Qashidah al-Mudhariyyah

Shalawat Mudhariyyah Imam al-Bushiriy

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى الْمُخْتَارِ مِنْ مُضَرٍ

                                 وَاْلأَنْبِيَا وَجَمِيْعِ الرُّسْلِ مَا ذُكِرُوْا

“ّYa Allah, Ya Tuhanku, limpahkanlah rahmat-Mu untuk Nabi pilihan dari suku Mudhar, juga limpahkanlah untuk seluruh Nabi dan Rasul yang telah lalu.”

وَصَلِّ رَبِّ عَلَى الْهَادِي وَشِيْعَتِهِ

                                وَصَحْبِهِ مَنْ لِطَيِّ الدِّيْنِ قَدْ نَشَرُوْا

“Shalawat-Mu, wahai Tuhanku, atas Nabi pembawa hidayah beserta seluruh pengikut dan sahabatnya yang telah berjasa menyebarluaskan agama ini”

وَجَاهَدُوْامَعَهُفِىآلِوَاجْتَهَدُوْا

                                   وَهَاجَرُوْاوَلَهُآوَوْاوَقَدْنَصَرُوْا

“Mereka yang telah ikut berjihad dan berijtihad bersama beliau, juga yang ikut hijrah bersama Beliau, dan yang memberi tempat singgah serta memenangkan misi Beliau.’

وَبَيَّنُوْاالْفَرْضَوَالْمَسْنُوْنَوَاعْتَصَبُوْا

                                     لِلَّهِوَاعْتَصَمُوْابِاللهِفَانْتَصَرُوْا

“Mereka yang telah menerangkan hukum wajib dan sunah secara bersatu padu, berupaya tanpa pamrih, dan berpegang teguh pada agama Allah hingga mereka mendapatkan kemenangan.”

أَزْكَىصَلاَةٍوَأَنْمَاهَاوَأَشْرَفَهَا

                                    يُعَطِّرُالْكَوْنَرَيًّانَشْرِهَاالْعَطِرُ

“Yaitu shalawat yang paling suci, yang paling banyak, dan semulia-mulianya, yang menerbarkan harum semerbaknya di seluruh alam semesta”.

مَفْتُوْقَةًبِعَبِيْرِالْمِسْكِزَاكِيَةً

                                   مِنْطِيْبِهَاأَرَجُالرِّضْوَانِيَنْتَشِرُ

“Keharuman yang bercampur dengan misik kasturi yang mahal, yang aromanya tersebar luaslah keridhoan-Mu”.

عَدَّالْحَصَىوَالثَّرَىوَالرَّمْلِيَتْبَعُهَا

                               نَجْمُالسَّمَاوَنَبَاتُالْأَرْضِوَالْمَدَرُ

“Sebanyak jumlah bebatuan, pasir beserta debunya, juga sebanyak bintang gemintang di langit, tanaman, dan kerikil di bumi”.

وَعَدَّمَاحَوَتِاْلأَشْجَارُمِنْوَرَقٍ

                              وَكُلِّحَــرْفٍغَدَايُتْلَىوَيُسْتَطَرُ

“Juga sejumlah dedaunan yang terdapat di pepohonan, sebanyak semua huruf yang terbaca oleh lisan dan tertulis oleh pena”.

وَعَدَّوَزْنِمَثَاقِيْلِالْجِبَالِكَمَا

                               يَلِيْهِقَطْــرُجَمِيْعِالْمَاءِوَالْمَطَرُ

“Dan sejumlah beratnya timbangan gunung-gunung, sejumlah seluruh tetesan air yang mengalir dan air hujan”.

وَالطَّيْرِوَالْوَحْشِوَالْلأَسْمَاكِمَعْنَعَمٍ

                                   يَلِيْهِمُالْجِنُّوَالْمَلَكُوَالْبَشَـرُ

“Sebanyak jenis dan jumlah biantang liar, burung-burung, ikan dan hewan ternak. Juga sejumlah jin, malaikat dan manusia”.

وَالذَّرُّوَالنَّمْلُمَعْ جَمْعِالْحبُوْبِكَذَا

                              وَالشَّعْرُوَالصُّوْفُوَاْلأَرْيَاشُوَالْوَبَرُ

“Sebanyak jumlah atom, semut dan semua jenis biji-bijian, juga sejumlah helai rambut manusia, hewan, dan bulu segala jenis binatang”.

وَمَاأَحَاطَبِهِالْعِلْمُالْمُحِيْطُوَمَا

                              جَـرَىبِهِالْقَلَمُالْمَأْمُوْرُوَالْقَـدَرُ

“Seluas kandungan ilmu Allah tentang makhluk dan apa yang ditulis qalam (pena) yang memuat suratan takdir”.

وَعَدَّنَعْمَائِكَاللَّاتِىمَنَنْتَبِهَا

                             عَلَىالْخَلاَئِقِمُذْكَانُواوَمُذْحُشِرُوْا

“Sebanyak nikmat-nikmat-Mu, yang telah Engkau karuniakan kepada semua makhluk-Mu yang dahulu dan yang akan datang”.

وَعَدَّمِقْدَارِهِالسَّامِىالَّذِىشَرُفَتْ

                               بِهِالنَّبِيُّوْنَوَاْلأَمْـلاَكُوَافْتَـخَرُوْا

“Setinggi jumlah derajat yang dicapai oleh masing-masing nabi dan malaikat yg mulia dengan maqam tersebut”.

وَعَدَّمَاكَانَفِىاْلأَكْوَانِيَاسَنَدِى

                                  وَمَايَكُوْنُإِلَىأَنْتُبْعَثَالصُّوَرُ

“Sebanyak apa yang pernah ada kemudian tiada di alam jagat raya, dan apa yang masih ada maupun yang akan ada sampai kiamat”.

فِىكُلِّطَرْفَةِعَيْنٍيَطْرِفُوْنَبِهَا

                              أَهْلُالسَّمَوَاتِوَالأَرْضِيْنَأَوْيَذَرُوْا

“Sebanyak tiap kedipan mata yang digerakan setiap penduduk langit dan bumi dan yang mereka tinggalkan.”

مِلْءَالسَّمَوَاتِوَالأَرْضِيْنَمَعْجَبَلٍ

                         وَالْعَرْشِوَالْفَرْشِوَالْكُرْسِى وَمَاحَصَرُوْا

“Sepenuh isi langit dan bumi, gunung dan hamparan, dan seluas Arsy, kursiy, dan semua yang terdapat di dalamnya.”

مَاأَعْدَمَاللهُمَوْجُـوْدًاوَأَوْجَدَمَعْ

                              دُوْماًصَـلاَةًدَوَاماًلَيْسَتَنْحَصِـرُ

“Yang terus-menerus tiada henti selama Allah meniadakan yang ada dan mengadakan yang tiada dengan berkelanjutan tanpa batas.”

تَسْتَغْرِقُالْعَدَّ مَعْ جَمْعِالدُّهُوْرِكَمَا

                                  تُحِيْطُبِالْحَدِّلاَتُبْقِىوَلاَتَـذَرُ

“Yang melampaui batas tanpa hitungan, dan menembus seluruh zaman, yang terus berjalan menjangkau apapun tanpa menyisakan.”

لاَغَايَةًوَانْقِضَاءًيَاعَظِيْمُلَهَا

                                 وَلَالَهَاأَمَــدٌيُقْضَىفَيُعتَبَـرُ

“Yang tak berujung, tak berpangkal dan tak kenal habis, wahai Dzat Yang Maha Agung, Yang tak mengenal batas waktu hingga tak bisa dikira-kira.”

وَعَدَّأَضْعَافِمَاقَدْمَرَّمِنْعَـدَدٍ

                              مَعْ ضِعْفِأَضْعَافِهِيَامَنْلَهُالْقَـدَرُ

“Sebanyak jumlah kelipatan jumlah yang telah tersebut, ditambah kelipatan dari kelipatan tersebut, Wahai Dzat Yang Maha Kuasa melakukan segala sesuatu.”

مَعَالسَّلاَمِكَمَاقَدْمَرَّمِنْعَدَدٍ

                               رَبِّوَضَاعِفْهُمَاوَالْفَضْلُمُنْتَشِـرُ

“Beserta salam yang jumlahnya juga sebanyak bilangan di atas, Ya Rabbiy. Bahkan lipat gandakan nilai bilangan shalawat dan salam kami terus-menerus. Anugerah-Mu tak terbatas.”

كَمَاتُحِبُّوَتَرْضَىسَيِّدِىوَكَمَا

                                 أَمَــرْتَنَاأَنْنُصَلِّىأَنْتَمُقْتَدِرُ

“Seperti yang Engkau sukai dan ridhai, seperti shalawat yang Engkau perintahkan kepada kami, Engkaulah Yang Maha Kuasa.”

وَكُلُّ ذَلِكَمَضْرُوْبٌبِحَقِّكَفِى

                                أَنْفَاسِخَلْقِكَإِنْقَلُّوْاوَإِنْكَثُرُوْا

“Dan setiap shalawat serta salam tersebut dikalikan dengan jumlah seluruh napas makhluk-Mu, baik yang sedikit maupun yang banyak.”

يَارَبِّوَاغْفِرْلِقَارِيْهَاوَسَامِعِهَا

                               وَالْمُسْلِمِيْنَجَمِيْعاًأَيْنَمَاحَضَـرُوْا

“Ya Tuhanku, hapuskanlah dosa-dosa orang yang membaca shalawat ini, juga yang mendengarnya dan semua muslimin dimanapun mereka berada.”

وَوَالِـدِيْنَاوَأَهْلِيْنَاوَجِيْرَتِنَا

   وَكُلُّنَاسَيّدِىلِلْعَفْـوِمُفْتَقِـرُ

“Juga kedua orang tua kami, tetangga kami. Dan kami semua, Ya Tuhan, sangat membutuhkan ampunan-Mu.”

وَقَدْأَتَيْتُذُنُوْباًلاَعِدَادَلَهَا

                                 لَكِنَّعَفْـوَكَلاَيُبْقِىوَلاَيَـذَرُ

“Sungguh, aku telah melakukan dosa-dosa yang tak terhitung jumlahnya, namun luasnya ampunan-Mu dapat menghapuskan dosa-dosa tersebut sampai tak tersisa.”

وَالْهَمُّعَنْكُلِّمَاأَبْغِيْهِأَشْغَلَنِى

                                 وَقَدْأَتَىخَاضِعاًوَالْقَلْبُمُنْكَسِرُ

“Kepayahan dalam usaha mencari apa yang kuharapkan telah menyita banyak waktuku, sekarang aku datang bersimpuh dihadapan-Mu dalam kehinaan.”

أَرْجُوْكَيَارَبِّفِىالدَّارَيْنِتَرْحَمُنَا

                                بِجَاهِمَنْفِىيَـدَيْهِسَبَّحَالْحَجَرُ

“Tuhanku, aku memohon agar Engkau mengasihi kami di dunia dan akhirat dengan kemuliaan orang yang batupun bertasbih di tangannya (Nabi Muhammad)

يَارَبِّأَعْـظِمْلَنَاأَجْراًوَمَغْفِرَةً

                               فَإِنَّجُوْدَكَبَحْـرٌلَيْسَيَنْحَصِـرُ

“Ya Tuhanku, besarkan dan limpahkan untuk kami pahala serta ampunan-Mu, karena kemurahan-Mu bagai lautan tak bertepi.”

وَاقْضِدُيُوْناًلَهَااْلاَخْلَاقُضَائِقَةٌ

                                 وَفَـرّجِالْكَرْبَعَنَّاأَنْتَمُقْتَدِرُ

“Dan lunaskanlah hutang-hutang kami, yang membuat ruang gerak kami seakan menjadi sempit, dan bebaskan kami dari kesulitan yang menimpa kami, Engkau Maha Kuasa.”

وَكُـنْلَطِيْفاًبِنَافِىكُلِّنَازِلَةٍ

                                لُطْفاًجَمِيْلًَابِهاْلأَهْوَالُتَنْحَسِـرُ

“Dan kasihanilah kami pada setiap bencana yang melanda kami, karena dengan kasih-Mu segala yang menakutkan itu akan sirna.”

بِالْمُصْطَفَىالْمُجْتَبَىخَيْرُاْلأَنَامِوَمِنْ

                               جَـلاَلِهِنَزَلتْفِىمَدْحِـهِالسُّوَرُ

“Dengan kemuliaan al-Mushthafa al-Mujtaba (Rasulullah), sebaik-baik manusia, yang telah turun ayat-ayat suci berisi pujian dan sanjungan terhadap Rasulullah.”

ثُمَّالصَّلاَةُعَلَىالْمُخْتَارِمَاطَلَعَتْ

                            شَمْسُالنَّهَارِوَمَاقَـدْشَعْشَعَالْقَمَرُ

“Kemudian sebagai penutup, semoga kasih sayang-Mu selalu terlimpah untuk al-Mukhtar (Yang Terpilih), selama matahari masih terbit dan rembulan masih memancarkan sinarnya.”

ثُمَّالرِّضَاعَنْأَبِىبَكْرٍخَلِيْفَتِهِ

                               مَنْقَامَمِنْبَعْـدِهِلِلدِّيْنِيَنْتَصِـرُ

“Kami memohon pula ridho-Mu untuk Khalifah Abu Bakar, yang telah berjasa mengemban misi agama ini setelah Beliau tiada hingga berhasil.”

وَعَنْأَبِىحَفْصِنِ الْفَارُوْقِصَاحِبِهِ

                              مَنْقَوْلُهُالْفَصْلُفِىأَحْـكَامِهِعُمَرُ

“Begitu pula untuk Abu Hafsh al-Faruq Sayyidina Umar bin Khathab, orang yang perkataannya terkenal selalu benar dan yang tegas dalam menegakkan hukum.”

وَجُدْلِعُثْمَانَذِىالنُّوْرَيْنِمَنْكَمُلَتْ

                               لَهُالْمَحَاسِنُفِىالدَّارَيْنِوَالظَّفَـرُ

“Juga untuk Sayyidina Utsman bin Affan Dzun-Nurain (orang yg memiliki dua cahaya), yang memiliki kebaikan dan kemenangan sempurna dunia dan akhirat.”

كَذَاعَلِىٌّمَعَابْنَيْهِوَأُمِّهِمَا

                                  أَهْلُالْعَبَاءِكَمَاقَدْجَاءَنَاالْخَبَرُ

“Juga untuk Sayyidina Ali serta kedua putranya dan ibu kedua putranya (Sayyidah Fatimah), mereka itu adalah Ahlul-Aba (keluarga dalam pelukan selimut kasih sayang Nabi) sebagaimana disebutkan dalam hadis.”

كَذَاخَدِيْجَتُنَاالكُبْرَىالَّتِىبَذَلَتْ

                                    أَمْـوَالَهَالِرَسُوْلِاللهِيَنْتَصِـرُ

“Begitu pula untuk Siti Khodijah al-Kubra, wanita yang mengorbankan hartanya untuk dakwah Rasulullah hingga Beliau meraih kemenangan.”

وَالطَّاهِرَاتُنِسَاءُالْمُصْطَفَىوَكَذَا

                                    بَنَاتُهُوَبَنُوْهُكُلَّمَاذُكِــرُوْا

“Dan para wanita suci, istri-istri Nabi al-Musthafa, juga untuk putra dan putri beliau selama mereka dikenang.”

سَعْدٌسَعِيْدُبْنُعَوْفٍطَلْحَةٌوَأَبُوْ

                                 عُبَيْدَةٍوَزُبَيْرٌسَـادَةٌغُـــرَرُ

“Juga untuk para sahabat Nabi, Sa’ad bin Abi Waqas, Sa’id bin Zubair, Abdurahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidah bin Jarrah dan Zubair bin Awwam, pemimpin-pemimpin yang berwibawa.”

وَحَمْزَةٌوَكَذَاالْعَبَّاسُسَيِّدُنَا

                                وَنَجْلُهُالْحَبْرُمَنْزَالَتْبِهِالْغِيَـرُ

“Begitu juga untuk Hamzah dan Abbas beserta putranya (Abdullah bin Abbas), seorang ulama yang dapat menyelesaikan berbagai masalah sesulit apapun.”

وَاْلأَلُوَالصَّحْبُوَاْلأَتْبَاعُقَاطِبَةً

                               مَاجَنَّلَيْلُالدَّيَاجِىأَوْبَدَاالسَّحَرُ

“Dan untuk keluarga, sahabat, dan pengikutnya selama malam masih beredar, atau selama fajar masih menyingsing.”

مَعَالرِّضَامِنْكَفِىعَفْوٍوَعَافِيَةٍ

                                 وَحُسْنُخَاتِمَةٍإِنْيَنْقَضِىالْعُمُرُ

“(Semua itu) beserta keridhaan, ampunan, serta kesejahteraan dari-Mu, dan semoga khusnul khatimah dapat tercapai menjelang ajal nanti.”

Para ulama menamakan shalawat di atas dengan nama shalawat al-Mudhariyyah lantaran diambil dari kata yang ada pada permulaan shalawat tersebut:

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى الْمُخْتارِ مِنْ مُضَرٍ

“ّYa Allah, Ya Tuhanku, limpahkanlah rahmatMu untuk Nabi pilihan dari keturunan Mudhar.

Pada silsilah datuk Rasulullah, disebutkan bahwa Mudhar adalah bapak dari Ilyas. Mudhar juga merupakan anak dari Nizar Ibn Ma’ad. Nama asli Mudhar adalah Umar. Ia dipanggil dengan sebutan Mudhar karena ia sangat suka minum susu yang masam. Pendapat lain mengatakan, ia disapa dengan sebutan Mudhar karena siapa saja yang memandangnya, maka terpesonalah hatinya.[1]


[1] Syaikh Muhammad Nawawi Ibn Umar al-Bantaniy, Madarij al-Su’ud Ila Iktisa al-Burud (Semarang: Toha Putra) h. 7.

Keutamaan Shalawat al-Mudhariyyah

Diantara keutamaannya adalah siapa saja yang secara rutin membaca shalawat al-Mudhariyyah setiap selesai shalat fardhu akan dimudahkan di akhir hayatnya mendapatkan husnul khatimah (penutup hidup yang baik) dan masuk surga.

Sayyid Ahmad Ibn Hasan al-Atthas mengatakan:

قِرَاءَةُ الصَّلاَةِ الْمُضَرِيَّةِ تَعْدِلُ ثَلاَثًا اَوْ عَشْرًا مِنْ دَلاَئِلِ الْخَيْرَاتِ

Artinya:” Membaca shalawat al-Mudhariyyah satu kali pahalanya seperti pahala membaca tiga kali atau sepuluh kali kitab shalawat Dalailul Khairat (karya Imam Muhammad Sulaiman al-Jazuliy).”[1]

Pada tahun 1079 H, al-Habib Abdullah Ibn Alawiy al-Haddad pernah diminta oleh seseorang dari kota Oman agar beliau membuatkan Takhmis (gubahaan syair dengan 5 sajak) atas Qashidah al-Mudhariyyah, lantaran Qashidah dalam bentuk Takhmis sangat masyhur di Negara Oman.

Imam al-Bushiriy menyusun Qashidah al-Mudhariyyah di pinggir pantai. Ketika Qashidah tersebut sampai bait:

ثُمّالصَّلاَةُعَلَىالْمُخْتَارِمَاطَلَعَتْ*  شَمْسُالنَّهَارِوَمَاقَـدْشَعْشَعَالْقَمَرُ

“Kemudian sebagai penutup, semoga kasih sayang-Mu selalu terlimpah untuk al-Mukhtar (Yang Terpilih), selama matahari masih terbit dan rembulan masih memancarkan sinarnya.”

Ada seseorang berjalan di atas air laut menghampiri beliau dan orang itu berkata:

قِفْ اِلَى هُنَا , لَقَدْ اَتْعَبْتَ الْمَلاَئِكَةَ بِكِتَابَةِ فَضْلِهَا .

Artinya:  “Berhentilah sampai bait itu. Sungguh engkau telah membuat para malaikat lelah (karena terlalu banyak) mencatatkan keutamaan pahalanya.”[2]

Imam al-Bushiriy pun segera menutup Qashidah al-Mudhariyyah dengan permohonan ridha Allah untuk keluarga Rasulullah dan para Sahabatnya.

Perhatian ulama terhadap Qashidah al-Mudhariyyah cukup besar, terbukti dengan banyaknya para ulama yang memberikan komentar atas Qashidah tersebut diantaranya:

  1. Syarh Qashidah al-Mudhariyyah karya Syaikh Muhammad Ibn Muhammad al-Thayyib al-Fasiy
  2. al-Thal’at al-Badriyyah Syarh Qashidah al-Mudariyyah karya Syaikh Abdul Ghaniy Ibn Ismail al-Nabulsiy
  3. al-Sya’sya’ al-Qamariyyah Syarh Qashidah al-Mudhariyyah karya Syaikh Ishamuddin Mushtafa al-Rumiy
  4. al-Kawakib al-Saniyyah Syarh Qashidah al-Mudhariyyah karya Syaikh Ahmad Ibn Shalih al-Tharabalsiy al-Hanafiy
  5. al-Hidayatus Safariyyah Wa al-Hadhariyyah Syarh Qashidah al-Mudhariyyah karya Syaikh Sulaiman al-Rumiy Mustaqim Zadah

dikutip dari buku:

فَاتِحُ اْلأَسْرَارِ وَمُفَرِّجُ الْهُمُوْمِ وَاْلأَغْيَار

فِي فَضَائِل ِاَحَدَ عَشَرَ صَلَوَاتٍ عَلَى النَّبِيّ الْمُخْتَار

Pembuka Segala Rahasia Penghempas Lara Dan kesulitan

Dalam Menguak Keutamaan 11 Shalawat Para Auliya

kepada Nabi Muhammad

H. Rizki Zulqornain Asmat Cakung

Khodimut Thalabah Yayasan al-Muafah


[1] Habib Ali Ibn Hasan Baharun, Fawaid al-Mukhtarah Li Salik Thariq al-Akhirah (Pasuruan: Ma’had Darul Lughah 2009) h. 220.

[2] Sayyid Alawiy Ibn Ahmad Ibn Hasan Ibn Abdullah al-Haddad, Syarh Ratib al-Haddad (al-Hawiy: Tarim 2005) h. 454.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s