan waktu kepada umatnya pada masalah itu sedikitpun. Hanyasanya beliau menganjurkan para sahabat untuk melakukan Qiyam Ramadhan dengan tidak membatasi rakaat tertentu. Sesungguhnya beliau ditanya tentang shalat Qiyam Lail beliau menjawab: shalat malam itu dikerjakan dengan 2 rakaat- 2 rakaat. Riwayat Imam al-Bukhariy dan Imam Muslim.
      Anggota Wakil Ketua Ketua
      Abdullah Ibn Qa’ûd. Abdurrazzaq Afîfiy. Abdul Azîz Ibn Bâz

      فتاوى للجنة الدائمة للبحوث العلمية و الافتاء : للشيخ أحمد بن عبد الرزاق الدويش ج 7 ص : 218 (دار الكتب 2004 )
      السؤال الرابع : من الفتوى رقم (3686)
      (س) وَفي الْحَدِيْثِ اَنَّ الرَّسُولَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ لاَتَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ . أَكَانَ يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ بِالتَّشَهُّدِ أَمْ لاَ ؟
      (ج) كان صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْتَتِحُ صَلاَةَ اللَّيْلِ بِرَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يُصَلِّي . فَثَبَتَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُا انها قالت رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ . وَفِي رِوَايَةٍ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عَشْرَ رَكَعَاتٍ يُسَلِّمُ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَيُوْتِرُ بِوَاحِدَةٍ . وَهَذا اللَّفْظُ يُفَسِّرُ الَّذِي قَبْلَهُ وَيُعْلَمُ أَنَّهُ يَفْصِلُ كُلَّ رَكْعَتَيْنِ بِتَشَهُّدٍ وَ سَلاَمٍ .
      عضو نائب الرئيس الرئيس
      عبد الله بن قعود عبد الرزاق عفيفي عبد العزيز بن عبد الله بن باز

      Artinya; Pertanyaan ke-4 dari fatwa no; 3686. Dalam hadis riwayat Imam al-Bukhari dari Siti Ai’syah yang mengatakan Rasulullah shalat 4 rakaat jangan engkau tanya bagaimana bagus dan lamanya shalat Rasulullah kemudian beliau shalat 4 rakaat jangan engkau tanya bagaimana bagus dan lamanya. Apakah beliau shalat 4 rakaat sekaligus salam atau dipisahkan antara 2 rakaat dengan salam?
      Jawaban: Seringkali Rasulullah mengawali shalat malam dengan 2 rakaat kemudian beliau melanjutkan shalat lainnya. Telah tetap keterangan Siti Ai’syah sesungguhnya ia berkata; Rasulullah shalat 4 rakaat jangan engkau tanya bagaimana bagus dan lamanya shalat Rasulullah kemudian beliau shalat 4 rakaat jangan engkau tanya bagaimana bagus dan lamanya. Dalam riwayat lain disebutkan Rasulullah shalat 10 rakaat beliau melakukan salam tiap 2 rakaat dan beliau mengerjakan 1 rakaat witir. Redaksi hadis ini menjelaskan hadis sebelumnya. Dapat diketahui bahwa Rasulullah memisahkan tiap 2 rakaat dengan tasyahud dan salam. (4 rakaat dalam hadis Siti A’isyah itu dilakukan 2 rakaat- 2 rakaat).

      Anggota Wakil Ketua Ketua
      Abdullah Ibn Qa’ûd. Abdurrazzaq Afîfiy. Abdul Azîz Ibn Bâz

      21) صلاة المؤمن (مفهوم وفضائل وادب وأنواع وأحكام وكيفية في ضوء الكتاب و السنة) : للشيخ الدكتور سعيد بن علي القحطاني ج 1 ص : 347 (مؤسسة الجريسي 2003)
      وَدَلَّ قَوْلُهَا يُصَلِّي أَرْبَعًا ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا عَلَى أَنَّ هُنَاكَ فَصْلاً بَيْنَ أَرْبَعِ اْلاُوْلَى وَأَرْبَعِ الثَّانِيَةِ وَالثَّلاَثَةِ اْلأَخِيْرَةِ ,وَيُسَلِّمُ فِي اْلأَرْبَعِ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ لِحَدِيْثِ عَائِشَةَ كَانَ يُصَلِّي اِحْدَى عَشَرَ رَكْعَةً وَيُوْتِرُ بِوَاحِدَةٍ وَفِي لَفْظٍ يُسَلِّمُ بَيْْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَيُوْتِرُ بِوَاحِدَةٍ , وَهَذَا يُفَسِّر الْحَدِيْثَ اْلأَوَّلَ وَاَنَّهُ يُسَلِّمُ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صَلاَةُ الَّليْلِ مَثْنَى مَثْنَى مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ .

      Artinya; Ucapan Siti Aisyah:”Beliau shalat 4 rakaat kemudian 4 rakaat” menunjukan bahwa disana ada pemisah antara 4 rakaat yang pertama dan 4 rakaat yang kedua serta 3 rakaat terakhir, Rasulullah mengerjakan shalat 4 rakaat dengan memberi salam pada tiap 2 rakaat karena ada keterangan hadis Siti Aisyah yang menyatakan: ”Beliau shalat 11 rakaat dan melakukan shalat Witir 1 rakaat”. Pada riwayat Imam Muslim:”Beliau memberi salam pada tiap 2 rakaat dan shalat Witir 1 rakaat, hadis ini menjelaskan maksud hadis pertama bahwa Rasulullah memberi salam pada tiap 2 rakaat. Sunguh Rasulullah telah bersabda:”Shalat malam 2 dilakukan dengan cara 2 rakaat-2 rakaat”.

      22) فتاوى نور علي الدرب :
      هل يجوز أن نصلى صلاة التراويح كل أربع ركعات بسلام وهل هذا موافق للسنة؟ فأجاب رحمه الله تعالى: لا يجوز للإنسان أن يصلى صلاة التراويح أربع ركعات بتسليمة واحدة لأن هذا خلاف هدي النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم فقد قال صلى الله عليه وسلم حين سئل عن صلاة الليل قال (مثنى مثنى) يعني أن وضعها الشرعي أن تكون مثنى مثنى بدون زيادة ولهذا قال الإمام أحمد بن حنبل رحمه الله (إذا قام إلى ثالثة يعني في التطوع في الليل فكأنما قام إلى ثالثة في الفجر) أي كما أنه لو قام إلى ثالثة في صلاة الفجر بطلت صلاته فكذلك إذا قام إلى ثالثة في صلاة التهجد فإنه تبطل صلاته إن كان متعمدا وإن كان ناسياً رجع متى ذكر وسلم وسجد سجدتين للسهو وقد ظن بعض الناس أن هذا أعني جمع أربع ركعات بتسليمة واحدة هو ما دل عليه حديث عائشة رضي الله عنها حين سئلت كيف كانت صلاة النبي صلى الله عليه وسلم في رمضان فقالت (كان لا يزيد في رمضان ولا غيره على إحدى عشر ركعة يصلى أربعاً فلا تسأل عن حسنهن وطولهن ثم يصلى أربعاً ثلاث فلا تسأل عن حسنهن وطولهن ثم يصلى ثلاث) فظن بعض الناس أن قولها يصلى أربعاً تعني بسلام واحد وليس الأمر كذلك لأنه قد ثبت عنها هي نفسها أنه كان يصلى إحدى عشر ركعة يسلم من كل اثنتين وعلى هذا يكون معنا قولها يصلى أربعا ثم يصلى أربعا أي أنه يصلى أربعاً بتسليمتين ثم يستريح بعض الشي ثم يستأنف فيصلى أربعا بتسليمتين ثم يستريح بعض الشي ثم يصلى ثلاث فمجمل كلامها يفسره مفصله لكن يستثنى من ذلك الوتر

      Dari keterangan di atas, para ulama bersepakat mengatakan:” Bahwa dalam pelaksanaan shalat Tarawih itu dengan cara 2 rakaat – 2 rakaat bukan 4 rakaat satu salam”.

      Sampai-sampai Syaikh Muhammad Ibn Abdul Wahhab, Syaikh Abdurrahman al-Sa’adiy, Syaikh Abdul Azîz Ibn Abdullah Ibn Bâz, Syaikh Muhammad Ibn Shalih Utsaymin, Syaikh Saîd Ibn Ali al-Qahtâniy dan kawan-kawan yang diakui, disanjung-sanjung dan dianggap sebagai pendiri sekaligus merupakan pentolan-pentolan ulama Wahhabi, mereka mengatakan bahwa: shalat Tarawih itu dilaksanakan dengan cara 2 rakaat – 2 rakaat bukan 4 rakaat satu salam. Lantas, ”Kenapa muncul pendapat yang mengatakan bahwa shalat Tarawih cara shalatnya 4 rakaat-4 rakaat.”???? Wahhabi jilid berapa mereka.”????

      http://yayasanalmuafah.blogspot.com/2014/07/komentar-berbagai-mazhab-tentang-hukum.html

  2. Ass Wr Wb, Sepertinya saudaraku keduanya beragama Islam. Apakah statement “biji matalu kendor” pantas diucapkan kepada saudaranya. Apakah cara saling mengajari kepada Saudaranya layak dengan cara kasar? dan kurang simpatik? Katanya Islam itu Rahmatan Lill Alamin. Kok seperti ini ya? Orang berilmu semakin menunduk bukan semakin congkak. TIdak bermaksud mengadili tetapi saran kepada Saudaraku berdua bersikaplah layaknya aturan Agama Islam. Allah tidak perlu Assistance untuk menyeleksi hambanya masuk Surga karena Allah Maha Tahu Saudaraku. Jalankan apa yang menjadi keyakinana Saudara sesuai dengan Al-Quran dan Hadits dari Sumber yang akurat tentunya.

    • Masih ada cara lain yang paling mudah untuk memahami hadis Siti Aisyah yakni dengan mencari ucapan Aisyah sendiri pada lain kesempatan. Kita tentu berhak mempertanyakan kembali apakah yang dimaksud Siti Aisyah 4 rakaat benar-benar sekali salam??? Ternyata Siti Aisyah sendiri sebagai periwayat hadis 4-4 menjelaskan dalam hadis lain bahwa yang dimaksud dengan 4 rakaat pelaksanaannya adalah dengan 2-2.

      Perhatikanlah penjelasan Siti Aisyah riwayat imam muslim pada hadis berikut ini:

      عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِيمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلَاةِ الْعِشَاءِ وَهِيَ الَّتِي يَدْعُو النَّاسُ الْعَتَمَةَ إِلَى الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُسَلِّمُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَيُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ فَإِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ مِنْ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَتَبَيَّنَ لَهُ الْفَجْرُ وَجَاءَهُ الْمُؤَذِّنُ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ثُمَّ اضْطَجَعَ عَلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ حَتَّى يَأْتِيَهُ الْمُؤَذِّنُ لِلْإِقَامَةِ.

      Artinya: Dari Aisyah berkata: ”Seringkali Rasulullah melakukan shalat antara selesai shalat Isya yang disebut orang dengan shalat ’Atamah sampai Fajar beliau mengerjakan shalat 11 rakaat, beliau melakukan salam pada tiap 2 rakaat dan melakukan 1 rakaat Witir. Apabila seorang Muadzzin selesai dari azan shalat Shubuh yang menandakan fajar telah datang, Muadzzin tersebut mendatangi beliau beliau pun melakukan shalat 2 rakaat ringan setelah itu beliau berbaring (rebah-rabahan) atas lambungnya yang kanan sampai Muadzzin itu mendatangi beliau untuk Iqamah.”

      Menurut ketentuan, jika seseorang telah menjelaskan maksud dari ucapannya sendiri, maka tidak ada seorang pun berhak memberikan penafsiran atau pemahaman yang menyalahinya. Nampak jelas, shalat dengan 2-2 rakaat lebih kuat ketimbang 4 rakaat sekali salam. Dengan kata lain shalat 2-2 rakaat terjamin kebenaran dan keabsahannya.

    • Masih ada cara lain yang paling mudah untuk memahami hadis Siti Aisyah yakni dengan mencari ucapan Aisyah sendiri pada lain kesempatan. Kita tentu berhak mempertanyakan kembali apakah yang dimaksud Siti Aisyah 4 rakaat benar-benar sekali salam??? Ternyata Siti Aisyah sendiri sebagai periwayat hadis 4-4 menjelaskan dalam hadis lain bahwa yang dimaksud dengan 4 rakaat pelaksanaannya adalah dengan 2-2.

      Perhatikanlah penjelasan Siti Aisyah pada hadis berikut ini:

      عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِيمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلَاةِ الْعِشَاءِ وَهِيَ الَّتِي يَدْعُو النَّاسُ الْعَتَمَةَ إِلَى الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُسَلِّمُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَيُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ فَإِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ مِنْ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَتَبَيَّنَ لَهُ الْفَجْرُ وَجَاءَهُ الْمُؤَذِّنُ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ثُمَّ اضْطَجَعَ عَلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ حَتَّى يَأْتِيَهُ الْمُؤَذِّنُ لِلْإِقَامَةِ.Artinya: Dari Aisyah berkata: ”Seringkali Rasulullah melakukan shalat antara selesai shalat Isya yang disebut orang dengan shalat ’Atamah sampai Fajar beliau mengerjakan shalat 11 rakaat, beliau melakukan salam pada tiap 2 rakaat dan melakukan 1 rakaat Witir. Apabila seorang Muadzzin selesai dari azan shalat Shubuh yang menandakan fajar telah datang, Muadzzin tersebut mendatangi beliau beliau pun melakukan shalat 2 rakaat ringan setelah itu beliau berbaring (rebah-rabahan) atas lambungnya yang kanan sampai Muadzzin itu mendatangi beliau untuk Iqamah.”

      Menurut ketentuan, jika seseorang telah menjelaskan maksud dari ucapannya sendiri, maka tidak ada seorang pun berhak memberikan penafsiran atau pemahaman yang menyalahinya. Nampak jelas, shalat dengan 2-2 rakaat lebih kuat ketimbang 4 rakaat sekali salam. Dengan kata lain shalat 2-2 rakaat terjamin kebenaran dan keabsahannya.

  3. ini kenapa kok jadi saling menyalahkan dan merasa paling benar…! Mbok ya saling menghormati saja perbedaan yang ada, toh semua ada dahlilnya masing-masing. ingat…! kita ini sama-sama muslim, dan muslim yang satu dgn yang lainnya itu adalah saudara.

    • bukan menyalahkan, tetapi kita mengamalkan ibadah harus berdasarkan dalil yang shahih. nyatanya tidak ditemukan di kalangan ulama ahli ijtihad yang mengamalkan shalat tarawih dengan tata cara 4 rakaat sekali salam.. bila ada tolong kasih tau saya siapakah nama ulama itu?

      • Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        يُصَلِّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ

        “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat 4 raka’at, maka janganlah tanyakan mengenai bagus dan panjang raka’atnya. Kemudian beliau melaksanakan shalat 4 raka’at lagi, maka janganlah tanyakan mengenai bagus dan panjang raka’atnya.”[1]

        Pun dong dereng..? semua itu ada dalilnya, trs mana dalil yg bisa sampe 23, 30, 41 ato berapa itu jumlahnya. sholat kok dikebut emang moto GP

    • Assalamu’alaikum Wr. Wb.
      beberapa waktu yg lalu, kami sudah menjawab dengan gamblang alasan dan dalil kami mengenai penolakan ulama terhadap pelaksanaan terawi 4 rakaat 1 salam di gruop FB yg saudara lampirkan di atas. banyak perdebatan terjadi. kami menguraikan banyak hadist dan pendapat serta ijtihad ulama yang telah kami kumpulkan dan pelajari, tidak itu saja, banyak orang pula yang mengomentari masalah tersebut, tetapi dengan seenaknya, pak amin, menghapus jawaban-jawaban kami dan teman-teman lainnya yang menolak pendapat beliau secara sepihak bahkan memblokir FB kami, sehingga kami tidak bisa menanggapi lagi jawaban tersebut. alasannya adalah kami tidak mau menyerahkan makalah.
      sungguh sangat disayangkan, seharusnya dia paham, ketika dia mengambil tulisan kami, hal itu juga merupakan makalah atau isi makalah, karena tulisan tersebut merupakan sedikit bagian dari buku yang ada.
      Dalam masalah etika pendidikan, tentu hal ini membuktikan bahwa saudara amin yang mengaku dosen dan telah menulis banyak buku, tidak ingin dirinya mendapat kritikan ataupun masukan dan hanya ingin menjatuhkan orang lain secara sepihak, tanpa memberikan kesempatan orang lain untuk membahas tulisan yang telah dibuatnya. apakah sikap ini pantas bagi seorang yang mengaku pendidik, penulis dan berpendidikan????
      kalau memangnya dalil yang dia nyatakan itu benar, tentu dia tidak perlu menghapus jawaban kami atau bisa mencari dukungan dari pendapatnya itu, tetapi dia tidak mampu dan hanya bisa meminta makalah dari kami.
      tidak hanya makalah, bukunya pun bisa kami berikan, tetapi kami hanya meminta jawaban dari beliau, ternyata untuk jawaban sesederhana itu beliau tidak mampu menjawabnya.
      saya pikir pak amin sebagai dosen hadist mengerti tentang hadist, ternyata dia tidak mengerti hadist. dia mengartikan hadist menurut pemikirannya sendiri. apakah ilmu yang dimilikinya saat ini pantas untuk membuat dirinya sebagai mujtahid??? jika demikian, seluruh ulama yang ada saat ini tentu akan mentertawakan hal tersebut.
      kami sebagai pencari ilmu, tentu sangat menyesali tindakan pak amin yang menghapus jawaban2 yang telah diberikan.
      jika anda pengguna FB, tolong sampaikan pada beliau, tolong pelajari ilmu dengan baik, benar dan sempurna. jangan sepotong-sepotong dan hanya copas dari tulisan yang ada. carilah atau belajarlah dari ulama dan guru yang mumpuni, bukankah orang yang belajar Al-Qur’an tanpa guru, seperti dia belajar dengan syaithan. Dia harus mempertanggungjawabkan isi hadist Aisya RA, yang diperkosa dengan pikirannya yang tumpul tersebut.
      tolong juga tanyakan, dia sebagai orang yang terkenal menulis buku, apakah pantas mengkritik tulisan orang lain, tetapi tidak menerima kritikan dan menyembunyikan kebenaran?
      jika anda mau berfikir, apakah dia pantas untuk dijadikan orang yang kita tuju untk berguru???

    • saya mo tanya siapa mujtahid yg mengamalkan tarawih 4 rakaat satu salam? dan gimana komentar anda tentang komentar para ulama ahli ijtihad dalam mazhab imam maliki dan imam ahmad bin hambal yg menyatakan kaifiyat 4 rokaat satu salam dlm mengerjakan shaalat tarawih hukumnya makruh dan dalam mazhab imam syafii tidak sah. ??? coba antum koreksi lagi perkataan aimmah dlm madzahibul arbaah? sya sudah kumpulkan sejak tahun 2009 lebih dari 90 nash dalam kitab mu’tabar, bahwa shalat tarawih dengan cara 4 rakaat satu salam hukumnya tidak sah. dan siti aisyah yg meriwayatkan hadis 4 rakaat itu menjelaskan bahwa 4 rakaat tersebut dengan 2 salam. coba liat hadis imam bukhori dan imam muslim.
      Perhatikanlah penjelasan Siti Aisyah pada hadis berikut ini:

      عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِيمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلَاةِ الْعِشَاءِ وَهِيَ الَّتِي يَدْعُو النَّاسُ الْعَتَمَةَ إِلَى الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُسَلِّمُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَيُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ فَإِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ مِنْ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَتَبَيَّنَ لَهُ الْفَجْرُ وَجَاءَهُ الْمُؤَذِّنُ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ثُمَّ اضْطَجَعَ عَلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ حَتَّى يَأْتِيَهُ الْمُؤَذِّنُ لِلْإِقَامَةِ

      Artinya: Dari Aisyah berkata: ”Seringkali Rasulullah melakukan shalat antara selesai shalat Isya yang disebut orang dengan shalat ’Atamah sampai Fajar beliau mengerjakan shalat 11 rakaat, beliau melakukan salam pada tiap 2 rakaat dan melakukan 1 rakaat Witir. Apabila seorang Muadzzin selesai dari azan shalat Shubuh yang menandakan fajar telah datang, Muadzzin tersebut mendatangi beliau beliau pun melakukan shalat 2 rakaat ringan setelah itu beliau berbaring (rebah-rabahan) atas lambungnya yang kanan sampai Muadzzin itu mendatangi beliau untuk Iqamah.>>>>

      orang-orang yang mengamalkan shalat tarawih dengan cara 4 rakaat sekali salam, hanya melihat zhahir satu hadis saja, tanpa mempertimbangkan hadis-hadis lain untuk dikompromikan dan direkonsiliasikan yang dalam istilah para pakar ulama hadis disebut(اَلْجَمْعُ وَالتَّوْفِيْقُ) . Mereka juga mengabaikan penjelasan para ulama. Sebuah kesalahan fatal, apabila mencoba memahami al-Qur’an dan hadis secara langsung tanpa mengerti pandangan dari para ulama terlebih dahulu.
      Syaikh Muhammad Ibn Abdul Wahhab, Syaikh Abdurrahman al-Sa’adiy, Syaikh Abdul Azîz Ibn Abdullah Ibn Bâz, Syaikh Muhammad Ibn Shalih Utsaymin, Syaikh Nur Ali al-Darab, Syaikh Abdullah Ibn Qaud, Syaikh Abdullah Bassam, Syaikh Saîd Ibn Ali al-Qahtâniy. Mereka adalah para pentolan ulama Wahhabi, mereka sepakat mengatakan bahwa: shalat Tarawih itu dilaksanakan dengan cara 2 rakaat – 2 rakaat. Lihat: Kitab Muallafat Syaikh Ibn Abdil Wahhab, juz 2 hal: 19; Fatawa Syaikh Abdurrahman al-Saadiy, hal: 175; Kitab Syaikh Muhammad Utsaymin: Syarh Shahih al-Bukhariy juz 4 hal: 238, dan Syarh Riyadhus Shalihin juz 3 hal: 265; Kitab Shalatul Mu’min juz 1 hal: 347, karya Syaikh Saîd Ibn Ali al-Qahtâniy. Begitu juga pendapat Syaikh Abdul Hamid Kisyik, Syaikh Muhammad Syaltut, Sayyid Ali Fikri, Sayyid Sabiq dan ulama lainnya mereka sepakat bahwa shalat Tarawih itu dilakukan dengan salam pada setiap 2 rakaat.
      Menurut para ulama, shalat Tarawih dengan formasi 4 rakaat sekali salam itu menyalahi prosedur perkataan dan perbuatan Nabi sebagaimana riwayat hadis Imam al-Bukhariy dari sahabat Nabi, Abdullah Ibn Umar:

      إِنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ صَلَاةُ اللَّيْلِ قَالَ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ . (صحيح البخاري رقم 1069)

      Artinya:”Sesungguhnya Seorang lelaki bertanya; Ya Rasulullah, bagaimana cara shalat malam? Rasulullah menjawab; Shalat malam itu 2 rakaat-2 rakaat. Maka apabila engkau khawatir subuh maka shalat witirlah engkau dengan satu rakaat.
      Lantas, ”Kenapa muncul pendapat yang mengatakan bahwa shalat Tarawih cara shalatnya 4 rakaat-4 rakaat.”???? Wahhabi jilid berapa mereka.”????
      Mungkin pendapat seperti itu berpangkal pada khayalan mereka saja. Padahal tidak ada satu pendapat ulamapun dalam kitab-kitab Mu’tabarah yang mengatakan Shalat Tarawih dikerjakan dengan cara 4 rakaat sekali salam, 4 rakaat sekali salam. Mereka telah menetapkan sesuatu tanpa ada dalil. Maka yang memfatwakan atau mengajarkan shalat Tarawih dilaksanakan dengan cara 4 rakaat sekali salam, merekalah yang bertanggung- jawab atas hal ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s