Aqidatul Awam

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله يبدي ويعيد ذي العرش الْمجيد . وهو فعال لِما يريد . أمر عباده بالتوحيد . وحذرهم عقابه يوم الوعيد . وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له الولي الْحميد . وأشهد أن محمداً عبد الله ورسوله .  صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه

أولي الرأي الرشيد والقول السديد . والتابعين لهم بإحسان إلى يوم المزيد . وسلم تسليماً كثيراً . أما بعد:

Perlu diketahui, bahwa sesungguhnya ni’mat (karunia) Allah yang paling besar bagi ummat manusia adalah ni’mat Islam dan Iman. al-Habib Zainal Abidin mengatakan:

menebus haq ni’mat Islam yang Allah anugrahkan kepadanya dan haq Iman yang telah Allah berikan hidayah dan kecintaan dirinya kepada iman tersebut.[1]

Allah telah menjadikan kedua ni’mat tersebut sebagi sebab masuknya manusia ke dalam surga yang kekal di dalamnya. Juga menjadikan manusia selamat dari siksa abadi di neraka. Pendek kata, seseorang tidak berhak masuk surga tanpa memiliki Islam dan Iman.

Oleh karena itu, wajib atas setiap mukallaf, yakni setiap orang Islam yang berakal dan telah mencapai usia baligh (dewasa), untuk mempelajari rukun Islam dan rukun Iman.

Ilmu pengetahuan rukun Islam yang pertama ialah, mengetahui dan memahami arti dari dua kalimat Syahadat, dan itulah yang disebut ilmu Ushuluddin (prinsip-prinsip agama), atau sering disebut Ilmu Tauhid. Bahwa sesungguhnya wajib atas setiap mukallaf mengetahui sifat-sifat Allah yang wajib, sifat-sifat yang mustahil pada-Nya serta sifat yang jaiz (boleh) bagi-Nya. Dan wajib pula bagi setiap mukallaf mengetahui sifat-sifat yang wajib bagi para Nabi dan Rasul, juga yang mustahil dan yang jaiz bagi mereka. Kesemuanya itu termasuk dalam bingkai dua Kalimat Syahadat.

Adapun ilmu pengetahuan yang selain rukun Islam ialah ilmu fiqh. Maka wajib atas setiap orang mukallaf mempelajari dan mengetahui segala amalan yang wajib atasnya, seperti shalat, zakat, puasa dan lain sebagainya. Dengan alasan satu amalan tidak akan sah manakala tidak dibarengi dengan ilmu pengetahuan. Imam Ibn Ruslan mengatakan dalam kitab Zubadnya:

وَكُلُّ مَنْ بِغَيْرِ عِلْمٍ يَعْمَلُ * أَعْمَالُهُ مَرْدُوْدَةٌ لاَ تُقْبَلُ

Artinya:”Setiap siapa saja yang melakukan perbuatan tanpa ilmu, maka amal perbuatannya ditolak, tidak diterima.”

Rasulullah bersabda:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ .

Artinya:”Dari Anas Ibn Malik berkata: Rasulullah bersabda: “Menuntut ilmu hukumnya fardhu bagi setiap orang Islam.”[2]

Berdasarkan hadis ini, maka menuntut ilmu merupakan kewajiban setiap muslim, sehingga berdosalah orang yang tidak menuntut ilmu.

Tetapi, kewajiban yang pertama bagi manusia adalah Ma’rifatullah. Yakni mengetahui dan mengenal Allah dengan segala sifat-sifat-Nya, kemudian meyakininya dengan sepenuh iman. Imam Ibn Ruslan mengatakan:

أَوَّلُ وَاجِبٍ عَلَى اْلإِنْسَانِ * مَعْرِفَةُ اْلإِلَـهِ بِاسْتِيقَانِ

Artinya:”Kewajiban pertama bagi manusia adalah mengenal Allah dengan sepenuh keyakinan.”

Jika telah diketahui bahwa Ma’rifatullah itu wajib atas setiap mukallaf, maka selanjutnya ia harus mengetahui pula apa makna Ma’rifat. Yang dimaksud Ma’rifah adalah I’tiqad (keyakinan) yang Jazim (pasti) yang tidak ada keraguan padanya dan sesuai dengan yang haq berdasarkan dalil bukan berdasarkan sangkaan belaka. Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantaniy:

فَالْمَعْرِفَةُ جَزْمٌ مُطَابِقٌ لِلْوَاقِعِ نَاشِئٌ عَنْ دَلِيْلٍ

Artinya:”Ma’rifah adalah suatu keyakinan pasti yang sesuai dengan kenyataan dan muncul dari dalil.”[3]

Menurut mayoritas ulama sejak generasi Salafus Salih, Ahlus Sunnah Wa al-Jamaah adalah kelompok yang mengikuti ajaran Islam murni, seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Ahlus Sunnah Wa al-Jammah merupakan kelangsungan alamiah dari perjalanan sejarah Islam yang masih asli dan murni, yang pada gilirannya layak menjadi al-Firqah al-Najiyah (golongan yang selamat) di dunia dan akhirat.

Pada hakikatnya ajaran Nabi dan para sahabat tentang Aqidah itu sudah termaktub dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. Akan tatapi masih berserakan dan belum tersusun secara sistematis. Baru pada masa setelahnya, ada usaha dari ulama Ushuliddin yang besar yaitu Imam Abu al-Hasan al-Asy’ariy yang lahir di kota Bashra pada tahun 260 H dan wafat pada tahun 324 H, juga Imam Abu Manshur al-Maturidiy yang lahir di Maturid, Samarkhan, Uzbekistan dan wafat pada tahun 333H, Ilmu Tauhid dirumuskan secara sistematis agar mudah dipahami. kedua ulama tersebut menulis kitab-kitab yang cukup banyak. Imam al-Asy’ariy misalnya, menulis kitab al-Ibanah ‘An Ushul al-DiyanahMaqalat al-Islamiyyin dan lain-lain. Sedangkan Imam al-Maturidiy menulis kitab Kitab al-TauhidTa’wilat Ahl al-Sunnah dan lain-lain. Lantaran jasa yang besar dari kedua ulama tersebut, sehingga penyebutan Ahlus Sunnah Wal Jamaah selalu dikaitkan dengan kedua ulama tersebut. Dalam konteks ini Imam al-Hafizh Sayyid Murthadha al-Zabidiy mengatakan:

اِذَا اُطْلِقَ أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ فَالْمُرَادُ بِهِ اْلأَشَاعِرَةُ وَالْمَاتُرِيْدِيَّةُ .

Artinya:”Apabila Ahlus Sunnah Wa al-Jama’ah disebutkan, maka yang dimaksud adalah pengikut madzhab al-Asy’ariy dan al-Maturidiy.”[4]

Kata al-Jama’ah mengacu pada arti al-Sawad al-A’zham (mayoritas kaum muslimin), dengan arti bahwa Ahlus Sunnah Wa al-Jamaah adalah aliran yang diikuti oleh mayoritas kaum muslimin, sebagaimana ditegaskan oleh al-Hafizh Syaikh Abdullah al-Harariy berikut ini:

لِيُعْلَمْ اَنَّ أَهْلَ السُّنَّةِ هُمْ جُمْهُوْرُ اْلأُمَّةِ الْمُحَمَّدِيَّةِ وَهُمْ الصَّحَابَةُ وَمَنْ تَبِعَهُمْ فِي الْمُعْتَقَدِ اَيْ فِي أُصُوْلِ اْلاِعْتِقَادِ … وَالْجَمَاعَةُ هُمُ السَّوَادُ اْلأَعْظَمِ .

Artinya:”Hendaklah diketahui bahwa Ahlus Sunnah adalah Mayoritas ummat Muhammad. Mereka adalah para sahabat dan golongan yang mengikuti mereka dalam prinsip-prinsip aqidah… Sedangkan al-Jamaah adalah mayoritas terbesar kaum muslimin.”[5]

Pesantren-pesantren, madrasah-madrasah dan majelis-majelis ta’lim di Indonesia secara umum mengajarkan Ilmu Tauhid menurut rumusan Imam al-Asy’ariy dan Imam al-Maturidiy dengan menggunakan kitab-kitab yang lebih sederhana yang ditulis oleh para pengikut kedua Imam tersebut seperti kitab: Sifat 20 Habib UsmanQathrul Ghaits, al-Jawahir al-Kalamiyyahal-Aqaid Diniyyah, Hushunul Hamidiyyah, Tijan al-Darariy, al-Durrul Farid, Fathul Majid, Sirajul Mubtadi, Tashfiyatul Janan, Kifayah al-Awam, al-Jauharah al-Tauhid, al-Sanusiyyah, al-Syarqawiy Alal Hudhudiy, Ummul Barahin, Aqdatun Najin, al-Durrus Stamin dan lain-lainnya termasuk kitab Aqidatul Awam ini.

Biografi Sayyid ahmad al-Marzuqiy

Nama lengkap beliau adalah al-Imam al-Sayyid Abul Fauz Ahmad Ibn Muhammad Ibn Ramadhan Ibn Manshur al-Marzuqiy al-Hasaniy al-Malikiy al-Asy’ariy. beliau dilahirkan di Sinbath, nama distrik di Mesir, pada tahun 1205 H/1791 M. Perkembangan pendidikannya dimulai sejak beliau menghafal al-Qur’an pada masa kecilnya, sebagaimana halnya tradisi masyarakat Timur Tengah pada waktu itu. Kemudian dengan mempelajari ilmu-ilmu agama meliputi berbagai cabangnya seperti tafsir, hadis, fiqh, ushul fiqh, teologi dan lain-lain, dengan mengikuti perkuliahan ulama-ulama al-Azhar terkemuka pada waktu itu seperti Imam Abdullah Ibn Hijazi al-Syarqawiy, Imam Muhammad Ibn Ali al-Syannawiy dan lain sebagainya. Dalam bidang ilmu Qiraat, beliau diakui sebagai pakar terkemuka pada masanya dan memiliki jalur sanad yang paling dekat kepada Rasulullah dalam bidang Qiraat melalui gurunya, Imam al-Sayyid Ibrahim al-Ubaidiy, sehingga sanad beliau dalam bidang Qiraat diburu oleh para pecinta ilmu bacaan al-Qur’an di Timur Tengah hingga saat ini.

Kemudian beliau berkelana ke Makkah dan memutuskan untuk menetap di Tanah Suci tersebut bersama keluarganya. Pada tahun 1261 H/1845 M beliau diangkat sebagai mufti mazhab Maliki di Makkah menggantikan saudara beliau, Imam Muhammad al-Marzuqiy yang meninggal dunia pada waktu itu. Di Makkah, selain sebagai mufti bagi pengikut mazhab Maliki, aktifitasnya juga diisi dengan mengajar di Masjidil Haram, dengan materi berbagai studi keislaman seperti tafsir, hadis, fiqh, Qiraat dan lain-lain. Pada akhir hayatnya, beliau mengajarkan kitab Anwar al-Tanzil Wa Asrar al-Ta’wil, tafsir al-Qur’an yang sangat populer karya Imam al-Baidhawiy.

Di antara ulama terkemuka yang sempat menimba ilmu kepada beliau adalah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan W. 1304 H, Syaikh Ahmad Ibn Ali al-Hulwaniy W. 1307 H, Syaikh Ahmad Dahman W. 1345 H, Syaikh Thahir al-Takruniy dan lain-lain.

Beliau wafat di Makkah setelah tahun 1281 H/1864 M dan jasadnya dimakamkan di Ma’la. selain meninggalkan murid-murid yang menjadi ulama besar, beliu juga meninggalkan sejumlah karangan, antara lain: Bulugh al-Maram Li Bayan Maulid Sayyid al-AnamManzhumah Fi ‘Ishmah al-Anbiyaal-Fawaid al-marzuqiyyah Fi Syarh al-AjurrumiyyahBayan al-Ashl Fi Lafzhi Bafadhal, Tashilul Azhan Ala Matn Taqwim al-Lisan, Nazham Ilm al-Falak, Nazham Qawaid al-Sharaf Wa al-Nahw, Nazham Aqidatul Awam dan Syarhnya Tahshil Nail al-Maram.[1]

Perhatian para Ulama terhadap Nazham Aqidatul Awam sangat besar, hal ini ditandai dengan munculnya banyak kitab syarh (komentar) yang dikarang oleh para ulama di antaranya:

1 ) تحصيل نيل المرام في شرح عقيدة العوام

Karya Syaikh Ahmad al-Marzuqiy pemilik Nazham

2) نور الظلام شرح عقيدة العوام

Karya Syaikh Muhammad Nawawi Ibn Umar al-Bantaniy

3) تسهيل المرام لدارس عقيدة العوام

Karya Syaikh Ahmad al-Qath’aniy

4) نور الظلام شرح عقيدة العوام

Karya Syaikh Muhammad Ali BaAthiyyah al-Dau’aniy

5) شرح أركان الايمان لأمة الاسلام من عقيدة العوام

Karya Syaikh Umar Abdullah Kamil

6) جلاء الأفهام في شرح عقيدة العوام

Karya Syaikh Ihya Ulumiddin Suhariy yang merupakan salah satu murid kebanggaan Sayyid Muhammad Ibn Alawiy al-Malikiy

Adapun ulama yang memberikan terjemah dan penjelasan berbahasa indonesia adalah:

  1. K.H. Muhyiddin Abdus Shamad, dengan judul Aqidah Ahlus Sunnah Wa al-Jamaah Terjemah dan Syarh Aqidatul Awam.
  2. K.H Fadhlil an-Nadwiy, dengan judul Terjemah dan Syarh Aqidatul Awam.

Sebab Lahirnya Aqidatul Awam

Syaikh Muhammad Nawawi Ibn Umar al-Bantaniy menceritakan kisah menarik tentang asal usul Nazham Aqidatul Awam. Dikisahkan, bahwa Sayyid Ahmad al-Marzuqiy, penyusun Nazham Aqisatul Awam, pada penghujung malam Jum’at pertama, hari keenam di bulan Rajab tahun 1258 H, beliau bermimpi bertemu dengan Rasulullah yang dikelilingi para sahabatnya. Lalu Rasulullah berkata kepada Sayyid Ahmad al-Marzuqiy: “Bacalah Nazham Tauhid, yang siapa saja menghafalnya, maka ia akan masuk surga dan akan menggapai tujuan dari setiap kebaikan, yang sesuai dengan al-Qur’an dan Assunnah. Kemudian Sayyid Ahmad al-Marzuqiy bertanya kepada Rasulullah: “Apa saja bunyi Nazham itu Ya Rasulallah? Para sahabat yang mengelilingi Rasulullah berkata kepada Sayyid Ahmad al-Marzuqiy: “Dengarkanlah baik-baik apa yang dikatakan oleh Rasulullah” Rasulullah berkata katakanlah olehmu:

أَبْدَأُ بِسْمِ اللهِ وَالرَّحْمنِ * وَبِالرَّحِيْمِ دَائِمِ اْلإِحْسَانِ

sampai kepada nazham:

وَصُحُفُ الْخَلِيْلِ وَالْكَلِيْمِ * فِيْهَا كَلاَمُ الْحَكَمِ الْعَلِيْمِ

Ketika Sayyid Ahmad al-Marzuqiy terbangun dari tidurnya, beliau mencoba kembali apa yang telah beliau baca dalam mimpinya, maka beliau mampu mengingatnya mulai dari awal hingga akhir.

Di kemudian hari, tepatnya malam jum’at tanggal 28 Dzulqa’dah 1258 H, beliau bermimpi bertemu Rasulullah untuk yang kedua kalinya. Rasulullah berkata: “Bacalah nazham yang telah kau himpun di dalam hatimu.” Kemudian Sayyid Ahmad al-Marzuqiy membacanya dari awal hingga akhir, saat itu beliau berada di hadapan Rasulullah dan para sahabat berada pada sekeliling Rasulullah sambil mengucapkan Amin setelah selesai membaca tiap-tiap nazham. Setelah selesai Sayyid Ahmad al-Marzuqiy menyelesaikan bacaannya, Rasulullah berkata kepadanya dan mendokannnya:”

وَفَّقَكَ اللهُ تَعَالَى لِمَا يُرْضِيْهِ وَقَبِلَ مِنْكَ ذَالِكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَعَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ وَنَفَعَ بِهَا الْعِبَادَ . أَمِيْنَ .

Artinya:”Semoga Allah memberimu Taufiq kepada hal-hal yang menjadi Ridha-Nya dan menerimanya itu darimu dan memberkahi kamu dan segenap orang mukmin dan menjadikannya bermanfaat kepada Hamba hamba Allah. Amiin”.

Sayyid Ahmad al-Marzuqiy menyampaikan pengalaman mimpinya tersebut kepada orang banyak. Lalu mereka meminta agar beliau membacakan nazham yang pernah beliau baca dihadapan Rasulullah. Kemudian beliau membacakannya dan menambahkan dengan beberapa nazham sebagai penyempurna materi bahasan mulai dari bait:

وَكُلُّ مَا أَتَى بِهِ الرَّسُوْلُ * فَحَقُّهُ التَّسْلِيْمُ وَالْقَبُوْلُ 

Sampai akhir nazham Aqidatul Awam.

Demikianlah kisah singkat kronologi lahirnya Aqidatul Awam yang diceritakan sendiri oleh penyusunnya.[2]

alhamdulillah risalah ini telah selesai dicetak

penulis:

H. Rizki Zulqornain Asmat Cakung al-Batawi

 

[1] Khairuddin Zarkilliy, al-A’lam vol. 1 h. 247; Umar Kahhalah, Mu’jam al-Muallifin vol. 2 h. 102;

[2] Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantaniy, Nur al-Zhalam Syarh Aqidatul Awam (Semarang Thaha Putra) h, 2-3; Syaikh Muhammad Ihya Ulumiddin, Jalaul Afham Syarh Aqidatul Awam(Malang: Nurul Haramain) h. 10-11.

[1] al-Habib Zainal Abidin al-Alawiy, al-Ajwibah al-Ghaliyah Fi Aqidah al-Firqah al-Najiyah(Surabaya: Dar al-Ilm 2005) h. 8.

[2] Riwayat Imam Ibn Majah dalam kitab Sunan, hadis no: 220.

[3] Syaikh Muhammad Nawawi Ibn Umar al-Bantaniy, Tsimar al-Yani’ah Syarh al-Riyadh al-Badi’ah h. 4.

[4] Imam Muhammad Murtadha al-Zabidiy, Ithaf al-Sadah al-Muttaqin Syarh Ihya Ulum al-Din, vol. 2 (Beirut: Dar al-Fikr) h. 6.

[5] Syaikh Abdullah al-Harariy, Izhar al-Aqidah al-Sunniyyah Bi Syarh al-Aqidah al-Thahawiyyah, (Beirut: Dar al-Masyari’ 1997) h. 14.

Bagi yang ingin memiliki buku ini

dapat menghubungi Yayasan Al-Mu’afah di No:

0838-70500-223 atau 021-7143-4821

sebagian keuntungan penjualan buku ini akan diberikan untuk maslahat dan pengembangan Madrasah Diniyah Al-Mu’afah

Satu pemikiran pada “Aqidatul Awam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s