Dalil Kebolehan Berdoa Ketika Membaca Potongan Ayat-ayat al-Qur’an

Dalil Kebolehan Berdoa Ketika Membaca Potongan Ayat-ayat al-Qur’an

          Imam Muslim Meriwayatkan dari Huzaifah:

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَصَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ فَقُلْتُ يَرْكَعُ عِنْدَ الْمِائَةِ ثُمَّ مَضَى فَقُلْتُ يُصَلِّي بِهَا فِي رَكْعَةٍ فَمَضَى فَقُلْتُ يَرْكَعُ بِهَا ثُمَّ افْتَتَحَ النِّسَاءَ فَقَرَأَهَا ثُمَّ افْتَتَحَ آلَ عِمْرَانَ فَقَرَأَهَا يَقْرَأُ مُتَرَسِّلًا إِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَسْبِيحٌ سَبَّحَ وَإِذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ وَإِذَا مَرَّ بِتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ .

Artinya:”Dari Hudzaifah berkata: Aku shalat bersama Rasulullah pada suatu malam. Maka beliau memulai dengan Surat al-Baqarah, aku berkata beliau ruku’ setelah membaca 100 ayat. Kemudian beliau lakukan hal tersebut pada setiap satu rakaat. Kemudian An nisa’. Kemudian dengan Surat Ali Imran. Beliau membacanya dengan lepas. Jika beliau melewati ayat tentang tasbih, maka beliau mengucapkan tasbih. Dan jika melewati ayat permohonan, maka beliau memohon. Dan jika melewati ayat tentang perlindungan, maka beliau meminta perlindungan”.[1]

Imam Abu Dawud, Imam Nasa’i, Imam Ahmad dan yang lainnya meriwayatkan dari Auf Ibn Malik :

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ قَالَ قُمْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَقَامَ فَقَرَأَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ لَا يَمُرُّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إِلَّا وَقَفَ فَسَأَلَ وَلَا يَمُرُّ بِآيَةِ عَذَابٍ إِلَّا وَقَفَ فَتَعَوَّذَ

Artinya: “Dari Auf Ibn Malik berkata: Aku melakukan qiyamul lail bersama Rasulullah pada suatu malam. Maka beliau berdiri membaca Surat al-Baqarah. Beliau tidak melewati ayat tentang rahmat, kecuali beliau berhenti dan memohon dan tidak melewati ayat tentang adzab, kecuali berhenti dan meminta perlindungan.”[2]

Imam Abu Dawud, Tirmidzi dan Imam al-Baihaqiy meriwayatkan hadits :

سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ مِنْكُمْ{ وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ } فَانْتَهَى إِلَى آخِرِهَا { أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ } فَلْيَقُلْ بَلَى وَأَنَا عَلَى ذَلِكَ مِنْ الشَّاهِدِينَ وَمَنْ قَرَأَ { لَا أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ } فَانْتَهَى إِلَى { أَلَيْسَ ذَلِكَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَى } فَلْيَقُلْ بَلَى وَمَنْ قَرَأَ { وَالْمُرْسَلَاتِ } فَبَلَغَ { فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ } فَلْيَقُلْ آمَنَّا بِاللَّهِ .

Artinya:“Siapa saja yang membaca Wattini Wazzaitun sampai akhirnya, maka hendaklah berkata : “ بَلى وَأَنَا عَلَى ذلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ ” (Ya, dan aku adalah sebagain dari orang-orang yang bersaksi terhadap hal itu). Siapa saja yang membaca Surat  al-Qiyamah dan sampai akhir : أَلَيْسَ ذَلِكَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَى “Bukankah yang itu benar-benar mampu untuk menghidupkan orang-orang yang mati”, hendaklah dia berkata : بَلَى “Ya”. Siapa saja yang membaca Surat al-Mursalat dan sampai kepada : فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ“Dan dengan perkataan mana setelah itu mereka itu beriman”, maka hendaklah dia berkata : آمَنَّا بِاللَّهِ “Kami beriman kepada Allah”.[3]

Imam Ahmad, Imam Abu Dawud, Imam al-Thabaraniy meriwayatkan dari Ibnu Abbas:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَرَأَ{ سَبِّحْ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى } قَالَ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى .

Artinya:”Dari Ibn Abbas berkata: Bahwa Rasulullah jika membaca Surat al-A’la maka beliau berkata : سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى“ Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi’.[4]

Imam al-Tirmidzi meriwayatkan dari Jabir bahwa dia berkata :

عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَصْحَابِهِ فَقَرَأَ عَلَيْهِمْ سُورَةَ الرَّحْمَنِ مِنْ أَوَّلِهَا إِلَى آخِرِهَا فَسَكَتُوا فَقَالَ لَقَدْ قَرَأْتُهَا عَلَى الْجِنِّ لَيْلَةَ الْجِنِّ فَكَانُوا أَحْسَنَ مَرْدُودًا مِنْكُمْ كُنْتُ كُلَّمَا أَتَيْتُ عَلَى قَوْلِهِ{ فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ } قَالُوا لَا بِشَيْءٍ مِنْ نِعَمِكَ رَبَّنَا نُكَذِّبُ فَلَكَ الْحَمْدُ .

Artinya:“Dari Jabir semoga Allah memberikan keridhaan kepadanya berkata: Rasulullah keluar menuju para sahabatnya. Dia membaca di hadapan mereka surat ArRahman dari awal sampai akhir. Mereka diam. Dia berkata : “Aku telah membacanya di hadapan para jin. Mereka itu lebih baik jawabannya dari pada kalian. Setiap aku membaca firman Allah فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ: maka terhadap nikmat Tuhanmu yang manakah kamu berdua mendustakan”, mereka berkata : لَا بِشَيْءٍ مِنْ نِعَمِكَ رَبَّنَا نُكَذِّبُ فَلَكَ الْحَمْدُ“Tidak satu pun nikmat-Mu, Wahai Tuhan kami yang kami dustakan. Segala puji adalah mulik-Mu”.[5]

Imam Nawawiy al-Dimasyqiy menyebutkan riwayat Imam al-Sya’biy:

عَنِ الشَّعْبِيِّ أَنَّهُ قِيْلَ لَهُ إِذَا قَرَأَ اْلِإنْسَانُ إنَّ اللهَ ومَلاَئِكَتِهِ يُصلونَ عَلى النَّبيِ يُصَلِّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ نَعَمْ .

Artinya:”Dari Imam al-Sya’biy sesungguhnya beliau ditanya orang, Apabila seseorang membaca ayat : إنَّ اللهَ ومَلاَئِكَتِهِ يُصلونَ عَلى النَّبيapakah ia boleh membaca shalawat kepada Nabi, Imam Sya’biy menjawab: Boleh.”[6]

Ibnu Mardawaih, Dailami, Ibnu Abid Dunya dalam Bab tentang do’a dan yang lainnya meriwayatkan dari Jabir :

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قرأ : {وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ } الآيةَ ثُمَّ قَالَ : اَللَّهُمَّ أَنْتَ أَمَرْتَ بِالدُّعَاءِ وَتَكَفَّلْتَ بِاْلإِجَابَةِ ، لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ ، أَشْهَدُ أَنَّكَ رَبٌّ وَاحِدٌ صَمَدٌ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًّا أَحَدٌ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ وَعْدَكَ حَقٌّ وَلِقَاءَكَ حَقٌّ ، وَالْجَنَّةَ حَقٌّ ، وَالنَّارَ حَقٌّ ، وَإَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لاَ رَيْبَ فِيْهَا وَأَنَّكَ تَبْعَثُ مَنْ فِى اْلقُبُوْرِ .

Artinya:”Dari Jabir bahwa Rasulullah membaca firman Allah : {وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ} Jika hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka katakanlah Aku dekat“. al-Ayat. Maka Nabi berkata : “Ya Allah. Engakau menyuruh untuk berdo’a dan engkau menjamin akan dikabulkan. Aku penuhi panggilan-Mu, Ya Allah. Aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian dan nikmat itu adalah milik-Mu. Dan kerajaan, tidak ada sekutu bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa Engkau adalah satu-satunya sebagai tempat bergantung. Engaku tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang menanding-Mu. Dan aku bersaksi bahwa janji-Mu adalah benar, pertemuan dengan-Mu adalah benar. Surga itu benar. Neraka itu benar. Hari kiamat itu akan datang, tidak ada keraguan di dalamnya dan Engkau akan membangunkan orang-orang dari kubur”.[7]

Dari riwayat-riwayat di atas, dapat kita ketahui bahwa pembacaan doa-doa dari potongan ayat-ayat al-Qur’an yang berisi tentang rahmat atau azab, kita dianjurkan untuk meminta hajat dan mohon perlindungan kepada Allah. Dari riwayat-riwayat tersebut terungkaplah kebohongan dan kebatilan orang yang mengatakan: “Doa-doa tersebut tidak boleh dibaca, karena tidak ada dalam hadis Nabi dan membaca al-Qur’an tidak boleh dipotong-potong.”

Perlu diketahui bahwa: pembacaan doa-doa permohonan dan perlindungan bukan hanya disunnahkan ketika membaca ayat-ayat yang disebutkan di atas, tetapi setiap kita membaca atau mendengar ayat-ayat al-Qur’an yang menyebutkan tentang rahmat, maka kita dianjurkan untuk berdoa memintanya. Begitu juga setiap ayat-ayat yang menceritakan tentang azab, maka kita dianjurkan untuk berdoa meminta perlindungan. Imam Nawawiy al-Dimasyqiy mengatakan:

وَقَدْ نَصَّ بَعْضُ أَصْحَابِنَا عَلَى أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يُقَالَ فِي الصَّلاَةِ مَا قَدَّمْنَاهُ وَكَذَالِكَ يُسْتَحَبُّ أَنْ يُقَالَ بَاقِي مَا ذَكَرْنَاهُ وَمَا كَانَ فِي مَعْنَاهُ وَاللهُ أَعْلَمُ .

Artinya:”Sungguh para pengikut mazhab Imam Syafii menyebutkan Nash bahwa dianjurkan untuk membaca doa-doa tersebut sekalipun di dalam shalat. Begitu juga dianjurkan membaca doa permohonan dan perlindungan pada ayat-ayat lainnya dalam al-Qur’an yang memiliki arti rahmat dan azab. Allah Maha Mengetahui.”[8]


[1] Riwayat Imam Muslim dalam kitab Shahihnya hadis no: 1291.

[2] Riwayat Imam Abu Daud dalam kitab Sunannya hadis no: 739; Imam Nasaiy dalam kitab Sunannya hadis no: 718  dan Imam Ahmad dalam Musnadnya hadis no:22855.

[3] Riwayat Imam Abu Daud dalam kitab Sunannya hadis no: 753; Imam Tirmidziy dalam kitab Sunannya hadis no: 3270 dan Imam al-Baihaqiy dalam kitab Syuab al-Iman hadis no: 2097.

[4] Riwayat Imam Abu Daud dalam kitab Sunannya, hadis no: 749; Imam Ahmad dalam kitab Musnadnya, hadis no: 1962 dan Imam al-Thabaraniy dalam Mu’jam al-Kabir, hadis no: 12335.

[5] Riwayat Imam al-Tirmiziy dalam kitab Sunannya, hadis no: 3213.

[6] Imam Nawawiy al-Dimasyqiy, al-Tibyan Fi Adab Hamalah al-Qur’an(Beirut: Dar al-Fikr 1992) h. 81.

[7] Imam al-Suyuthiy dalam al-Jami’ al-Kabir, hadis no: 37055.

[8]  Imam Nawawiy al-Dimasyqiy, al-Tibyan Fi Adab Hamalah al-Qur’an(Beirut: Dar al-Fikr 1992) h. 81.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s