Keutamaan Shalat Janazah

Keutamaan Shalat Jenazah

Doa-doa ampunan dan kasih sayang dari orang yang hidup sangat diharapkan oleh mayyit sebagaimana disebutkan dalam keterangan hadis:

مَا الْمَيِّتُ فِي اْلقَبْرِ إِلاَّ كَالْغَرِيْقِ اْلمُتَغَوِّثِ يَنْتَظِرُ دَعْوَةً تَلْحَقُهُ مِنْ أَبٍ أَوْ أُمٍّ أَوْ أَخٍ أَوْ صَدِيْقٍ فَإِذَا لَحِقَتْهُ كَانَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَ مَا فِيْهَا .

Artinya: “Mayyit di dalam kuburnya tak ubahnya seperti orang yang nyaris tenggelam, yang meminta tolong untuk keselamatan dirinya. Dia menunggu-nungu kiriman doa dari orang-orang yang masih hidup: ayahnya, ibunya, anaknya, atau sahabat dekatnya. Maka, apabila doa yang ditunggu-tunggu itu datang kepadanya, dia sangat bersuka cita melebihi bila dia diberikan dunia beserta isinya.”[1]

Ada beberapa hadis yang menjelaskan keutamaan yang diraih oleh orang yang melakukan shalat janazah. Antara lain :

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّيَ فَلَهُ قِيرَاطٌ وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ .

Artinya:”Sesungguhnya Abi Hurairah berkata: Rasulullah bersabda,”Siapa yang mengantar janazah dan menshalatinya, maka dia akan mendapat balasan satu qirath. Siapa yang mengantarnya hingga selesai di kuburkan, maka dia mendapat 2 qirath. Ditanyakan seperti apakah 2 qirath itu? beliau menjawab seperti 2 gumung yang besar.”[2]

Dalam riwayat lain:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ وَلَمْ يَتْبَعْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ فَإِنْ تَبِعَهَا فَلَهُ قِيرَاطَانِ قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ .

Artinya:”Dari Abi Hurairah berkata bahwa Rasulullah bersabda,”Siapa yang menshalat janazah tetapi tidak mengantar ke kuburan, maka dia akan mendapat balasan satu qirath. Siapa yang mengantarnya hingga selesai di kuburkan, maka dia mendapat 2 qirath. Ditanyakan seperti apakah 2 qirath itu? beliau menjawab paling kecil dari keduanya seperti gunung uhud.[3]

Sangat besar keutamaan melakukan shalat janazah atas mayyit, betapa banyak tumpukan pahala sebesar gunung Uhud luput dari kita ketika ada seorang muslim yang meninggal dunia padahal kita mempunyai waktu dan kesempatan, tetapi kita tidak hadir untuk menyalati janazahnya.

Masih banyak kita lihat di berbagai tempat, ketika ada shalat janazah banyak orang-orang yang hadir ke masjid atau mushalla tetapi mereka tidak melakukan shalat janazah, malah mereka berkumpul nongkrong di pinggir jalan tak ubahnya bagaikan orang yang menunggu metro mini. Atau juga kita saksikan para tetangga masjid atau mushalla, yang memiliki waktu luang ketika ada shalat janazah mereka seolah-olah tidak perduli, bahkan mereka hanya nyongok sebentar laksana bebek yang ada dalam keramba.

Entah apa sebabnya sehingga mereka kurang antusias untuk memberikan doa kepada saudaranya yang telah meninggl dunia. Apakah sebagian mereka tidak tahu bagaimana cara melakukan shalat janazah atau mungkin sebagian mereka menyangka bahwa diri mereka sudah kebanyakan pahala.

Semestinya kita memiliki kesadaran yang tinggi terhadap hak-hak saudara kita yang telah meninggal. Seandainya kita mendengar atau mengetahui si fulan telah meninggal, walaupun tanpa diundang dan kita memiliki waktu, maka jangan sungkan untuk hadir dalam shalat jznazahnya, terlebih istimewa lagi apabila yang meninggal tersebut merupakan orang shalih. Disebutkan oleh ulama:

اََوَّلُ كَرَامَةٍ لِلْمَيِّتِ الصَّالِحِ اَنَّ اللهَ غَفَرَ لِمَنْ صَلَّى عَلَيْهِ .

Artinya:”Kemulian yang pertama kali Allah berikan kepada mayyit orang shalih, adalah bahwa Allah memberikan ampunan bagi siapa saja yang menyalati janazahnya

Dikisahkan bahwa Imam Syafii (150-204 H) pernah berwashiat agar Sayyidah Nafisah Bint Hasan Bin Zaid Bin Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib (145-208 H) ikut menyalati janazah beliau. Tatkala janazah Imam Syafii dibawa kemudian melewati rumah Sayyidah Nafisah dan dibawa masuk janazah Imam Syafii untuk dishalatkan oleh Sayyidah Nafisah. Pada shalat tersebut diimami oleh Syaikh Ya’qub al-Buwaithiy salah seorang murid utama Imam Syafii dan Sayyidah Nafisah Shalat di belakang menjadi ma’mum. Para ulama mengatakan:”Allah telah memberikan ampunan kepada siapa saja yang menyalati janazah Imam Syafii dengan kemulian Imam Syafii. Dan Allah telah memberikan ampunan kepada Imam Syafii dengan shalat janazah yang dilakukan oleh Sayyidah Nafisah.[4]

Habib Abdurrahman Ibn Alawiy Shahib al-Buthaiha pernah diimpikan dalam tidur seseorang, lalu orang itu bertanya kepada beliau: Ya Syekh, apa yang Allah berikan kepada engkau? Beliau menjawab: Allah telah memberikan ampunan kepadaku dan kepada orang-orang yang menyalati janazahku.[5]

Lebih dikuatkan lagi perintah menyalatkan janazah pada janazah yang dishalatkan pada waktu-waktu istimewa, seperti berbetulan dengan hari Arafah (tanggal 9 Dzul Hijjah), 2 hari raya I’d (I’dul fithri dan I’dul Adha), hari Asyura (10 Muharram) dan hari jum’at atau malam jum’at. Lantaran waktu-wktu tersebut memiliki keutamaan tersendiri dalam keberkahannya. Sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh Abdul Hamid al-Syarawaniy:

وَلَعَلَّ وَجْهَ التَّأَكُّدِ أَنَّ مَوْتَهُ فِي تِلْكَ الْأَوْقَاتِ عَلَامَةٌ عَلَى زِيَادَةِ الرَّحْمَةِ لَهُ فَيُسْتَحَبُّ الصَّلَاةُ عَلَيْهِ تَبَرُّكًا بِهِ حَيْثُ اُخْتِيرَ لَهُ الْمَوْتُ فِي تِلْكَ الْأَوْقَاتِ وَظَاهِرُهُ وَإِنْ عُرِفَ بِغَيْرِ الصَّلَاحِ .

Artinya:”Kemungkinan jalan menjadi kuatnya anjuran shalat janazah sesungguhnya orang yang meninggal pada waktu-waktu tersebut, merupakan tanda bertambahnya kasih saying Allah bagi si mayyit. Maka dianjurkan untuk menyalatinya sebagai bentuk mencari berkah pada waktu-waktu utama, sekira si mayyit diberikan keistimewaan meninggal pada waktu-waktu tersebut. Padahal zhahirnya si mayyit dikenal bukan orang baik-baik.”[6]

Diambil dari risalah:

الفَـوَائِدُ الْمُمْتَازَة

فِي بَيَانِ أَحْــكَامِ صَـلاَةِ الْجَنَازَة

جمع وترتيب

الحاج رزقي ذوالقرنين أصمت البتاوي

 

Jl. Tipar Cakung Rt.05/08 No:5

Kelurahan Cakung Barat Jakarta Timur

13910

By

H. Rizki Zulqornain Asmat Cakung

Khadimut Thalabah Majelis al-Muafah

 


[1] Imam Al-Bayhaqiy, Syua’b al-Iman hadis no: 9297, Imam al-Suyuthiy, al-Jami’ al-Kabir vol. 18, hadis no: 19826 (Beirut: Dar al-Kutub 2005) h. 424; Syaikh Ali al-Hindiy, Kanz al-Ummal Fi sunan al-Aqwal Wa al-Af’al vol. 15 hadis no: 42783 (Beirut: Dar al-Fikr 1996) h. 694.

[2] Riwayat Imam al-Bukhariy dalam kitab Shahihnya, hadis no: 1240.

[3] Riwayat Imam Muslim dalam kitab Shahihnya, hadis no: 1571.

[4] Syaikh Mu’min Ibn Hasan al-Syabalanjiy, Nur al-Abshar Fi Manaqib Ali Bait al-Nabi al-Mukhtar (Kairo: Mustafa al-Bab al-Halabi 1960) h. 209.

[5] Habib Ali Bin Hasan Baharun, al-Fawaid al-Mukhtarah Li Salik Thariq al-Akhirah (Tarim: Dar al-Ilm 2009) h. 565.

[6] Syaikh Abdul Hamid al-Syarawaniy, Hawasyiy al-Syarawaniy Ala Tuhfah al-Muhtaj vol. 3 (Beirut: Dar al-Fikr1996) h. 210.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s